Notification

×

Iklan

Iklan

Muhammadiyah Grass-Roote

Senin, 30 Juli 2018 | 10.12.00 WIB
Foto Tribun Style
Indikatorbima.com - Kyai Dahlan menjawab ringkas: 'Islam Kemadjoe-an", ketika ditanya santrinya tentang apakah Muhammadiyah itu. Jawaban pendek dengan makna sarat. Sejak mula Kyai Dahlan menawarkan ke modern-an pada gerakan yang digagasnya itu, yang kemudian lazim dikenal dengan istilah tajdid meski belakangan lebih kental nuansa purifikasi-nya. Aroma kompetisi 'halaqah' tajdid dan 'halaqah' purifikasi juga mulai terlihat pada sebagian pimpinan Persyarikatan, masing-masing dengan pengikut, meski tak berlangsung terbuka.

Dua arus utama (mainstream) yang menjadi episentrum gerakan di persyarikatan kita adalah: gerakan pemikiran dan gerakan amal. Keduanya ibarat dua mata tombak yang saling melengkapi, bukan untuk saling berhadapan apalagi saling menafikkan. Tapi saling menggenapi.

Pertama Muhammadiyah sebagai gerakan pemikiran (state of mind) dipilah menjadi dua, yaitu gerakan pemikiran tajdid pembaharuan atau kemoderenan dan gerakan pemikiran purifikasi atau pemurnian dengan jargon kembali kepada Al Quran dan as Sunah. Dua arus pemikiran ini juga bersaing ketat. Beberapa pimpinan tampak kental nuansa tajdid dan beberapa lainnya lebih terlihat nuansa purifikasinya, dengan tidak menyebut nama.

Kedua: Muhammadiyah sebagai gerakan amal, yang lebih sering disebut sebagai gerakan filantropi. Dari gerakan amal ini lahir berbagai amal usaha yang kemudian dikenal dengan nama AUM : mulai PAUD di kampung terpencil hingga perguruan tinggi di kota megapolitan, mulai dari klinik bersalin yang bersaing dengan dukun bayi, hingga rumah sakit bertaraf internasional dengan harga kamar selangit tujuh.

Itulah MUHAMADIYAH, harakah kemanusiaan paling unik dan modern sepanjang abad dan menginspirasi banyak gerakan lainnya baik yang bersetuju atau menolak dengan berbagai alasan. Semangat yang mendasari pergerakan adalah menjadi umat terbaik (khairu-ummah) dengan ciri : berbuat banyak kebajikan untuk maslahat orang banyak. Dua sayap inilah yang menabalkan Muhammadiyah sebagai gerakan pemikiran sekaligus gerakan amal. Kuat pikir (konsep-ilmu) dan kuat amal (amal usaha sebagai wujud amal saleh). Amr Ma'ruf-Nahy Munkar. Keduanya harus berjalan imbang-beriringan, agar tidak merasa paling diantara yang lain.

Dengan model seperti itu, lantas dengan apa harus diukur apakah seseorang itu Muhammadiyah atau bukan. Disini rumitnnya. Qaidah anggaran dasar kita, hanya mengatur sederhana, tidak berbelit, termasuk tak perlu membaca syahadat ulang atau baiat untuk diakui sebagai anggota Persyarikatan.

Kita juga tidak mengenal sistem seleksi saat mencari nomor anggota. Apalagi tes kesehatan atau surat kelakuan baik dari pak RT atau Polsek setempat. Atau Test baca tulis Al Quran. Cukup bawa foto 3 lembar, uang administrasi sepuluh ribu perak (10 ribu) sebagai pengganti ongkos kirim dan tanda tangan cap setempel pimpinan ranting setempat, selesailah sudah. Tak punya nomor baku juga tak mengapa dan tak perlu takut tidak diakui sebagai anggota Persyarikatan bahkan anggota yang tak punya NBM jauh lebih besar ketimbang yang ber-NBM.

Dengan pola rekruitment seperti itu maka keanggotaan di Muhammadiyah bersifat terbuka. Bukan organisasi tertutup dengan sistem baiat sebagai simbol kepatuhan. Tidak ada pendaftaran anggota apalagi seleksi. Bahkan tidak mendaftar pun juga tak mengapa termasuk tidak harus punya nomor baku. Karena untuk menjadi pimpinan cukup ada keterangan aktif pada pimpinan tempat ia berdomisili.

Setelah mendapat nomor baku kita tidak dituntut macam-macam, semua dilakukan sukarela tanpa ada paksaan. Mau aktif atau cuman jumatan sepekan sekali di masjid milik Persyarikatan atau tidak, juga tak apa. Tak ada presensi kehadiran apakah rajin mengikuti pengajian atau rajin ngemall. Toh Nomor baku Muhammadiyah (NBM) yang kita punya juga tak bernilai apa-apa. Anda tidak akan mendapat potongan harga saat berobat di rumah sakit atau sekedar penundaan bayar DPP di perguruan tinggi milik Muhammadiyah. Tak ada beda perlakuan antara anggota dan bukan anggota dan itu lazim, tak perlu baper apalagi menuntut.

Belakangan muncul anggota Muhammadiyah biologis. Putra putri para pimpinan dan aktifis yang tak mengenal Muhammadiyah, karena memang kakek buyut dan keluarga besarnya berasal dari kalangan aktifis Muhammadiyah jadi ia tak perlu her-registrasi untuk menjadi anggota Persyarikatan. Ada kecederungan putra-putri aktifis Persyarikatan tidak mengikuti atau mewarisi orang tuanya dan ini jadi problem besar.

Apa hak kita sehingga mengatakan siapapun selain kita bukan Muhammadiyah hanya karena beda pandang, beda politik atau aliran. Dan kita juga tak perlu mengatur karir seseorang yang tak berkaitan dengan Persyarikatan. Pak AR Fakhruddin memberi kata ringkas : ber-Muhammadiyah itu menggembirakan .. itulah salah satu ciri ber-serikat dalam Muhammadiyah. Menghibur dan memberi kabar baik bukan sebaliknya. Bertengkar antar pengurus untuk sesuatu yang sudah sangat jelas hanya karena tak paham qaidah.

Dengan model keanggotaan macam begitu mestinya tak pantas ada yang merasa paling MUHAMMADIYAH kemudian membuat aturan baru yang tak ada dalam qaidah. Jangan begini-jangan begitu: kenapa tidak begini-kenapa tidak begitu. Dengan alasan menjaga marwah. Ini Persyarikatan milik bersama. Saya Muhammadiyah, kamu bukan, memang kita siapa .. .. ? Semua kita punya hak dan kewajiban sama tanpa kecuali. Jadi jangan pernah merasa 'paling-kader' lantas membuat ukuran sesuka hati sambil menafikkan yang lainnya, .. .. dan saya hanya Muhammadiyah akar rumput, hanya mampu urunan sepiring kue pada setiap pengajian ranting di masjid depan rumah ".

Penulis : @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
×
Berita Terbaru Update