Notification

×

Iklan

Iklan

Politik Bukan Agama

Selasa, 18 September 2018 | 11.56.00 WIB
Syamsurijal Al-Gholwasy (Penulis)

Oleh: Syamsurijal Al-Gholwasy

Politik hari ini kelihatannya menjadi “agama” baru bagi umat manusia. Mereka membuat aturan-aturan main sendiri, tanpa merujuk kepada tata nilai dan norma yang baku dalam kehidupan.

Nilai kejujuran, ketaatan hukum, keadilan, kasih-mengasihi, idealisme tidak lagi laku di pasaran. Akibatnya moralitas sosial teracuni dengan laku mereka yang serba instan memahami demokrasi penuh nafsu.

Politik praktis sebagai sebuah realitas (hari ini terbukti) tidak mengenal nilai, norma dan etika sebagai landasan geraknya.

Dalam politik hanya mengenal dua pilihan kata, “kalah atau menang”, sehingga dengan cara apapun meraihnya menjadi tidak penting.

Sikap yang agnostis seperti ini menjadikan pelaku politik lupa diri dan arogan. Permusuhan dan kebencian tumbuh subur sebagai suatu aturan baku dalam proses pergaulannya. Kecurangan juga dianggap hal yang lumrah, soal baik dan buruk tidak menjadi bagian yang substansial. Bahkan benar dan salah sangat subjektif.

Manusia yang terlibat dengan himpunan fanatiknya, secara berlebihan memuja idola mereka masing-masing. Pemberhalaan terjadi tanpa disadari, bahkan menempatkan aktor politik seperti halnya Nabi yang ma’sum (terhindar dari dosa).

Pengkultusan yang demikian bahkan mengarah kepada tindakan neo-politeisme yang menempatkan politik sebagai Agama (Tuhan).

Perilaku politik yang berlebihan seperti ini harus dikontrol dengan nilai dan ajaran agama yang benar, sehingga aktualisasi politik menjadi normal sebagai pesta demokrasi temporal.

Jangan gara-gara politik; berbeda pilihan jadi bermusuhan, menebarkan kebencian, dan saling mengingkari. Bahkan persaudaraan yang sejak lama terbina, menjadi rusak hanya gara-gara nurani berbicara lain (karena barometernya berbeda). Bahkan ada yang saling mencap sesat dan menyesatkan (bernuansa teologis).

Sikap politik yang tidak demokratis menjadi indikasi bahwa politik itu menjadi suatu agama baru, bahkan dengan dengan perbedaan pilihan memunculkan keberanian untuk menakar keimanan seseorang terhadap Tuhan.

Sangat disayangkan, jika sisi kemanusiaan kita tergantikan dengan sisi “kebinatangan” hanya karena ego-politik yang berlebihan. Kita ingin saling memangsa, membunuh dan meniadakan tanpa memiliki fondasi yang rasional.

Politik bertujuan untuk menjadi alat (tool) atau jalan (thariq) untuk dapat berbuat baik lebih banyak, bukan untuk menjadi “raja” dan berkuasa, apalagi menganut paham otoritarianisme yang melanggengkan tirani.

Artinya, dapat dipahami kekuasaan yang ingin diraih lewat jalur partai politik adalah alat (tool) bukan tujuan (goal); berarti juga dapat dipahami bahwa politik adalah pengejawantahan sebuah perjuangan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, bukan diberlakukan sebagai sebuah “agama baru”.

Sikap proporsional adalah sikap wajib (hak milik) bagi setiap orang yang terlibat dalam politik; baik calon, pendukung, tim sukses, dan komponen lain yang terlibat langsung maupun tidak langsung .

Karena netralitas dalam politik itu sangat tidak dimungkinkan terjadi, bukan berarti objektivitas juga tidak berlaku. Objektivitas justru menjadi sikap kunci untuk melahir sebuah kultur politik yang rasional, terbuka, dan berkualitas.

Ingat, sekali lagi politik bukan Agama (Tuhan) yang transendental, tetapi sebuah aktivitas kemanusiaan yang profan. Jadi, tidak usah terlalu serius dan arogan.

Penulis : Syamsurijal Al-Gholwasy
Editor    : Syahrul Ramadhan
×
Berita Terbaru Update