Notification

×

Iklan

Iklan

LASKAR LA KA'I; Film Dilan 1991 Merusak Moralitas Bangsa

Kamis, 14 Maret 2019 | 23.24.00 WIB

Foto: Masa Aksi Laskar la Ka'i

Indikatorntb.com Beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Laskar La Ka'i melakukan aksi di Perempatan Lampu Merah Gunung II, Kota Bima terkait dengan adanya penyiaran film Dilan 1991 di seluruh bioskop se-Indonesia. Bima, 14 maret 2019

Aksi yang dipimpin oleh Asrin selaku Korlap ini adalah aksi damai atas dasar panggilan nurani dan tanggung jawab moral di kalangan mahasiswa dalam melihat dan merespon kondisi kebangsaan saat ini.

Tertanggal 28 Februari sampai 04 Maret 2019 aksi unjuk rasa masalah yang sama juga pernah dilakukan di berbagai Mall yang ada di Kota Makassar oleh Aliansi Organisasi Peduli Bangsa, yang sebelumnya memasukkan surat SOMASI tentang Gambaran beberapa Dasar Hukum Penolakan Film Dilan 1991 untuk di siarkan ke seluruh bioskop yang ada di Indonesia namun dinilai pihak penyiar selaku manager tidak mengindahkan surat somasi yang dimaksud dengan tetap ditayangkannya film Dilan 1991 ini pada pukul 11.00 di Mall Mari, Mall Panakkukang, MTOS, dan TSM. Aksi ini dilakukan dengan upaya penyegelan tempat penyiaran yang dikenal dengan sebutan lain salah satunya XXI.

Sementara itu, Pimpinan Laskar La Ka'i Nisa-Ntara, Muaidin dalam orasinya menyampaikan bahwa aksi ini adalah aksi kampanye isu yang berorientasi pada kesadaran seluruh masyarakat Kota dan Kab. Bima akan dampak film Dilan 1991 jika tetap di siarkan.

Bersandar pada Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia No. 4 Tahun 2014 tentang perubahan keenam atas peraturan menteri kebudayaan dan pariwisata No. PM.55/PW.204/MKP/2008 tentang pemanfaatan jasa teknik film naisonal serta penggandaan film impor, UU No. 33 Tahun 2009 Tentang Perfilman (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 141), Peraturan pemerintah Nomor 7 Tahun 1994 Tentang Lembaga Sensor Film, Surat keputusan menteri penerangan Nomor 215/KEP/MENPEN/1994 tentang ketentuan dan tata cara penyelenggaraan usaha perfilman sebagaimana telah diubah dengan surat keputusan menteri penerangan Nomor 21A/KEP/MENPEN/1998 menilai bahwa pada Film Dilan 1991 sama sekali tidak memberikan edukasi dan penyadaran etik serta moral bagi generasi muda.


Ada banyak konten negatif yang merusak cara berpikir pelajar dan menurut hasil pengkajian Laskar La Ka'i bahwa itu semacam desain yang dengan sengaja untuk menggiring dan merubah "mindset" berpikir generasi muda khususnya pelajar sehingga menganggap tindakan-tindakan mesum memakai seragam sekolah, perkelahian, dan perilaku kurangajar terhadap guru pada saat kegiatan belajar mengajar (KBM) dianggap lumrah.

Pemuda sebagai tulang punggung bangsa, seyogyanya harus diberikan edukasi dan arahkan pada satu orientasi masa depan yang lebih cerah untuk menopang standard kompetensi etik dan moral sebagai wajah dan karakter bangsa Indonesia.

Harapannya, Menteri Pendidikan Kebudayaan dan Pariwisata bisa intens bekerja sama dengan Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia terlebih melakukan evaluasi agar film-film yang ditayangkan mempunyai nilai yang mendidik, penguatan etika, dan moral.  Bukan sebaliknya mempertontonkan hal-hal yang berpotensi dalam merusak moralitas bangsa seperti halnya Film Dilan 1991.

Menutup Orasinya pimpinan Laskar La Ka'i menyampaikan pernyataan sikap di antaranya:
Pertama, mendesak semua pihak yang berwenang dalam pemutaran Film Dilan 1991 untuk menghentikan penayangan di semua bioskop se-Indonesia karena konten di dalamnya memiliki efek buruk bagi remaja yang labil dan cenderung penasaran serta ikut-ikutan.

Kedua, mendesak pihak pengelola Mall se-Indonesia untuk mencabut izin XXI karna dianggap ikut andil dalam menyiarkan dan menyebarkan pengaruh-pengaruh negatif melalui film-film yang ditayangkan dan lebih mementingkan keuntungan bisnis daripada mencegah pengaruh negatif bagi pemikiran generasi bangsa.

Ketiga, mendesak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Pariwisata untuk mengevaluasi kinerja Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia.

Keempat, meminta DPR-RI, Komisi I (Satu) mendesak semua pihak untuk memenuhi tuntutan Poin (1, 2 dan 3).

Penulis: Muaidin
×
Berita Terbaru Update