Notification

×

Iklan

Iklan

PILKADES : Parade Penyakit Masyarakat

Rabu, 07 Agustus 2019 | 07.05.00 WIB
Foto: Penulis
Menjelang pilkades, konsekuensi negatif dari sebuah demokrasi mulai terlihat. Berbagai macam isu (maupun kenyataan) yang ditujukan kepada salah satu calon untuk melemahkan suara, mulai marak terjadi di desa-desa. Mirisnya lagi, hal tersebut menjadi dinamika partisipasi yang dilakukan oleh para pemuda, khususnya. Padahal, potret pembangunan desa menjadi fokus dan harapan baru bagi para pemuda untuk memberikan kontribusi positif dengan beragam inisiatif perubahan sosial, bukan menyuguhkan hujatan ataupun komentar menjatuhkan salah satu calon yang sedang bergerilya ingin memaparkan tujuan perubahan dalam suatu pembangunan desa. Namun tidak bisa dipungkiri, kenyataannya memang seperti itu yang terjadi.

Tidak hanya itu, upaya yang dilakukan salah satu pihak calon untuk menjatuhkan calon lainnya pun masih dengan aspek negatif lain, seperti adanya serangan fajar dari sudut-sudut rumah yang diterima mentah-mentah dan begitu saja oleh masyarakat sebagai prasyarat terpilihnya ia menjadi kepala desa dengan janji-janji yang entah kemana arahnya. Tidak heran, calon seperti ini jika nanti terpilih tidak akan mampu dengan tulus berjuang untuk kemajuan desa apalagi memberikan sumbangsih lebih untuk mengubah pola pikir masyarakat mengenai hidup yang aman, damai dan bersahaja.

Strategi dan kemasan cantik yang digunakan mengelabuhi pendukung salah satu calon tidak hanya sampai disitu. Di zaman modernisasi, ternyata hal-hal mistis pun masih berkeliaran hangat di dalam jiwa masyarakat saat ini. Memang, parade penyakit masyarakat akan muncul seketika menjelang kontestasi pemilihan umum, khususnya pilkades. Dengan berbagai macam cara yang digunakan tentu tidak akan memberikan dampak positif bagi calon yang melakukan berbagai kecurangan untuk mengubah lingkup desa menjadi lebih baik.

Saat ini, pemerintah tengah gencar melakukan pembangunan cepat melalui dana desa. Peluang dan kesempatan banyak dimiliki oleh pemuda sebagai pelopor pembangun desa. Namun semua itu akan terbuang begitu saja, jika pemimpinnya tidak berkompeten dan tidak memiliki pemuda serta masyarakat yang cerdas dalam menentukan pilihan.

Seharusnya, menjelang pilkades seperti ini yang perlu ditekankan adalah bagaimana menyuguhkan visi misi yang nantinya bisa diwujudkan bersama dengan masyarakat, memberikan kontribusi bagi pemuda untuk melek digital di zaman digitalisasi, dan membawa aura positif masyarakat dengan pendekatan yang signifikan dengan tujuan-tujuan pembangunan desa yang jelas, bukan malah bersaing untuk melemahkan dengan menghujat dan mencemooh visi misi yang dipaparkan oleh salah satu calon dan berbagai macam hal-hal negatif lainnya.

Salah satu poin yang paling krusial dalam pembahasan RUU Desa adalah mengenai alokasi anggaran untuk desa. Pemerintah melalui Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) mempunyai program yang diprioritaskan yakni Produk Unggulan Kawasan Pedesaan (Prukades), Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), Pembuatan Embung dan sarana olahraga Desa. Dari ke empat program ini, kerjasama yang baik antara pemimpin dan jajarannya beserta masyarakat akan menjadi poin plus menjadikan desa yang bermajuan di bidang yang beraneka ragam. Namun kembali lagi, hanya pemimpin yang bijaksana dan berjuang ikhlas sepenuh hati yang bisa menggerakkan jiwa masyarakat mengarungi berbagai macam proyek besar yang perlu digarap.

Pemimpin yang berkompeten dalam bidangnya akan mengarahkan masyarakat menjadi masyarakat yang cerdas di semua lini. Dengan begitu, pemimpin seperti apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini ?

Zaman Berubah

Jika dahulu, memilih seorang pemimpin cenderung dengan menitikberatkan pada sisi-sisi negatif terpilihnya ia menjadi kades semisal fitnah, money politik, dan hal-hal mistis semacamnya. Maka seharusnya, di zaman sekarang, semua itu sudah menjadi suguhan basi yang tak perlu lagi diperlihatkan.

Menjadi masyarakat yang cerdas dalam memilih, mengedepankan pemimpin yang punya visi dan misi yang terarah jelas arah bermuaranya, memberikan kontribusi dan pendekatan yang tulus dan ikhlas kepada masyarakat, dan berkompeten di bidangnya, menjadi tonggak berdiri kokohnya desa yang bermartabat. Semua kemampuan itu yang nanti akhirnya akan mengarahkan pembangunan desa ke arah yang lebih baik.

Keterlibatan masyarakat dalam semua pembangunan desa yang akan menggebrak pemikiran sempit orang-orang anarkis yang mengedepankan egonya. Jadi, tak perlu melulu ikut-ikutan dengan trend percaya bahwa semua visi misi yang dipaparkan oleh salah satu calon seperti mimpi yang nyatanya masih perlu dipertanyakan, karena visi misi adalah bukti arah dan tujuan yang merupakan target-target bagaimana desa tersebut akan dikembangkan. Sehingga masyarakat yang cerdas walaupun beda pilihan harus tetap mengedepankan sikap saling menghargai, jangan jadi orang Jawa sing wis ora njawani itu terbukti jelas dalam parade penyakit masyarakat yang selalu membludak pada kontestasi pilkades seperti saat ini.
Maka jadilah komunikan yang cerdas dan baik dengan tidak menerima segala informasi yang datang secara mentah dan tak bermakna, dan juga jadilah komunikator yang mampu memberikan ujaran yang bisa dipertanggung jawabkan sisi konteks kalimatnya. Hal tersebut yang nantinya akan menjadi momok hebat masyarakat modernitas yang perlu dilejitkan lagi kevakumannya.

Dampak Teknologi

Pemimpin yang melek teknologi akan dikatakan pemimpin yang bergerilya di zamannya. Sebagai sosok panutan di lingkup masyarakat, keberterimaan ia di dalam kapasitas masyarakat yang beraneka ragam sangat dibutuhkan, bagaimana nantinya membawa seluruh masyarakat mencari jalan temu dalam kehidupannya ke arah yang positif. Dengan teknologi yang semakin canggih, segala aspek bisa ditekuni oleh nurani yang memang niat berubah dan berkembang di zamannya.

Zaman digitalisasi saat ini, berpindahnya perilaku korupsi dari masyarakat urban ke masyarakat rural terjadi karena mereka memiliki pemimpin yang tidak mempunyai kompetensi berupa manajemen keuangan dan pengetahuan mengenai proses pembukuan keuangan yang baik, sehingga pemimpin dengan keahlian yang dimiliki berhubungan dengan multimedia akan bisa memberikan penawaran kesempatan komunikasi masyarakat melalui website pelayanan masyarakat yang bisa dipantau secara langsung oleh semua pihak.

Dengan permasalahan yang begitu kompleks mengenai berbagai macam cara yang dilakukan menjelang pemilihan kades, tindakan pemerintah yang menghasilkan pola top down melalui paradigma pembangunan pertumbuhan (growth paradigm) dan pembangunan pemerataan (generalization paradigm) yang selama ini tidak bisa mengubah angka kemiskinan di desa secara signifikan (Yansen TP, 2014:9) bisa digerakkan dengan menciptakan suasana pemilihan kades yang bersih, cerdas dan mengedepankan aspek keikhlasan dalam perjuangan.

Dengan begitu, berbagai macam keuangan yang telah turun dari pemerintah pusat menjadi wewenang dana desa bisa terealisasi dengan baik, pembangunan terarah dengan maksimal, dan mempunyai masyarakat yang tidak berpikiran minimalis.

Penulis: Wafiqotin Nazihah
×
Berita Terbaru Update