Notification

×

Iklan

Iklan

Pilpres Pemersatu Bangsa?

Jumat, 09 November 2018 | 08.20.00 WIB
Oleh : Shofy Maulida Fatihah
Foto : Shofy Maulida Fatihah Mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Malang
Hal yang terjadi di masyarakat justru bukan semangat persatuan. Kenyataannya mereka ada di bawah dua kubu yang berbeda.

Indonesia adalah bangsa yang beragam. Bangsa yang dikenal sebagai bangsa majemuk ditandai dengan banyaknya etnik, suku, agama, bahasa, dan budaya. 

Keberagaman tersebut akan lebih berkembang jika mampu dipimpin dan diarahkan dengan tepat melalui semangat persatuan.

Sebagaimana yang termaktub dalam dasar negara kita sila ke-3 Pancasila, yakni “Persatuan Indonesia” dan juga semboyan bangsa Indonesia yang “Bhineka Tunggal Ika”.

Fenomena yang akhir – akhir ini terjadi di masyarakat justru bukanlah membangun semangat persatuan dalam bungkus keberagaman. Benar saja, nyataannya saat ini masyarakat Indonesia seakan-akan berada di bawah dua kubu yang berbeda. Hal ini terlihat dari berbagai macam perselisihan yang sudah terjadi.

Bermula dari deklarasi dalam setiap kubu, publik merasa dikejutkan dengan munculya nama K.H Ma’ruf Amin dan Sandiago Uno yang akan mendampingi Jokowi maupun Prabowo.

Suhu politik jelang pemilihan Presiden kian memanas. Dimana banyak sekali dinamika yang terjadi seperti melontarkan isu lewat media-media yang bertujuan untuk saling menekan lawan. Mulai dari Jokowi yang ditekan dengan isu utang pemerintah.

Prabowo Subianto mengatakan utang pemerintah saat ini terus meningkat. Hal ini menurutnya sangat membahayakan masa depan bangsa. Selain isu utang pemerintah, isu tentang maraknya tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia juga pernah disindir oleh Prabowo Subianto.

Sementara Prabowo diserang dengan isu masa lalunya. Sekjen PDIP Hasto Kristyanto, misalnya, mengatakan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto hanya bisa menggunakan kritik sebagai senjata untuk menyerang di Pemilu 2019. Isu mahar Sandiago Uno yang mengeluarkan uang Rp. 1 Triliun agar menjadi Cawapres Prabowo diyakini akan menjadi isu untuk menyerang Prabowo.

Bahkan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristyanto dalam pidatonya saat menjadi inspektur upacara HUT RI sempat menyinggung.

Tidak hanya itu, di Jawa Timur, viral video sejumlah orang menggunakan kaos dengan tagar #2019gantipresiden dirazia dan dipaksa untuk dilepas. Sejumlah aparat berseragam pun terlibat merazia kaos #2019gantipresiden.

Tidak hanya kaos, tapi juga spanduk. Tidak kalah hebohnya, Farhat Abbas berceloteh di Instragamnya : "Yang pilih Jokowi masuk surga, yang tak pilih Jokowi masuk neraka". 

Hingga akhirnya memunculkan pandangan publik terhadap media yang seoalah-olah ada keberpihakan media pada pasangan calon tertentu.

Tak hanya itu saling adu tagar lewat media sosial dan semakin meningkatnya pengaruh penggunaan media sosial, seperti Instagram dan Twitter yang membuat warna dalam dinamika ini menjadi menarik untuk selalu diikuti perkembangannya.

Akan tetapi, dibalik warna baru dalam pertarungan politik ini ada satu hal yang menjadi kegundahan. Faktor penyebab kegundahan ini adalah semakin lunturnya semangat persatuan dan kesatuan dalam memikirkan kemajuan bangsa.

Faktanya hanyalah egosentris dalam mempertahankan argumen masing-masing, setiap kubu menganggap kelompoknya benar hingga akhirnya munculah konflik perpecahan yang tidak mencerminkan jiwa luhur perangai Bangsa Indonesia yang katanya “Walau Berbeda Tetap Satu Jua”. 

Kefanatikan dalam mengidolakan sosoknya masing-masing ialah hal utama yang memicu suatu konflik terjadi, sehingga apa yang dilontarkan dari pihak lawan membuat mereka yang fanatik menjadi anarkis.

Sebagai bangsa yang sudah 73 tahun merdeka, harusnya masyarakat Indonesia juga sudah mampu untuk berfikir dewasa dalam berdemokrasi. Memawas diri terhadap kekurangan yang ada untuk memperbaiki agar calon pemimpin yang mereka perjuangkan dapat terlihat sempurna dihadapan rakyat Indonesia, sehingga PEMILU yang baik, aman 
dan tentram akan terwujud di negeri ini. 

Bukannya malah saling membela dan berselisih hingga selalu mengelu-elukan bahwa sosok merekalah yang paling benar.

Sudah seyogyanya PEMILU ini menjadi momentum bagi kontestan politik untuk beradu gagasan terbaik bagi perubahan dan kemajuan bangsa tanpa saling menjatuhkan moral masing-masing kubu agar terciptanya suguhan pesta demokrasi yang berkesan dihati rakyat, sehingga bagaimanapun hasil akhir dalam pemilu nanti mampu terlegitimasi dimata publik.

Pada akhirnya, berbicara terkait tahun politik 2019 adalah hal yang tak ada habisnya untuk dibahas. Karena dinamika politik itu ibarat seorang wanita, yang sulit ditebak yang alurnya tak mampu kita terka. Ada yang ketika matahari terbit menjadi kawan dan begitu matahari sudah terbenam malah menjadi lawan. 

Seperti itulah menariknya dinamika politik, sehingga bagaimana perkembangan dinamika ditahun politik ini sangat menarik untuk selalu diikuti untuk dapat melihat kira-kira akan ada kejutan apa kedepannya.

Yang terpenting sebagai masyarakat yang telah dewasa dalam berfikir, jangan sampai mudah tersulut dan terpropaganda oleh pengaruh opini publik yang dapat menimbulkan perpecahan dalam tahun politik ini. 

Semangat persatuan tetaplah harus menjadi spirit dalam berdemokrasi agar oknum-oknum tak bertanggung jawab yang ingin memecah belah bangsa tidak akan berhasil sampai kapanpun. Karena PILPRES 2019 sangat menarik untuk diikuti jika prosesnya mampu menjadi hal yang menyatukan bangsa.

Penulis : Shofy Maulida Fatihah
×
Berita Terbaru Update