Notification

×

Iklan

Iklan

Narasi Optimis Pemerintah dan Liburan yang Salah Kaprah

Selasa, 24 Maret 2020 | 09.47.00 WIB
Foto: Penulis
Penyebaran virus corona (Covid-19) terus menjadi di seluruh dunia. Jumlah pengidap Covid-19 secara global semakin bertambah. Penyebaran Covid-19 melanda hampir seluruh dunia dan menular secara cepat mulai dari Asia, Timur Tengah, Eropa, hingga Benua Amerika.

Total negara yang mengonfirmasi terkena Covid-19 yaitu sejumlah 141 negara di dunia. Terlebih lagi negara Indonesia juga masuk dalam negara yang dikategorikan terjangkit Covid-19.

Pada tanggal 2 Maret 2020, Pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan bahwa dua WNI positif terpapar virus Covid-19. Keduanya menjadi kasus pertama yang dilaporkan di Indonesia. Hingga kini, terdapat 514 kasus virus corona dengan jumlah 48 orang dinyatakan meninggal dunia.

Penambahan kasus ini terjadi karena hasil dari yang sebelumnya terkena virus melakukan kontak dengan orang tidak terkena virus. Beberapa negara seperti Spanyol sudah mengumumkan lockdown. Sebelumnya negara Spanyol mengumumkan keadaan darurat. Dengan adanya peringatan lockdown tersebut, orang tidak bisa keluar untuk beraktivitas seperti biasa kecuali untuk keadaan darurat.

Berbeda dengan Indonesia, sebelum diumumkan lockdown pemerintah masih menutup-nutupi kasus ini. Bahkan, pemerintah menyarankan masyarakat untuk berdoa dan sholat istigosah bersama agar tidak terkena virus.

Sebelum wabah virus ini menyebar, pemerintah belum memberikan pencegahan atau penjagaan ketat terhadap bandara dan pelabuhan. Sehingga warga negara asing yang masuk ke Indonesia tidak diperiksa secara teliti. Kerap kali permasalahan yang sangat serius sering di abaikan pemerintah. Bahkan WHO sudah memperingatkan Indonesia agar waspada terhadap virus ini, akan tetapi masih saja dianggap enteng.

Faktanya bahwa kematian akibat virus ini rendah dan orang yang terkena sudah sembuh bukan jadi alasan untuk tidak bertindak lebih tanggap oleh pemerintah. Belajar dari pengalaman, dulu Indonesia pernah terkena wabah sindrom pernapasan akut parah (SARS) dan flu burung. Dengan adanya pengalaman menangani kasus tersebut, seharusnya pemerintah bisa lebih sigap menghadapi krisis wabah corona.

Seharusnya pemerintah memberikan informasi terkait wabah corona secara transparansi, agar masyarakat tidak kebingungan dengan adanya wabah ini. Dengan transaparansi yang dilakukan, dapat membangun kepercayaan dan optimisme di masyarakat. Seperti di negara Singapura dan Taiwan, kedua negara tersebut membuktikan bahwa transparansi itu menjadi sebuah kunci kesuksesan menangani penyebaran wabah. Transparansi data juga sangat penting karena akan meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap krisis wabah.

Wabah covid-19 yang telah menyerang Indonesia, hal tersebut membuat pemerintah harus mampu memberikan pencegahan yang lebih terhadap masyarakat. Karena kondisi saat ini sudah sangat mengkhawatirkan, sehingga menimbulkan kepanikan publik. Bahkan, kepanikan itu dimanfaatkan oleh segelintir orang seperti orang yang menimbun masker untuk dijual kepada orang yang membutuhkan.

Memang, kepanikan itu manusiawi tetapi kepanikan tersebut jangan sampai menimbulkan hal yang tidak rasional. Saat ini pemerintah belum mampu memberikan pencegahan yang lebih baik terhadap masyarakat karena saat ini sedang merajalela di berbagai daerah. Hal ini dapat dikatakan bahwa pencegahan yang dilakukan pemerintah tidak efektif.

Menindaklanjuti masuknya covid-19 di Indonesia, Presiden Jokowi telah mengeluarkan kebijakan bagi masyarakat untuk melakukan kegiatan di rumah. Hal tersebut dilakukan agar Covid-19 tidak tersebar luas. Selain itu, kegiatan yang berfsifat terbuka, tempat rame seperti sekolah, kampus, objek wisata juga sementara waktu ditutup. Pemerintah berharap masyarakat dapat melaksanakan social distancing dengan disiplin.

Social distancing ini bertujuan untuk meminimalisir orang melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain serta mengurangi penyebaran virus. Akan tetapi pada kenyataannya, masyarakat masih banyak yang tidak mematuhi arahan dari Presiden Jokowi, sebagain masyarakat masih bandel untuk melakukan kegiatan diluar rumah seperti tetap pergi ke mall, nongkrong, liburan, seolah tidak terjadi apa-apa di negara ini.

Perilaku tersebut mencerminkan bahwa kepedulian antar sesama itu kurang di masyarakat Indonesia. Kebijakan tersebut tidak sejalan dengan keinginan pemerintah.
Harapannya kita semua sadar bahwa kebijkan merupakan suatu solusi yang tepat agar Covid-19 tidak banyak menelan korban jiwa. Jangan sampai kita menjadi korban Covid-19 selanjutnya, marilah kita secara bersama mematuhi aturan yang telah disampaikan oleh Presiden tersebut, marilah kita menahan diri sejenak untuk tidak melakukan aktivitas yang tidak penting diluar rumah.

Libur yang diberikan pemerintah selama dua minggu bukan untuk senang-senang, namun libur tersebut merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi resiko bertambahnya korban jiwa dari Covid-19.

Penulis: Ellen Enggra Saputri (Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang).
×
Berita Terbaru Update