Notification

×

Iklan

Iklan

Menguak Makna Puisi Aku Ingin Karya Sapardi Djoko Damono

Jumat, 18 Mei 2018 | 20.58.00 WIB
Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Di era globalisasi saat ini, masyarakat sudah kurang tertarik dengan keberadaan puisi. Jangankan maknanya, puisinya saja belum tentu mereka tahu dan bisa membacakannya. Mungkin sebagian msyarakat yang sudah lanjut usia masih mengerti tentang apa itu puisi dan siapa saja sastrawan yang terkenal membuat berbagai karya puisi pada eranya terdahulu.

Mungkin mereka akan menyebutkan nama Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono jika seseorang melontarkan pertanyaan yang berhubungan dengan puisi. Hal itu disebabkan karena pada zaman itu merekalah sastrawan terkenal dan diakui oleh masyarakat karena karya-karyanya yang memiliki makna serta pesan yang bermanfaat bagi kehidupan.

Namun, seiring berjalannya waktu puisi mulai dilupakan oleh sebagaian masyarakat terutama remaja saat ini. Banyak sekali remaja yang tidak mengenal sastrawan-sastrwan yang membuat puisi-puisi yang tenar pada dulunya.

Mereka akan kebingungan jika seseorang menanyakan hal yang berkaitan tentang puisi khususnya yang paling mereka tahu. Sebagian remaja yang tertarik dunia kesastrawanan mungkin akan tahu, tapi tidak dari sebagian yang tidak tertarik dengan dunia sastra mampu mengetahuinya.

Pikiran-pikiran mereka yang sudah dipenuhi dengan hal-hal yang lebih menarik dari hakikat puisi yang setiap baitnya mengandung unsur makna yang indah. Hal itu sangat miris bagi negara kita sendiri khususnya Indonesia.

Puisi sekarang sudah tidak dijadikan hal yang wajib untuk dipelajari. Namun, justru disetiap waktu semakin terabaikan oleh masyarakat sekitar terutama para remaja yang seharusnya menjadi bibit-bibit sastrawan yang telah meninggalkan dunia meskipun karyanya masih terus terkenang.

Indonesia seharusnya terus melestarikan sastra didalamnya dan memunculkan benih-benih kreativitas baru yang mendukung sastrawan-sastrawan muda tumbuh dan berkembang dizaman sekarang yang modern ini.

Sapardi Djoko Damono ialah seorang sastrawan yang lahir pada tanggal 20 Maret tahun 1940 di kampung Baturono kota Solo Jawa Timur. Beliau merupakan seorang sastrawan yang banyak menerbitkan karya-karya sastra yang sangat indah. Beliau dikenal sebagai pujangga Indonesia yang sangat terkemuka. Karya yang paling dikenal yaitu puisi-puisinya yang selalu menggunakan kata-kata yang sangat sederhana dan mengena sekali bagi para pembacanya. Puisinya yang sangat terkenal berjudul Aku Ingin yang diciptakan pada tahun 1989. Meskipun puisi ini tergolong dalam puisi lama, tapi hingga sekarang puisi ini sangat digandrungi masyarakat disebabkan kata-katanya yang indah dan sangat sederhana.

Melihat dari sudut pandang puisi yang dituliskan Sapardi Djoko Damono yang bertemakan cinta. Tentu saja banyak membuat banyak sekali masyarakat yang tergila-gila dan menyukai puisi tersebut. Tapi, tanpa disangka mereka tidak paham makna yang sangat dalam dari puisi tersebut. Melihat dari puisi Aku Ingin karya Sapardi disitu dengan jelas diksi yang dituliskan sangatlah sederhana namun dibalik itu terdapat makna yang sangat dalam perwujudannya.

Di dalam baris yang tertulis “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana” sangat jelas Sapardi menggambarkan perasaan yang sangat mendalam tentang cara seseorang mencintai dengan tulus apa adanya.

Sudut pandang yang terlihat jelas jika Sapardi ingin mengungkapkan tentang mencintai itu tidak harus memiliki patokan tertentu, mencintai juga tidak harus melihat status apapun, hanya dengan tulus kamu bisa merasakan arti cinta yang sebenarnya.

Sudah sangat jelas jika dari kalimat tersebut tema yang digunakan oleh Sapardi, yaitu percintaan. Kemudian dilanjutkan dengan barist kedua “ Dengan kata yang tak sempat diucapkan” terlihat pengungkapan rasa yang menekan pada kalimat tersebut.

Sapardi menggambarkan perasaan seseorang yang amat sangat dalam sehingga dia pun sulit untuk berkata-kata dan menyampaikan kepada seseorang yang ia cintai. Dilanjutkan dengan baris ketiga “Kayu kepada api yang menjadikannya abu” yang apabila digabungkan dengan kata-kata sebelumnya dapat terlihat imajinasi penulis dengan menggunakan majas personifikasi yaitu menggambarkan benda mati yang seolah-olah hidup didalamnya. Disini jelas juga terlihat pengungkapan yang sangat sulit dimengerti yang bisa berarti seseorang yang dicintainya tidak dapat menerima pesan yang ingin disampaikan dan hilang begitu saja bagaikan abu yang akan terbang tertiup angina.

Baris selanjutnya yang tertulis “ Aku ingin mencintaimu dengan sederhana” terlihat adanya pengungkapan kalimat yang sama sebelumnya yang menggambarkan perasaannya yang sangat dalam mencintai seseorang.

Kata sederhana yang dimaksudkan menunjukkan bahwa dia mencintai dengan tulus tanpa melihat segala kekurangan maupun segala kelebihan. Hanya tulus menerima segalanya tanpa mempertanyakan apapun terhadap sosok dirinya.

“Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan” pengulangan kalimat yang terjadi menjelaskan seberapa dalam rasa cinta yang ia miliki sehingga membuatnya tidak dapat menyampaikan apapun kepada dia yang ia cintai. Baris terakhir sekaligus penutup “Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” mengungkapkan rasa yang ia akan sampaikan hilang begitu saja tanpa ia tahu apa yang terjadi sesungguhnya. Disini juga jelas terlihat menggunakan majas personifikasi apabila digabungkan dengan kalimat sebelumnnya.

Penulisan puisi Aku Ingin memang terlihat sangat sederhana dalam pengolahan setiap kalimat yang dilontarkan oleh Sapardi. Namun, apabila lebih dipahami setiap baris kalimatnya akan terlihat jelas makna yang terkandung sangat mendalam. Hal itu membuat karya Sapardi sangat memiliki nilai estetika yang lebih karena jelas terlihat penggambaran yang disampaikannya sangatlah rapi dan sangat sederhana.

Sederhana yang dimaksudkan yaitu pengungkapan mencintai seseorang itu tidak perlu melihat status, fisik atau apapun. Mencintai seseorang itu hanya cukup kamu yakin dialah yang kamu pilih. Dialah yang kamu inginkan hingga nafasmu tak berhembus lagi. Dialah orang yang kamu pilih untuk mengarungi seluruh kisah hidupmu bersama.

Penulis : Fera Laras Dharmayanti (Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang)
×
Berita Terbaru Update