Notification

×

Iklan

Iklan

Generasi Idiologis ke Generasi Perusak

Sabtu, 20 Oktober 2018 | 14.18.00 WIB
Penulis : Yuli (Mahasiswa Jurusan Agama Islam Universitas Muhammadyah Mataram)

Cerita cinta tak pernah kunjung selesai, sehingga semua rela diberikan hanya dengan mengatas namakan cinta. Cinta memang membutakan mata hati sehingga yang terlihat buruk menjadi indah dan yang gelap menjadi terang.

Berawal dari cinta pula, hal-hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Direktur PKBI Lampung, Dwi Hafsah Handayani menyebutkan, 12 siswi SMP satu sekolah di Lampung diketahui hamil, yang terdiri dari siswa-siswa kelas VII, VIII, dan IX (Tribunlampung.co.id. bandar lampung)

Dan yang lebih parahnya lagi aplikasi Whatsapp yang terkenal, bukan hanya dikalangan remaja melainkan orang tua pun menggunakanya, ternyata dijadikan jalan untuk memancing gairahnya dalam melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya dilakukan.

Bukti nyata datang dari komisi perlindungan anak daerah kabupaten Bekasi mendapatkan temuan terkait dengan tindak asusila melalui grup aplikasi mengobrol whatsapp (WA).

Ironinya, grup tersebut berisikan para siswa di satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Cikarang Selatan.

Selain tindak asusila, di grup yang berisikan 24 siswa dan siswi itu, para anggota saling berbagi video porno. Dari video tersebut, para anggota saling mengajak untuk berhubungan badan.

"Ini diketahuinya saat salah satu anggota grup kena razia oleh guru lalu diambil telepon selulernya. Awalnya anggota grup ini tidak mau membuka isi ponsel itu, tapi setelah dipaksa, akhirnya dibuka dan terbongkar grup itu," ucap Komisioner KPAD Kabupaten Bekasi, Mohammad Rozak kepada "PR", Rabu (3/11/2018). (Www.pikiran rakyat.com)

Miris potret generasi saat ini, akan banyak hal yang terjadi, bahkan hal yang tidak pernah diinginkan pun secara perlahan namun pasti akan terus menghampiri. Ini terjadi karena lepas kontrol dari orang tua dan yang lebih utama adalah ibu.

Orang tua terlalu menganggap enteng, sehingga menaruh harapan sepenuhnya pada pendidikan, mereka menganggap bahwa dengan adanya pendidikan itulah yang akan membawa anak-anaknya ke jalan yang lebih baik dari yang tidak tahu menjadi tahu.

Akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa pendidikan saat ini bukanlah pendidikan yang diatur dengan aturan Islam melainkan diatur dengan sistem pendidikan sekulerisme yang memisahkan antara agama dari kehidupan, sehingga mana mungkin nilai-nilai "Islam kaffah" bisa dilahirkan oleh pendidikan sekulerisme.

Tentu ini merupakan persepsi yang salah, karena dicetaknya generasi agar mampu diarahkan ke jalan yang benar, adanya generasi ialah untuk membantu bukan sebaliknya mereka yang harus dibantu, kemudian untuk memberikan solusi bukan diberikan solusi dan untuk mampu merubah bukan untuk diubah.

Permasalahan tidak akan pernah selesai jikalau orang tua hanya sibuk dengan dunianya, sibuk dengan pekerjaanya, pergi pagi pulang malam tanpa mengetahui aktivitas apa saja yang dilakukan oleh anaknya di sekolah maupun di lingkunganya.

Inilah kesalahan yang fatal, karena orang tua hanya menstandarkan sumber kebahagiaan terletak pada materi semata, tanpa memperhatikan anaknya sehingga anak-anaknya terlantar dan mencari kasih sayang pada sosok seoarang yang belum halal baginya.

Peran Ibu dalam Mendidik Anak

Ibu sangat berperang penting dalam masalah mendidik dan mengurusi anak-anaknya, apalagi masa remaja ialah masa yang menginginkan kepuasan, masa yang ingin mencoba segala sesuatu yang baru, seperti kata anak zaman now lagi labilah ya. Maka dari itu kasih sayang orang tua sangatlah dibutuhkan.

Kalaupun orang tua masih sibuk dengan perkara dunia bagaimana mungkin akan melahirkan generasi yang idiologis dan generasi yang akan merubah tatanan dunia ke arah yang lebih baik lagi.

Tonggak peradaban terletak pada generasi, sejarah telah membuktikan bagaimana sosok seoarang anak muda yang gagah perkasa mampu menaklukan konstatinopel, kota yang berusaha ditaklukan oleh pejuang-pejuang terdahulu akan tetapi hanya mampu ditaklukanOleh pemuda yang berumur 21 tahun, yaitu Muhammad Al-Fatih.

Ini tidak terlepas dari didikan orang tua dan yang lebih berperan aktif ialah ibu, karena ibu merupakan ummu warobatul bait dan madrasatul ula bagi anak-anaknya.

Sejarah yang lain juga telah membuktikan hal sama, lihatlah apa yang dilakukan ummu imaroh, ummu imaroh mendidik anak-anaknya diatas ketaatanya kepada Allah swt. Nilai-nilai islam ditanamkan kepada anak-anaknya, sehingga anak-anaknya mempunyai tujuan hidup yang pasti ketika berada di dunia.

Dikala anaknya pun gugur di medan perang ummu imaroh terlihat sangat bahagia, karena anaknya meninggal pada jalan yang mulia.

Sesuai denga firman Allah:
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً
Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.(QS Al-Furqon: 74)

Hal ini terlihat ketika aqidah sudah tertancap kuat dalam diri seseoarang, apalagi seoarang ibu yang akan menjadi teladan untuk anak-anaknya, karena anak yang sukses terlahir dari ibu yang tangguh.

Semuanya tidak terlepas dari peran negara, karena negara pulalah penentu baik buruknya generasi yang akan dilahirkan. Kalaupun negaranya abal-abalan dalam mengatur dan mengelola kebijakan negaranya, maka saat inipun bisa diprediksikan bagaimana kualitas dan kuantitas generasi yang akan dilahirkan.

Maka dari itu penting adanya sebuah negara, karena negara merupakan penjaga dan juga benteng untuk masyarakatnya, agar masyarakat melakukan aktivitas sesuai dengan aturan dan tidak keluar dari koridornya, apalagi menstandarkan pada asas amanfaat semata.

Semua dapat terkondisikan karena sesuai dengan kondisi lingkunganya, generasi yang berjiwa pemimpin, mempunyai aqidah yang kokoh dan generasi bertanggung jawab hanya terlahir dari sistem islam.

Penulis : Yuli 
×
Berita Terbaru Update