Notification

×

Iklan

Iklan

Al-Qur'an dan Misi Pembebasan

Jumat, 09 November 2018 | 08.39.00 WIB
Oleh : Syamsurijal Al-Gholwasy
Foto : Syamsurijal Al-Gholwasy
Manusia diberikan kebebasan yang seluas-luasnya untuk berekspresi, tetapi Allah memberikan panduan yang patut dilaksanakan dalam mengatur kebebasan manusia tersebut.

Kebebasan yang seluasnya itu tentu memiliki konsekuensi, yang harus diterima sebagai konsekuensi logis dan ketetapan Allah sebagai bentuk balasannya. Al-Qur’an sudah menceritakan bahwa manusia pada saat ditiupkan roh dalam dirinya, kemudian diajak untuk mengambil sebuah sumpah pengabdian dan penyaksian yang sempurna.

Dengan itu manusia menjadi bebas untuk memilih jalan mana yang akan ditempuh, kebaikan yang sempurna yang telah disumpahkannya itu dengan suka rela dan hati yang ikhlas ataukah menjadi budak-budak nafsu syaithoniah yang selalu bertengger dalam diri manusia sebagai ujian terberat.

Pertarungan sifat-sifat dasar semesta mengambil ruang terbatas yang dimiliki manusia, sehingga dengan adanya peristiwa rumit itu, manusia diberikan instrumen yang lengkap untuk menakar sebuah kebenaran yang diperdebatkan.

Berharap dengan kebebasannya itu manusia mampu mengkolaborasikan potensi dalam dirinya, sehingga dia mampu keluar sebagai pemenang.

Sifat dasar yang dimiliki manusia adalah kesempurnaan atas kemanusiaannya. Dan kesempurnaan yang dimiliki manusia adalah bisa menyaksikan yang maha sempurna dengan kekuatan yang sempurna pula.

Sehingga kehadiran manusia di dunia sebagai ruang yang penuh tirai penghalang, untuk menemukan kembali sesuatu yang telah hilang dari ingatannya. Dalam menemukan itu manusia membutuhkan sebuah pedoman, yang disebut sebagai Al-Qur’an.

Karena manusia terlahir dalam keadaan kosong, artinya manusia datang dengan takaran pengetahuan tentang dirinya dan Tuhan sangat minim sekali (karena sudah terbebntang tirai). Dengan Al-Qur’an sebagai pedoman dan petunjuk hidup manusia itulah manusia setidaknya mendapatkan informasi yang jelas, supaya tidak kaget dan kebingungan untuk apa manusia hadir ke dunia.

Kehadiran manusia di dunia untuk mengabdi pada Allah sebagai Tuhan yang patut disembah. tidak hanya manusia tetapi semesta hadir untuk mengambil sebuah sikap yang benar terhadap keberadaannya.

Tidak hanya itu, kehadiran manusia tidak hanya membawa misi pribadi dengan kesholehan individunya, tetapi wajib untuk mengurus dan mengatur semua yang ada sebagai fasilitas atasnya. Karena itu sudah menjadi tanggungjawabnya yang mulia, mengelola perusahaan Tuhan dan itu dihitung sebagai investasi yang mulia untuk dimasa yang akan datang.

Hitungan Allah dengan manusia adalah hitungan bisnis yang menguntungkan, tidak pernah merugikan.

Kebebasan yang menjadi sifat dasar manusia, mengalami degradasi yang sangat luar biasa. dimulai dari zaman Nabi Adam yang ditandai dengan pembunuhan antara Qabil atas Habil, oleh karena dia merasa bahwa Habil telah merampas haknya atas saudara kembarnya Iqlima.

Sampai pada zaman Romawi kuno yang seolah menempatkan manusia yang lemah sebagai binatang, dan memperlakukan mereka sebagai budak belian yang berhak diperlakukan secara tidak manusiawi. Kemudian bergeser ke tanah kelahiran Nabi Muhammad sebelum Islam muncul, setiap anak perempuan yang lahir maka akan mengalami nasib yang sangat malang, yaitu dikuburkan hidup-hidup.

Peristiwa-peristiwa membuat zaman itu memerlukan seorang revolusioner yang akan merubah peradabannya. Maka dari itu Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai pembawa cahaya di tengah kegelapan dan kejahiliyaahan.

Pembawa berita gembira bagi kaum yang tertindas dan orang yang beriman pada kebenaran, dan pembawa peringatan bagi manusia yang dzolim sekaligus ingkar terhadap asas moral kemanusiaan yang dibawa oleh manusia pertama yaitu Adam AS.

Nabi Muhammad dengan mukjizat terbesarnya Al-Qur’an menyuarakan kembali kebebasan atas manusia yang tertindas dalam bentuk perlakuan yang tidak manusiawi. Dengan cara memerdekakan budak-budak, dan diangkatnya menjadi saudara supaya mereka memiliki hak yang sama.

Sampai pada saatnya Nabi mengeluarkan ultimatum bersifat eskatologis, bahwa siapapun yang memerdekakan budak-budak maka dia akan mendapatkan pahala yang besar (berujung pada janji syurga).

Kemudian ada sebuah peraturan yang dibuat atas perintah wahyu, bahwa ketika melakukan kesalahan bagi para elit-elit Arab Muslim dan siapaun yang memiliki budak, pada saat itu harus membebaskan budak sebagai syarat agar terampuninya sebuah dosa dan kesalahan.

Ini menjadi cara-cara Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad untuk membebaskan budak-budak tersebut dan menyuarakan kemerdekaan manusia.

Walaupun cara ini bukan menjamin bahwa budak akan terselamatkan secara keseluruhan, tetapi ini adalah upaya diplomatik dan politis yang dibangun oleh syariat untuk mengupayakan sebuah misi mulianya atas kemanusiaan.

Karena bagi orang Arab pada zaman itu, perbudakan sudah dianggap sebagai sebuah keniscayaan yang harus diterima sebagai konsekuensi atas dominasi kekuatan politik, ekonomi dan strata sosial yang kuat.

Sistem barbar berlaku dalam aktivitas politik masyarakat, menang jadi penguasa dan pemilik otoritas dan jika kalah sebuah klan harus tunduk terhadap penguasanya dan bahkan dijadikan sebagai klan yang terlindungi dengan mewajibkan menyetor upeti hasil komoditas pertanian dan peternakan mereka.

Hal ini menjadi bagian kenapa Al-Qur’an diturunkan menjadi petunjuk yang harus dijalankan. Karena manusia yang satu menjadi serigala (pemangsa), bagi manusia yang lain, jika tidak tidak diatur dengan hukum, maka ia akan liar dan saling membunuh dan memangsa satu dengan yang lainnya.

Selain menunjukkan data-data historis, misi pembebasan yang dibawa Al-Qur’an terbukti dengan adanya doktrin-doktrin Al-Qur’an yang mantap dan jelas menyebutkan kesamaan antara manusia yang satu dengan yang lainnya, dan yang membedakannya adalah ketakwaannya kepada Allah sebagai pencipta dan kesungguhannya dalam menjalani proses kemanusiaannya.

Artinya paradigma yang dibawa Al-Qur’an merupakan paradigma baru yang menggeser keangkuhan mereka dan kediktatoran mereka. Al-Qur’an menyuarakan suara yang lantang untuk melawan kedzoliman yang mereka agungkan, dan mendenominasi kekuasaan mereka.

Yang kemudian, Misi Al-Qur’an yang mulia ini menjadi jargon-jargon perjuangan manusia modern di Eropa sejak abad ke 16 dan 17 masehi hingga hari ini.

Penulis : Syamsurijal Al-Gholwasy
×
Berita Terbaru Update