Notification

×

Iklan

Iklan

Kami Diasingkan di Bangsa Sendiri

Selasa, 10 September 2019 | 14.30.00 WIB
Foto: Penulis
Kemerdekan Bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 sebagai pembatas zaman penjajah dengan hari lahirnya Negara Republik Indoensia sebagai Bangsa yang berdikari.

Tapi nyatanya kami sebagai generasi masih diasingkan, dikucilkan, dimarjinalkan bahkan kami kelaparan dirumah sendiri layaknya diwaktu itu.

Katanya Negara ini sudah merdeka tapi masih jauh dari harapan. Pergantian pemimpin belum bisa memberikan solusi atas Bangsa yang katanya Bangsa ini adalah Bangsa yang besar.

Berkali-kali kita mengganti pemimpin-pemimpin, dari mulai presiden sampai kepala desa dengan setumpuk harapan yang masih menumpuk diruang kerja mereka.

Oh Bangsa ku.
Oh Negarau.
Permasalahan datang silih berganti, tapi kita masih bersaing untuk saling membunuh siapa yang layak memipin Bangsa ini, sedangkan kita tidak sadar bahwa Bangsa luar sedang mengenggam Nasib kita, Bangsa dan Nasib Negara Indonesia.

Harapan terus bermunculan seiring dengan bergantinya generasi, tapi para pemimpin tidak pernah memikirkan solusi untuk kelanjutan Bangsa, yang mereka fikirkan bagaima mereka bisa berkuasa.

Persaingan politik yang terus berkelanjutan, persaingan ekonomi, persaingan Agama yang terus membabi buta dan pesaingan pengakuan yang terus memecah belah Budaya, adat dan daerah yang tidak pernah absen dikehidupan kita.

Teriakan dipelosok negeri terus menggelora, rintihan para korban atas berkelanjutan demokrasi masih terdengar sangat jelas.

Kasus pembunuhan Marsinah, Wijik Tukul, Munir, Novel Basweda, kasus lumpur lapindo, kasus pengucilan saudaran kita di Papua dan kasus kabut asap dikalimatan yang tidak diindahkan oleh pemerintah saat ini.

Media yang menjadi harapan rakyat Indonesia justru berpihak kepada penguasa. Semuanya tertutup dengan pesoalan pindahnya Ibu kota dan pesoalan tidur dengan lawan jenis yang belum menikah itu haram atau tidak.

Sampai kapan para pemimpin Bangsa dan pemimpin Negara kita lebih serius mengrus pesoalan yang terjadi?

Semoga tanggal 17 Agusutus tahun depan masih bisa merayakan hari kemerdekaan dengan mengatas namakan "Negara Kesatuan Republik Indonesia".

Penulis: Syahrul Ramadhan Al Faruq
×
Berita Terbaru Update