Notification

×

Iklan

Iklan

Katakan yang Hoax Meski pun Pahit

Sabtu, 23 Juni 2018 | 08.57.00 WIB
Ilustrasi (foto : Rubrik bahasa)
Indikatorbima.com - Puasa kali ini ada sedikit yang kurang menggembirakan. Pasalnya doa jelang berbuka yang sudah kami amalkan puluhan tahun ternyata dibilang dhaif bahkan ada mubaligh yang dengan keras bilang palsu. Allahuma laka shumtu ... di vonis dhaif dan tidak layak pakai padahal dulu dibilang paling shahih.

Tak urung jamaah Padhang Makhsyar berkonfirmasi ke rumah pada kajian berikutnya tentang nasib doa nya yang sudah puluhan tahun mereka amalkan. Bahkan beberapa malah minta garansi semacam jaminan bahwa doa yang baru dikenalkan (dhahabat dhamaa'u) sebagai pengganti tidak bernasib sama (di-dhaif-kan setelah puluhan tahun di-amalkan) seperti doa sebelumnya.

Imam Ahmad masih lenggah di Majlis-nya, dihadapan ratusan murid yang ta'dzim mendengar. Termasuk Al Atha salah satu murid kesayangan. Pada saat ketika salah seorang santri bertanya apakah menyelai jari tangan dan kaki bagian dari sunah.

Imam Ahmad menjawab ringkas: tidak. Sang murid pun ta'dzim. Baginya jawaban dari gurunya sudahlah mencukupi. Tapi tidak bagi Al Atha. Ia telah mendengar hadits bahwa menyelai jari tangan dan kaki adalah sunah. Al Atha telah mendengar kabar bahwa menyelai jari ketika berwudhu adalah sunah.

Namun ia tak langsung menyampaikan kepada gurunya yang tengah duduk di mimbar majelis dengan jawaban : tidak. Al Atha menunggu teman twman nya pulang. Hingga setelah sepi Al Atha mendekat. Dengan ta'dzim dan santun ia sampaikan hadits tentang Sunahnya menyelai jemari. Imam Ahmad mendengar dengan lapang hati dan halaqah berikutnya Imam Ahmad menyampaikan tentang Sunahnya menyelai jemari saat berwudhu.

Menyampaikan kebenaran meski pun pahit tak harus dilakukan dengan sikap menyakiti yang berimplikasi salah paham bahkan beberapa merasa diremehkan. Bagaimanapun kebenaran harus diterima dengan senang hati bukan dengan kooptasi atas nama kebenaran meski pahit lantas bisa menyampaikan kebenaran dengan cara apapun tanpa mengindahkan akhlakul karimah. Apa perlu menyampaikan ke dhaifan atau kepalsuan hadits pada jamaah yang terbilang awam, justru akan berbalik melahirkan kegaduhan dan ketidak-percayaan.

Ironisnya justru makin parah, sebab kabar hoax juga disampaikan pada halaqah-halaqah bahkan pada khutbah-khutbah sakral. Masyarakat awam kesulitan memilah mana yang haq dan hoax sebab diucap dari lisan panutan yang sama. Kebiasaan kita adalah menelan mentah apapun informasi tanpa tabayyun. Seakan haq dan hoax adalah pasangan yang saling menggenapi. Yang haq dan hoax urap menjadi satu dan kita makin lezat mengunyah tanpa filter.
Wallahu a'lam

Penulis : @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
×
Berita Terbaru Update