Notification

×

Iklan

Iklan

Kegelisahan Akan Lunturnya Karakter Bangsa Dalam Puisi Di Laut Mana Tenggelamnya

Sabtu, 19 Mei 2018 | 12.10.00 WIB
Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Kegelisahan merupakan suatu hal yang umumnya dapat menimpa siapa saja. Biasanya, kegelisahan ini memiliki berbagai macam bentuk.

Berbicara mengenai kegelisahan, puisi dengan judul Di Laut Mana Tenggelamnya karya Taufik Ismail ini membahas mengenai kegelisahan seseorang, karena ia merasa bahwa karakter-karakter bangsa mulai luntur.

Citraan dari puisi tersebut begitu lugas dan jelas. Setiap bait dalam puisi ini berisi tentang pertanyaan-pertanyaan kemanakah agaknya karakter bangsa ini? Zaman ini sangat merindukan karakter itu, seperti keikhlasan, kedamaian, ketekunan, kejujuran, dan kesederhanaan.

Puisi yang berjudul Di Laut Mana Tenggelamnya ini dibacakan Taufik Ismail pada saat mengawal sidang Ahok pada Januari 2017 lalu dilansir dari laman detik.com. Hal tersebut seperti menjadi bukti dan tanda bahwa karakter bangsa kita ini sudah mulai luntur. Sebagai buktinya, bukan hanya Ahok yang dianggap sebagai penista agama saja, tetapi juga generasi penerus bangsa yang kian hari perilakunya kian menjadi.

Makna dari puisi tersebut demikian dalam dan sarat akan nilai-nilai karakter. Bait pertama dari puisi menyiratkan pesan tentang kejujuran yang kian hari kian dipertanyakan keberadaannya. Orang-orang jujur dalam bangsa seakan hampir punah, hal tersebut dibuktikan dengan koruptor-koruptor yang semakin merajalela.

Misalnya kasus yang baru-baru ini sedang hangat dibicarakan yaitu mengenai E-KTP. Kasus tersebut hingga saat ini masih belum menemukan titik terang, bahkan semakin banyak saja oknum-oknum yang terlibat dalam kasus tersebut seperti yang dikutip dari laman sindonews.com Setnov menunjuk dua politikus sebuah partai yaitu Puan Maharani dan Pramono Anung ketika persidangan berlangsung. Kasus tersebut menjadi demikian rumit seperti benang kusut. Hal ini berarti bahwa kejujuran sangat penting untuk menguak sebuah kasus, tanpa adanya sebuah kejujuran kasus tersebut tidak akan pernah ada ujungnya.

Bait kedua dalam puisi tersebut menyiratkan pesan tentang kesederhanaan seseorang yang juga semakin sulit untuk dicari.

Pada masa sekarang ini orang-orang berlomba-lomba untuk mengaktualisasikan dirinya melalui berbagai macam cara.

Media sosial seakan dijadikan sebagai ajang untuk memamerkan apa yang mereka miliki saat ini. Berbagi aktivitas yang menyiratkan tentang keglamouran atau kekayaannya. Orang-orang yang sederhana mengasingkan dirinya karena merasa termarginalkan dan tidak percaya diri untuk menampakkan dirinya. Kaum-kaum sederhana tersebut seakan tergilas oleh gemerlapnya dunia orang-orang elit.

Bait ketiga menyiratkan tentang tanggung jawab yang mulai tenggelam bagaikan ditelan gulungan ombak di lautan luas.

Rasa tanggung jawab yang diemban seseorang begitu besar apabila dijalani dengan penuh amanah. Kini, rasa tanggung jawab seseorang kian meluntur. Misalnya, dalam sebuah jabatan kebanyakan orang terlalu terlena dengan jabatan yang diembannya.

Kekuasaan membuatnya terlena hingga ia lupa akan tugas dan tanggung jawabnya. Rasa tanggung jawab semakin terkikis oleh kemewahan kekuasaan.

Bait keempat dalam puisi ini menyatakan tentang ketekunan seseorang yang hilang entah kemana. Orang yang tekun dalam menuntut ilmu pada masa sekarang ini semakin sukar dicari.

Kebanyakan orang-orang yang tekun dalam menuntut ilmu tersebut menyerah karena merasa karya-karya yang dihasilkan olehnya tidak dihargai. Di kalangan masyarakat menengah atas berkembang paradigma bahwa pendidikan bukan hanya sebagai tempat untuk menuntut ilmu, tetapi sebagai ajang bergengsi untuk pamer kepemilikan.

Bait kelima mengungkapkan tentang keikhlasan yang antara ada dan tidaknya sulit untuk dibedakan. Kebanyakan orang pada masa sekarang ini mau membantu sesama apabila mendapatkan imbalan yang setimpal dengan apa yang dikerjakannya. Oleh karena itulah sangat sulit menemukan orang yang tulus dan ikhlas untuk membantu sesama manusia.

Bait keenam menyatakan tentang kedamaian yang semakin hari semakin sukar untuk dicari. Kedamaian bangsa kita ini sudah banyak yang mengusik. Misalnya para ulama yang dibunuh secara tiba-tiba, teror bom yang melanda bangsa kita akhir-akhir ini, dan banyak lagi kasus-kasus yang dapat dijadikan sebagai bukti bahwa kedamaian bangsa kita ini mulai terusik.

Zaman sekarang ini merindukan karakter-karakter seperti kejujuran, ketekunan, keikhlasan dan kedamaian. Bangsa ini akan semakin maju, aman, nyaman, dan tenteram apabila penduduk bangsanya menjunjung tinggi nilai-nilai karakter tersebut.

Penyair, Taufik Ismail menuliskan puisi Di Laut Mana Tenggelamnya sebagai bentuk kepeduliannya terhadap bangsa yang semakin minim akan moralitas. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa sebaiknya bisa mewujudkan keinginan para pahlawan terdahulu kita untuk meneruskan dan mempertahankan hasil dari perjuangannya.

Penulis : Alfi Qori’ah (Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang).
×
Berita Terbaru Update