Notification

×

Iklan

Iklan

Generasi Politik Amatiran

Rabu, 04 September 2019 | 18.55.00 WIB
Foto: Penulis
Melihat fenomena akhir-akhir ini banyak generasi yang terlibat dalam dunia politik praktis, bahkan mereka menawarkan diri untuk sebuah pengabdian dan gagasan untuk sebuah perubahan kepada masyarakat, katanya. Hal ini adalah wajar dilakukan dan sangat baik bagi pribadi yang memiliki akhlak dan kepribadian yang baik.

Sekitar sepuluh tahun silam, hanya orang-orang yang memeliki legitimasi yang berani berpolitik, tapi dewasa ini sudah ada pergeseran dalam kehidupan bermasyarakat.

Dulu hanya orang yang memiliki intelektual tinggi, yang berani menawarkan diri dengan cara memonopoli kepercayaan masyarakat.

Seandainya generasi dan orang tua saat ini mampu melihat porsinya (Standar) masing-masing tidak akan seperti ini kehidupan berpolitik yang ada di daerah Bima saat ini.

Yang bergelut dalam dunia kesehatan, harus fokus dengan bidangnya. Yang mendalami didunia agama, harus fokus untuk membangun nilai-nilai keagamaan. Yang mengajar dalam dunia pendidikan, dia harus memikirkan bagaimana kelanjutan sebuah daerah, bangsa dan Negara, maupun yang terlanjur bergelut disebuah kerja proyek (semacam infrastruktur) maka tidak bisa bicara pemberdayaan masyarakat.

Kita melihat generasi Bima saat ini, mereka sangat tergiur dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dengan alasan sebagai tempat pengabdian.

Dalam dunia politik tidak hanya mental yang kuat yang dibutuhkan, tapi stratak, konsep dan gagasan baru yang ditawarkan. Hal ini hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki pengalaman organisasi, baik organisasi politik maupun organisasi kepemudaan dan organisasi kemasyarakatan. Orang seperti ini tidak membutuhkan waktu panjang untuk bicara pembangunan dan pemberdayaan, karena soal kepemimpinan dalam memimpin masyarakat banyak era modern ini sudah tidak ada waktu untuk belajar, tetapi waktunya menerapkan dan merealisasikan apa yang telah dipelajari.

Jika kita hanya memodalkan karena ditunjuk, didesak, melanjutkan dan atau melihat sebagai lahan basah untuk memenuhi kehidupan setiap harinya.

Jangan harap ada perubahan didalamnya kalau seorang politisi hanya mengandalkan jasa, ya mungkin karena ia sering berlaku baik dan ringan tangan kepada pemuda yang misalnya hanya membutuhkan sebatang rokok atau mungkin sering terlibat dalam mengisi kekurangan orang lain atau kelompoknya, maka modal itu tidak cukup untuk membangun dan memberdayakan masyarakat, karena bicara soal pembangunan dan pemberdayaan memang butuh konsep dan ide/gagasan maupun stetegi yang matang yang bisa diterima oleh masyarakat.

Jangankan bicara perubahan, yang dikatakan pengabdian akan hancur berantakan jika tidak ada persiapan yang matang yaitu konsep pembangunan dan pemberdayaan masyarakat tersebut.

Bukan saya melarang Kaum agamis dan kaum kedokteran, akademisi atau seorang pengusaha bangunan, atau seorang pekerja proyek untuk ikut andil dalam politik, yang saya khawatirkan adalah ketika kalian belum siap menerima kenyataaan dalam dunia politik.

Teruslah berjalan dan mengabdi dalam profesimu, teruslah siarkan ilmu agama, teruslah berjasa pada orang banyak dalam pekerjaan mu dan teruslah mendidik generasi dengan keahlianmu jika pada dasarnya pengabdian sebagai argumentasimu untuk berpolitik, syukur kalau misalkan bisa pengabdian itu dilakukan kepada masyarakat yang lebih luas melalui sebuah kepemimpinan.

Ada sebenarnya yang lebih pantas, yang memiliki segudang ide dan gagasan, dalam konsepnya yang matang dan memiliki kepribadian yang baik untuk menjadi pemimpin orang banyak, jiwa dan pemikiran seperti ini sekali lagi saya katakan ada dalam jiwa pemuda yang pernah dididik orang tua dan dididik dalam dunia pendidikan formal maupun non formal dan orang tersebut tidak jauh dari masyarakat.

Penulis: Syahrul Ramadhan Al Faruq
×
Berita Terbaru Update