Notification

×

Iklan

Iklan

Pemerintah Hanya Bermain Kata dengan Rupiah

Sabtu, 08 September 2018 | 15.15.00 WIB
Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Keadaan Negara Indonesia sangat pemperihatinkan dengan melemahannya rupiah yang semakin hari menunjukan ambang batas untuk disebut tak ternilai dalam melawan dolar AS.

Lemahnya rupiah Indonesia memberi PR tersendiri bagi Pemerintah Indonesia, dimana pemerintah harus berpikir panjang untuk melawan keperkasaan dolar. Namun sejauh ini, peran pemerintah masih belum menunjukan hasil, apa lagi di sebut maksimal.

Negara Indonesia dikenal dengan masyarakat yang konsumtif akan produk luar atau barang inpor, justru akan menghasilkan pola pikir baru bahwa produk bangsa sendiri tidak cukup layak dibandingkan dengan kualitas produk negara luar. Akan tetapi masyarakat tidak dapat sepenuhnya mengonsumsi barang inpor jika pemerintah indonesia membatasi keberadaan barang inpor atau produk luar di Negara ini.

Kenapa kita harus bahas mengenai barang inpor?, karena salah satu faktor melemahnya rupiah karena kurangnya mengeskpor barang tapi justru inpor barang luar negeri meningkat. Akibatnya mata uang Dolar terbatas keberadaan di indonesia menghendaki Rupiah untuk selalu mengemis di negara lain.

Selanjutnya hal yang dapat menjadi penyebab lemahnya nilai tukar Rupiah karena kebijakan bank dunia atau bank IMF dan disinilah yang menjadi kendala besar bagi pemerintah kita, bagamana pemerintah indonesia dituntut untuk jeli dalam melihat dan memanfaatkan peluang agar bisa berpengaruh pada peningkatan nilai tukar rupiah.

Namun sejauh ini, Pemerintah Indonesia hanya bermain isu untuk bagaimana menenangkan masyarakat agar tidak menghawatirkan terkait kondisi ekonomi dan rupiah indonesia. Sementara untuk memperbaiki ekonomi tidak bisa dengan hanya membius pikiran masyarakat agar beranggapan bahwa ekonomi negara ini dalam keadaan baik-baik saja.

Pemerintah seharunya lebih banyak berpikir untuk mengatasi kebangkrutan ekonomi, bukan memobilitasi pikiran masyarakat agar bisa memanipulasi keadaan.

Ekonomi indonesia tidak akan baik jika hanya pandangan masyarakat ditenangkan, melainkan dengan tindakan dan mekanisme baru untuk mengatasi lemahnya rupiah dan terbatasnya ekonomi indonesia.

Saat ini nilai tukar rupiah hampir mendekati 15.000, terhadap Dolar AS, tapi Pemerintah Indonesia masih sibuk dengan menghipnotis masyarakat agar tidak terpengaruh dengan wacana-wacana profokatif.

Seharunya pemerintah mulai menata ulang sistem-sistem yang selama ini, yang dinilai kurang memberi efek dalam peningkatan ekonomi dan kekuatan nilai tukar rupiah.

Bukan justru membuat kebijakan untuk menginpor barang luar negeri dengan jumlah yang lebih besar. Pemerintah Indonesia dinilai takut dengan ancaman-ancaman nengara lain, takut diboikot, takut diembargo dan dll.

Ketika Pemerintah Amerika Serikat (AS) Mengecam Pemerintah Indonesia karena membatasi inpor barang luar, tidak seharunya juga Pemerintah Indonesia bertukuk lutut atas kecaman tersebut karena dinilai mengacuhkan hasil kesepakatan atas hubungan perdagangan.

Pemerintah tidak boleh setengah-setengah dalam mengambil sikap, karena akan berakibat terhadap kestabilan ekonomi, dan apa bila ingin mandiri secara ekonomi. Namun dengan sikap yang kurang konsisten pemerintah tersebut berefek pada keguncangan ekonomi dan kelemahan rupiah yang sangat melorot.

Kebingungan besar terjadi dikalangan masyarakat ketika panen raya terjadi di Indonesia, justru pemerintah menginpor kebutuhan pangan dari luar negeri. Ketika panen padi, pemerintah inpor beras, ketika panen bawang, justru pemerintah inpor bawang.

Kebijakan seperti itulah yang menjadi kebingungan terbesar masyarakat terhadap Pemerintah Indonesia.
Apa lagi saat ini Indonesia sedang kebangkrutan nilai tukar rupiah, yang semakin hari semakin melemah dan pemerintah hanya bertumpuk pada kata-kata untuk menenangkan kekhawatiran masyarakat, dan bahkan baru-baru ini DPR RI melakukan rapat khusus untuk membahas terkait melemahnya nilai tukar rupiah indonesia.

Ketika pemerintah tidak bergerak masif untuk mengatasi melemahnya rupiah akan mengulang seperti yang terjadi pada tahun 1998, dimana indonesia hampir tak berdaya karena defisit anggaran. Bisa menjadi tafsiran umum indonesia akan mengalami lagi hal yang serupa dan akan butuh perjuangan berdarah-darah untuk bangkit kembali.

Oleh sebab itu, pemerintah jangan hanya bermain kata untuk menenangkan pikiran masyarakat Indonesia akan kondisi ekonomi dan rupiah indonsia, tapi pemerintah harus berkerja keras untuk menghadirkan indonesia maju.
Saatnya pemerintah Indonesia harus memilih, bangkit untuk melawan atau hanya diam menunggu adjal menjemput bangsa ini.

Saatnya indonesia baru, indonesia yang mandiri secara ekonomi, dan kuat secara pertahanan, baik pertahanan ekonomi maupun pertahanan pangan.

Kedaulatan negara ada pada rakyat, maka jangan membohongi rakyat dengan kata-kata yang membius tapi buktikan pada rakyat bahwa indonesia lebih baik dari negara mana pun.

Salam Perjuangan, Tanah Tuhan untuk Manusia.


Penulis : Devi Sofian (Ketua Umum Mapera Nusantara).
×
Berita Terbaru Update