Notification

×

Iklan

Iklan

Al-Qur’an; Pesan Kepemimpinan Umat

Rabu, 19 September 2018 | 17.48.00 WIB
Syamsurijal Al-Gholwasy

Oleh : Syamsurijal Al-Gholwasy

Polemik kekuasaan menjadi bahan kajian yang menarik akhir-akhir ini. Umat Islam menjadi terjerumus di dalamnya, bukan berarti mengingkari kebolehan umat Islam ikut merebut tampu kekuasaan tertinggi.

Tetapi ada sebuah tuntunan yang harus pribadi muslim pegang menjadi sebuah perisai pelindung untuk diri (pribadi) muslim itu sendiri, supaya tidak melampaui batas kewajaran. Islam dengan Al-Qur’an sebagai sebuah kitab panduannya justru mengharuskan manusia menjadi pemimpin umat, karena kodrat penciptaanya nyatanya seperti itu.

Kepempinan umat bukan hanya sebatas membawa nilai-nilai yang konsen terhadap pembangunan dan gedung-gedung mewah sebagai suatu wacana prioritas, tetapi lebih utama bagaimana manusia menjadi pribadi-pribadi yang menjunjung tinggi nilai ketuhanan, pengabdian, asas moral dan mencintai sesama manusia supaya terbangun sebuah kejayaan yang besar atas cita-cita bersama.

Kemakmuran, kesejahteraan, dan kedamaian menjadi kenyataan yang berdiri kokoh sebagai bangunan peradaban yang megah ditengah kehidupan sosial masyarakat dunia.

Gejala-gejala mental seperti ini menjadi sebuah titik awal yang memiliki kekuatan pendorong terlahirnya rasa kepemilikan dan rasa tanggungjawab, sehingga mereka mengartikulasikan dalam bentuk yang nyata sebagai implementasi rasa kesyukuran mereka yang semakin tinggi.

Dengan harapan suksesi pembangunan fisik tidak hanya untuk kemakmuran segelintir orang yang menempati gedung tersebut, tetapi diniatkan dan diwujudkan sebagai kepemilikan bersama.

Dan yang diberikan tanggungjawab bukan sebagai manusia yang ingin dilayani sebagai raja yang diagungkan. Tetapi, justru mereka memunculkan kesadaran bahwa dirinya menjadi pelayan bagi sesama manusia. Mereka mengartikulasikan eksistensi dirinya sebagai simbol kedaulatan, simbol kebebasan, dan simbol kejayaan bersama.

Al-Qur’an membicarakan soal kepempinan umat begitu istimewa, pemimpin umat tersebut adalah wakil Tuhan yang harus menyebarkan ajaran dan mempraktikan sifat Tuhan secara benar. Tugasnya adalah mengajak manusia sebagai tanggungjawabnya untuk mengenal Allah sebagai Tuhannya yang memiliki otoritas secara sempurna.

Dan menggiring manusia untuk tetap menjalankan kehidupan kesehariannya dalam kebaikan, menjamurkan kebaikan tersebut dalam kehidupan pribadi manusia yang lain, sehingga kebaikan itu menjadi nilai dasar yang teragregasi secara luas dalam seluruh lapisan masyarakat.

Seorang pemimpin tidak diperbolehkan untuk menginstal kekuasaan otoritas dalam mindsetnya yang buruk, sehingga seorang pemimpin menjadi Namrud-Namrud atau Fir’aun-Fir’aun baru yang membusungkan dada kemudian mengatakan ‘’Akulah” Tuhan. Karena seorang pemimpin yang menganggap dirinya sebagai ‘’Tuhan” akan memimpin umat dengan tangan besi yang otoriter dan akan mempertahankan status quonya dengan segala macam kejahatan.

Hal yang semacam ini akan menimbulkan sebuah kerusakan atas tatanan sosial dan bisa merusak citra kepemimpinan umat dimata publik.

Yang disuarakan oleh Al-Qur’an adalah seorang pemimpin harus memiliki hati yang suci, niatan yang lurus, intelektual yang bagus, mental yang mantap dan ketakwaan yang sempurna. Dengan modal ini akan melahirkan rasa tanggungjawab, dengan demikian seorang pemimpin umat akan terus memaksimalkan kemampuan kapasitas dan kapabilitasnya untuk memimpin umat manusia sesuai dengan cita-cita umat itu sendiri.

Pertama; intelektual yang bagus diimplementasikan dengan konsep-konsep yang dicetuskannya yang efektif dan efesien, tidak bertele-tele dan susah diimplementasikan oleh masyarakat.

Selain itu, pemimpin umat yang memiliki intelektual yang yang bagus mampu menganalisis segala bentuk kebutuhan umat baik kekurangan yang harus disempurnakan, maupun suatu kelebihan yang harus tetap dikembangkan dengan programnya, sehingga program-program yang dicetuskan sukses mendewasakan dan menejahterakan masyarakat sebagai tanggungjawabnya.

Kedua; Implementasi mental yang mantap adalah lahir dari diri pemimpin umat itu sendiri sifat yang permisif, inklusif, toleran, dan transparan. Dengan modal yang lengkap secara mental seperti ini masyarakat sebagai umat yang dipimpinnya menjadi cinta terhadapnya, mendukung segala kebijakannya dan memiliki semangat untuk mengembangkan dirinya dikarenakan seorang pemimpin umat menjadi idola yang semesta.

Hubungan antara pemimpin dan umat yang dipimpin tidak memiliki garis pemisah (demarkasi) yang kuat, adapun hirarki kepemimpin hanya menjadi simbol yang harus dihormati secara proporsional, bukan disucikan dan di Tuhankan.

Jadi, penghormatan umat terhadap pemimpinnya bukan karena ketakutan dan keterpaksaannya, tetapi lebih utama karena rasa takzim, cinta dan hormatnya atas kepribadiannya.

Ketiga; ketakwaan yang sempurna maksudnya seorang pemimpin umat tidak mengorientasikan dirinya pada rotasi kesholehan individunya, tetapi dia harus memiliki karakter yang seimbang dengan aktualisasi kesholehan sosialnya. Karakter yang balance menjadi kebutuhan yang sangat primer bagi pemimpin umat, karena tanpa keduanya, pemimpin akan mengalami kepincangan dalam kepemimpinannya.

Bisa jadi cara berpikirnya demikian, “ Tidak apa-apa galmour dan hura-hura, yang terpenting bisa diimbangi dengan berbagi pada sesama ‘’ atau ‘’ Lebih baik terus bertemu dengan Allah saban waktu dengan sholat, daripada memenuhi undangan mereka (masyarakat) yang tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk mempengaruhi kekuasaan saya’’.

Ketidakseimbangan melahirkan cara berpikir yang salah, sehingga lahirnya pribadi pemimpin yang dzolim dalam pengertian yang luas. Selain yang tersebut di atas sebagai roh kepemimpinan umat adalah sabar, syukur, jujur dan adil dalam segala hal. Tanpa roh kepemimpinan tersebut saya yakin semua agenda-agenda kepemimpinan menjadi gagal.

Kekuasaan dalam corak berpikir pemimpin umat bukanlah segalanya dan dimiliki serta disandang seumur hidup dalam kanca konstitusi. Sehingga pemimpin umat tersebut harus memaksimalkan kepemimpinannya untuk membuat sebuah prestasi dan prasasti kehidupannya.

Harus diingat bahwa rasa kepemilikan atas tanggungjawab terhadap karakter pemimpin umat harus dimiliki setiap manusia. Kemudian setiap manusia wajib untuk menginternalisasikan dalam pribadinya, karena pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin. Minimal dia menjadi pemimpin bagi organ tubuhnya sendiri.

Oleh   : Syamsurijal Al-Gholwasy
Editor : Syahrul Ramadhan
×
Berita Terbaru Update