Notification

×

Iklan

Iklan

Kampus Masih Rentan Terjadi Radikalisme, Ini Datanya

Rabu, 03 Oktober 2018 | 22.36.00 WIB
Direktur Pusat Studi Timur Tengah dan Perdamaian Global (PSTPG) UIN Jakarta Badrus Sholeh (Baju Merah) Bersama Pemateri Lainnya Saat Meyampaikan Materi Seminar/Kurais
Indikatorntb.com - Hingga kini, kampus masih menjadi sasaran perekrutan kelompok intoleransi hingga masuk ke jaringan terorisme. Hal ini terungkap dalam seminar yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (3/10).

Hasil penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta dan Convey Indonesia pada rentang 2017 hingga 2018 terungkap bahwa, mahasiswa yang berpandangan intoleransi cukup tinggi.

Sehingga dapat masuk dalam kriteria radikalisme dan sangat radikal mencapai 58,5 persen. Sedangkan, yang berpandangan moderat hanya sebatas 20,1 persen.

Angka ini sangat mengejutkan, karena jumlah mahasiswa Indonesia dalam data Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tahun 2017 sebanyak 6,92 juta yang tersebar di 3.276 kampus.

Sementara itu, Direktur Pusat Studi Timur Tengah dan Perdamaian Global (PSTPG) UIN Jakarta Badrus Sholeh menjelaskan bahwa, kekhawatirannya terhadap sikap intoleransi civitas akademika di Indonesia cukup beralasan. Sebab, sejumlah dukungan terhadap terorisme di antaranya terjadi di lingkungan kampus.

Salah satunya, kata Badrus Sholeh saat menyampaikan materi dalam seminar tersebut bahwa, deklarasi ISIS Indonesia pertama kali diselengarakan di Wisma Syahida UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2014 lalu.

Dalam catatan Badrus Sholeh, sederet nama elite pendukung Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) di Indonesia adalah mahasiswa dan staff pengajar.

Diketahui, Muhammad Nur Zamzam alias Zega alias Jack terlibat dengan jaringan ISIS nasional. Zamzam diduga ikut melatih pembuatan bom, dan terkait dengan jaringan Jamaah Anshoru Daulah (JAD) Jabodetabek dan Sumatera. JAD adalah organisasi yang menghimpun pendukung ISIS di Indonesia.

Badrus Sholeh juga menyampaikan, sebelum tertangkap pada (02/06/2018) di Fisip Unri, Zamzam sempat membuat group WhatsApp dengan judul “Belajar dengan Membaca” yang latar belajar covernya bertuliskan Ummah of Muhammad.

Kata Badrus Sholeh, bacaan yang dibagikan merupakan materi yang dikembangkan oleh jaringan ISIS tentang jihad, Islam dan pertarungan global.

Penangkapan terduga anggota ISIS di lingkungan Universitas Riau itu mengindikasikan infiltrasi telah berhasil dilakukan oleh kelompok teroris ISIS di universitas-universitas di Indonesia.

“Petinggi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Riau merasa kecolongan atas perkembangan terorisme yang menggunakan wilayah mereka,” tutur Badrus Sholeh pada seminar yang bertemakan generasi milenial dalam nenghadapi isu radikalisme di pilpres ini.

Sementara, rekam jejak kasus terorisme di Indonesia, rekrutmen organisasi teroris di perguruan tinggi tidak hanya dilakukkan oleh ISIS Indonesia. Jama’ah Islamiyah (JI) yang berafiliasi pada Al-Qaeda juga banyak merekrut mahasiswa, alumni atau dosen untuk bergabung dalam operasi teror.

Termasuk Imam Samudra, kata Badrus Sholeh, bahwa Imam Sumudra yang mengajak dosen IT dari Semarang bernama Agung untuk membuat group diskusi lewat dunia maya serta melakukan hacking. Samudra sendiri mengangggap hacking adalah bagian dari strategi jihad masa depan.

Lulusan Universitas Deakin Australia itu menyebut, ada beragam alasan kenapa mahasiswa cenderung bersikap intoleransi dan radikal.

“Pemikirannya dipengaruhi oleh lingkungan, bahan bacaan, dan dinamika global. Bacaan pendek di sosial media, dan kurangnya waktu reflektif membuat mereka mudah mendapat pengaruh pemikiran radikal ekstrimis,” pungkas Badrus Sholeh

Reporter : Kurais
Editor      : Subhan Al-Karim
×
Berita Terbaru Update