Notification

×

Iklan

Iklan

IDP: Kontradiksi, Defisit dan Populis

Jumat, 10 Januari 2020 | 15.40.00 WIB
Foto: Penulis
Salah satu isut hot beberapa hari ini " PAKARO", IDP dibuly habis oleh Netizen medsos karena mengucapkan kata " Pakaro" . Saya tertarik mengulas istilah ini dalam kontek relasi kekuasaan dengan Rakyat.

Istilah ini kontradiksi konteks jika diucapkan secara emosional dihadapan rakyat, tapi bisa dipahami jika ingin menjelaskan sesuatu informasi tetapi lawan sangat ngotot dan bahkan mengancam..

Dalam konstruksi logika beradu argumentasi ini disebut " Argumentum ad Hominem; Tidak boleh menyerang pribadi lawan siapun orang berdebat dengan kita, karena substansinya yang dibedah yaitu argumententasinya bukan
orangnya ( subyek)

Apa argumentasinya ketika Kata " Pakaro" diucapkan IDP? Adakah unsur emosional dan sensitifitas yang menyinggung perasaan IDP..

Karena IDP Pejabat Pemerintahan maka Istilah " PAKARO" Defisit nilai dari sudut pandang etika jabatan, Bupati berdialog denga Rakyat harus tetap menjaga ucapan dan tindakan yang tidak memancing komentar yang sinis, IDP terpancing pada saat dihadapkan kerumunan massa yang menghadang di jalan. Rakyat protes adalah bagian dari penyampaian aspirasi yang tetap harus dihormati oleh kekuasaan

Akhirnya populisme IDP menjadi paradoks ketika bahasa " Pakaro" sensitif menyinggung perasaan publik. Dalam derajat relasi kekuasaan dengan rakyat merupakan istilah yang antagonis dan bias substansi, karena Publik menangkap ucapan ini "" maaf identik dengan premanisme kekuasaan"

Sumbatan aspirasi rakyat dalam bentuk protes dapat dipahami karena kurang cepatnya pemerintah merespon, artinya lembaga pemerintah dianggap kurang mampu menjalankan fungsinya secara memuaskan akhirnya Rakyat menentukan sikap protes.

Dalam konteks demokratisasi di era virtual, populisme merupakan salah satu penanda kesadaran politik masyarakat yang makin tinggi. Sekaligus sebagai alarm bagi para elite politik bahwa mereka diawasi. partisipan populis umumnya dari khalayak yang melek gadget dan media sosial (digital natives)

Apa yang dibidik dari subjek sasaran? IDP di buly habis, Tidak lain terutama elemen afektif bergerak dan mengawasi kekuasaan IDP? Sentimen emosional publik merupakan sisi paling signifikan untuk untuk mendegradasikan popularitas IDP ?

IDP harus hati- hati jika tidak prudent dan memberikan solusi cepat maka publik menilai IDP gagal dalam menjalankan pemerintahan. Akhirnya popularitas IDP tergelincir dalam rana medsos yang ekslusive untuk dimaki dan di buly.

Akhirnya publik menilai gaya komunikasi IDP dapat merugikam diri sendiri, disinilah pentingnya kecerdasan emosional pemimpin.

Penulis: Ikhwan Sirajuddin
×
Berita Terbaru Update