Notification

×

Iklan

Iklan

Mendalami Makna Puisi "Makna Sebuah Titipan" Karya W.S Rendra

Jumat, 25 Mei 2018 | 16.07.00 WIB
Foto : Penulis
Seringkali aku berkata,
Ketika orang memuji milikku,
Bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
Bahwa mobilku hanya titipanNya,
Bahwa rumahku hanya titipanNya,
Bahwa hartaku hanya titipanNya,
Bahwa putraku hanya titipanNya,

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku,
Apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
Ketika titipan itu diminta kembali oleh Nya?
Ketika diminta kembali,
Kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian,
Kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut dengan panggilan apa saja
untuk melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdo’a
Kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta,
Ingin lebih banyak mobil,
Lebih banyak rumah,
Lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
Kutolak kemiskinan,

Seolah “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”.
dan menolak keputusanNya
yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
“Ketika langit dan bumi besatu,
Bencana dan keberuntungan sama saja”

Puisi diciptakan untuk memberikan suatu informasi maupun pesan. Informasi maupun pesan yang disajikan berisi sebuah bentuk penyadaran diri bagi manusia, baik berupa sastra maupun tidak. Keunggulan sebuah puisi ialah ketika dibacakan dengan emosi dan penuh ekspresi baik mimik wajah, dan gerakan tubuh. Hal inilah yang dapat lebih menggugah kesadaran diri setiap manusia.

Ketika mendalami sebuah puisi struktur fisik dalam puisi diatas ialah sebuah diksi yang dipilih. Pemilihan kata dalam puisi diatas mudah dipahami oleh pembaca. Oleh karena itu, pembaca mudah memahami isi pesan yang disampaikan oleh pengarang melalui karya puisinya.

Pengimajian dalam puisi diatas memberikan sebuah imajinasi perasaan yang halus, terkait dengan manusia terhadap Tuhannya. Tidak hanya itu, pengimajian pada mata juga terlihat pada bait pertama bahwa harta dan benda yang terlihat oleh mata itu hanyalah sebuah titipan semata dariNya.

Kata kongkret ialah berupa kata yang artinya sudah di tetapkan. Dalam hal ini kata kongkret yang terdapat pada puisi diatas ialah mobil, rumah, putra, harta, sakit, kemiskinan, popularitas.

Majas ialah gaya bahasa yang digunakan oleh pengarang. Dalam hal ini majas yang dipakai ialah majas hiperbola. Terlihat pada bait pertama dengan bait ketiga.

Versifikasi dalam puisi diatas terdiri dari 5 bait. Pada setiap baris di akhir kalimat irama yang digunakan berbeda namun tetap satu kesatuan yang utuh. Tidak hanya itu, di dalamnya juga berisikan tentang tanya jawab diri sendiri kepada Tuhan.
Tipografi dalam puisi tersebut memiliki jumlah kata yang sama 8-12 suku kata. Jumlah kata yang tidak berbeda jauh tersebut bertujuan agar iramanya menjadi teratur.

Dalam hal ini tidak hanya menilai dari segi struktur fisik, struktur batin pun juga harus diikutsertakan. Pada dasarnya tema yang tercantum pada puisi diatas ialah bertemakan semua adalah milikNya. Oleh karena itu, puisi tersebut perlu dipelajari secara mendalam karena penting bagi kehidupan nyata.

Pada saat menilai suatu puisi, melihat dari segi diksi atau pilihan kata yang digunakan oleh penulis. Pilihan kata pada puisi diatas mudah dimengerti oleh pembaca, sehingga paham akan pesan yang disampaikan oleh penulis.

Nada tone dalam puisi ini ialah nada rendah nan halus. Biasanya dibacakan dengan penuh kelembutan dan ekspresi yang terlihat sangat terenyuh, suara itu mengalir sesuai dengan nada puisi ini.

Perasaan yang dirasakan setelah membaca puisi ini ialah ia sadar bahwasannya harta benda yang dimiliki ialah milikNya, dan semua akan kembali padanya. Memang, ketika manusia berdo’a dan meminta harta benda yang diinginkan, jika terkabul, maka ia sangatlah senang. Akan tetapi, jika harta dan benda diminta kembali olehNya, maka manusia harus berusaha ikhlas meskipun itu berat.

Dalam puisi dituliskan bahwa manusia biasanya menyebut itu sebagai sebuah musibah, ujian, dan petaka yang menimpanya. Selain itu ia merasakan dan merenungi bahwa itu adalah sebuah hukuman untuk dirinya.

Tidak hanya itu, amanat dalam puisi ini juga memberikan pelajaran mengeni nasihat atau petuah. Nasihat ini digunakan untuk jalan hidup manusia agar tetap lurus di jalanNya, dan selalu mengingatNya.

Penulis : Fitrahtullah Oktarina Nurul Qur’ani
(mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang).
×
Berita Terbaru Update