Notification

×

Iklan

Iklan

Miris! Dibalik Pengunduran Diri 21 Peserta PKH di Sangiang Ada Fakta Mencengangkan

Sabtu, 07 Desember 2019 | 15.09.00 WIB
Deklarasi Pengunduran diri 21 Peserta PKH Sangiang bersama BPD Sangiang dan Pendamping PKH di Kantor Desa Sangiang (Foto: Incinews).
Indikatorntb.com - Sebanyak 21 warga desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima peserta Program Keluarga Harapan (PKH) mendeklarasikan pengunduran diri dengan menandatangani surat pernyataan di Kantor Pemerintah Desa Sangiang mengungkap fakta baru, diantaranya 4 masyarakat tidak pernah mau untuk mengundurkan diri, mereka dipanggil kemudian diminta untuk menandatangani surat yang isinya tidak sempat mereka baca, Sabtu (07/12/19).

Deklarasi pengunduran diri 21 peserta PKH desa Sangiang tersebut, disaksikan langsung oleh BPD Sangiang di dampingi oleh Pendamping PKH. 

Dalam keterangannya, Jokomalis selaku TKSK Wera mengatakan bahwa, pengunduran diri 21 masyarakat peserta PKH tersebut, tanpa ada paksaan dari pihak manapun.

"Mereka mengundurkan diri tanpa paksaan dari siapapun”, katanya dilansir dari Incinews, Jumat (06/12).

Lebih lanjut, Jokomalis menjelaskan bahwa pengunduran diri para peserta tersebut, atas dasar keinginan para peserta karena merasa cukup atau sudah mampu, sehingga tidak membutuhkan bantuan dari program PKH.

"Salah satu KPM PKH, Erwida Subandi misalnya, mengundurkan diri karena ekonominya meninkat dan bisa mandiri, hingga sekarang sudah memiliki usaha yakni menjadi Agen Briling Bank BRI", terang Jokomalis dilansir dari Incinews.

Sementara itu, Dra. Nurlailah selaku Pendamping PKH untuk KPM Desa Sangiang, Ranggasolo dan Tawali Kecamatan Wera, menjelaskan bahwa beberapa alasan peserta mengundurkan diri karena sudah mampu mendaftar haji juga telah menjadi anggota BPD.

“Ada juga yang sudah menjadi anggota BPD serta ada sejumlah yang usahanya maju berkat bantuan PKH ini,” katanya Jum’at (6/12).

Namun beberapa pernyataan diatas sepertinya bertentangan dengan kenyataan yang terjadi, salah satu pemuda desa Sangiang berinisiatif untuk mencari tahu kebenaran informasi dan peristiwa tersebut dengan mendatangi 4 orang yang diberitakan telah mengundurkan diri.

Dalam proses mencari tahu kebenaran tentang keikutsertaan 4 peserta dalam deklarasi pengunduran diri tersebut, pemuda berinisial J ini merekam seluruh percakan dan wawancaranya dengan video.

"Ia tadi saya rekam semua dengan video," Kata J kepada media ini.

Dalam 4 video dengan durasi rata-rata 1 menit yang dikirim secara terpisah oleh J kepada media ini, ke 4 peserta yang terlibat dalam proses deklarasi penngunduran diri tersebut, mengaku tidak tahu menau tentang apa yang sedang terjadi.

Foto: Screenshot 4 file video yang dikirim kepada media ini.
Mereka tiba-tiba dipanggil dengan alasan rapat (Mbolo bahasa Bima), oleh pendamping PKH di kantor Pemerintah Desa Sangiang. Sesampainya mereka di kantor Pemerintah desa Sangiang, nama mereka dipanggil satu per satu lalu disodorkan sebuah surat yang isinya mereka tidak pernah tahu. Mereka disuruh untuk menandatangani surat tersebut lalu diajak foto bersama dengan poses memegang sebuah surat.

"Saya baru pulang dari Bima, lalu saya disuruh ke kantor desa untuk rapat. sesampainya saya disana saya disodorkan surat dan disuruh tanda tangan. saya nggak tahu itu surat apa, saya disuruh tanda tangan ya saya tanda tanga," Kata salah satu peserta yang tidak mau disebutkan namanya ini.

Peserta yang lain yang juga tidak mau disebutkan namanya mengatakan  hal serupa, bahwa dirinya tidak tau menau tentang isi surat itu. ia dipanggil untuk hadir di kantor Desa Sangiang lalu diminta untuk menandatangani surat yang disodorkan.

"Tanda tangan surat diatas materai, saya bilang tanda tangani saja nggak apa-apa, tapi mereka bilang harus saya yang tanda tangan. Bohong kalau kami sudah merasa mampu. itu menurut mereka saja," Tuturnya dalam video yang berdurasi 1.37 menit tersebut.

Ketika ditanya, apakah dirinya sudah tidak membutuhkan bantuan dari program PKH, peserta ini mengaku masih sangat membutuhkan bantuan tersebut.

"Kenapa enggak, saya membutuhkan uang," Ungkapnya.

Sementara peserta yang lain mengaku tidak pernah mau mengundurkan diri. Menurutnya, dirinya bersama peserta yang lain dikeluarkan secara sepihak berdasarkan keinginan pihak tertentu, bukan mengundurkan diri.

"Kita semua dikeluarkan oleh orang, kami dipanggil untuk menandatangani surat setelah nama kami dipanggil satu-satu," Jelasnya.

Salah satu peserta lagi mengungkapkan hal yang cukup mencengangkan, bahwa meskipun mereka sudah tidak terdaftar sebagai peserta PKH, selama ini buku tabungan dan ATM mereka masih di tangan pendamping PKH. Jarang berada di tangan mereka, bahkan sesekali dipegang, buku tabungan dan ATM sebagai alat penyaluran bantuan tersebut, kadang diminta kembali.

"Enggak, kalau pun dikasih ya diminta kembali," Ujarnya.

Sampai dengan berita ini ditulis, media ini masih berupaya untuk meminta klarifikasi kepada TSKS dan pendamping Desa yang mendamping para peserta PKH di desa Sangiang.

Furkan/Indikatorntb
×
Berita Terbaru Update