Notification

×

Iklan

Iklan

Islam Bukan Teroris

Jumat, 28 September 2018 | 02.29.00 WIB
Iranto
Oleh: Iranto
Jurnalistik II

Akhir-akhir ini banyak terjadi kasus kejahatan terorisme di Indonesia. Pembahasan publik terkait terorisme kian memuncak. Kejadian tersebut pun menuai kontroversi dari banyak kalangan, baik itu dari pengamat maupun masyarakat umum.

Anehnya, banyak masyarakat menganggap latar belakang terjadinya tindakan terorisme akhir-akhir ini hanya dipengaruhi oleh unsur ideologi agama Islam. Hal ini diyakini dapat berdampak buruk bagi citra umat Islam mendatang.

Meminjam istilah Jalaludin Rakhmat, Anggota DPR komisi VIII. Ia memiliki fokus yang berbeda dalam memandang terorisme. Menurut pandangannya, terorisme termasuk hasil cap media barat yang tak lain hanyalah buatan Negara Adikuasa. Benarkah demikian?

Islam dan Terorisme

Pada Senin (14/5) lalu misalnya, peristiwa ini menjadi hari yang tidak bisa dilupakan bagi pasangan suami istri, Arifin (47 tahun) dan Siti Rohaida (48 tahun). Pasutri warga Jalan Kapi Sraba 11, Pakis, kabupaten Malang, itu menjadi korban salah tangkap oleh Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polda Jawa Timur. Kasus ini dinilai menjadi salah satu kebobrokan pihak yang berwajib terhadap kaum muslimin.

Hakikatnya, banyak kasus radikal lainnya yang harus lebih diwaspadai, seperti yang pernah terjadi di Papua beberapa waktu lalu.

Kasus yang terjadi di Papua dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata di desa Kimbely dan desa Banti, Mimika, Papua.
Anehnya, kasus di Papua tersebut hanya dicap sebagai kelompok bersenjata atau kelompok separatis.

Sedangkan kasus di Marawi Filipina, dicap sebagai teroris oleh Dunia Internasional. Padahal latar belakang kasusnya sama-sama ingin membuat negara baru atau ingin merdeka.

Merujuk kasus pembantaian muslim di Vietnam, kasus tersebut terjadi karena latar belakang pembersihan etnis. Pada hal itu sudah jelas bisa dikatakan sebagai tindakan meneror bahkan sampai pada kata pembantaian.

Pelaku pembantaian di Vietnam tidak dikatakan sebagai teroris melainkan ‘genosida’ atau pembersihan etnis.

Sedangkan, hakim di pengadilan paling tinggi di Uni Eropa memutuskan kelompok Hamas harus tetap berada dalam daftar hitam Uni Eropa. Mereka dicap sebagai organisasi terlarang karena memiliki misi untuk mengakhiri pendudukan Israel di Palestina dan mendirikan sebuah negara Islam.

Sedangkan kasus pembantaian di Vietnam tidak ada sama sekali kecaman lebih lanjut atau dibawah kepengadilan paling tinggi di Uni Eropa seperti yang dilakukan kepada Hamas.

Memaknai Terorisme

Mengapa mereka yang diluar Islam tidak disebut sebagai teroris? Pejuang Hamas yang melawan Israel dicap sebagai teroris. Sedangkan mereka yang melakukan pengeboman besar-besaran di Palestina tidak disebut sebagai teroris. Mengapa demikian? Itulah manipulasi, kata Jalaludin Rakhmat.

Akibatnya, masyarakat condong memandang timbulnya terorisme ini semata-mata dilatar belakangi oleh ideologi agama. Padahal, jika ditafsirkan lebih mendalam makna terorisme, semuanya bisa dicap sebagai terorisme.

Namun tetap bergantung pada sudut pandang masing-masing individu. Yang perlu diketahui juga, setiap negara pasti memiliki kamus tersendiri istilah yang pantas disematkan bagi pelaku tindak terorisme. Dalam konteks ini, negara memiliki otoritas penuh dalam memaknai kasus terorisme.

Memaknai terorisme selayaknya harus berangkat dari definisi awal. Jangan sampai definisi yang salah dijadikan sebagai referensi untuk menjustifikasi seseorang atau kelompok sebagai teroris.

Terorisme hakikatnya tidak hanya berdasar atas apa yang terlihat oleh panca indera. Bisa jadi ada campur tangan politik di dalamnya.

Penulis : Iranto
×
Berita Terbaru Update