Notification

×

Iklan

Iklan

HMI Itu "Sesat", Catatan Mahasiwa Kampus Hijau

Senin, 24 September 2018 | 13.45.00 WIB
Usman Nazarudin Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jakarta Timur.
Oleh : Usman Nazarudin

Himpunan Mahasiswa Islam yang disingkat HMI, berdiri tanggal 5 Febuari 1947 tepatnya 14 Rabiul awal 1366 H. Sebuah organisasi ekstra kampus, yang mana didalamnya merupakan perkumpulan mahasiswa yang beragama Islam.

Organisasi ini juga merupakan organisasi terbesar di Indonesia, dengan cabang-cabang sebanyak 200 cabang yang jumlah keanggotannya mencapai 1.000.000 orang yang terdidik pada tiap tahunnya, bahkan lebih. HMI ini juga organisasi yang berdiri sendiri, tanpa ada suatu keterkaitan dengan siapa pun. Suatu organisasi terbesar setelah TNI, organisasi ini pun turut berjuang untuk bangsa ini.

Mungkin dikalangan mahasiswa baru (maba) nama sebuah organisasi ekstra kampus menjadi sangat asing ditelinga mereka. Terlebih ketika kita melihat kenyataan bahwa calon maba enggan untuk mencari tahu seluk beluk kehidupan yang akan mereka tempuh dan hadapi selama diperkuliahan, termasuk organisasi ekstra kampus (Omek).

Berbicara tentang Omek ada satu Omek yang saya ikuti, yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ada fakta unik mengenai keberadaan Omek ini di Kampus Hijau Universitas Islam As-syafiiyah.

Praktek kecurangan yang selama ini biasa saya dengar adalah dengan menjelek-jelekkan Omek lain. Ini dilakukan tidak hanya antar Omek, tetapi juga dilakukan oleh Anti-Omek. Praktek kecurangan yang sering dilakuakn oleh seluruh Omek melalui cara yang halus atau ada yang terang terangan.

Organisasi Ekstra Kampus yang saya ikuti sekarang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dari dulu saya maba (tahun 2014) hingga kini di tahun 2018, HMI tak pernah surut dijelek-jelekkan sebagai Omek sesat.

Banyak maba yang berhasil terkena hasutan dari kakak-kakaknya yang tidak tahu dan bahkan membenci tanpa sebab kepada HmI. HMI dikatai NU lah, Muhammadiyah lah, Ahmadiyah lah, dan yang terbaru yang saya dengar dari maba 2017 sendiri adalah HmI itu ISIS atau Negara Islam Irak-Suriah yang marak ada di berbagai media elektronik, cetak maupun online.

Lucunya, ISIS baru ada di Indonesia beberapa tahun belakangan sedangkan HMI sudah ada sejak Indonesia masih berumur 2 tahun.

Saya suka jawaban dari senior saya untuk pernyataan HMI itu sesat. “Ya, HMI itu sesat! Tapi sesat menuju kebaikan!”. Telah terbukti di dalam sejarah. HMI menjadi satu-satunya Organisasi mahasiswa yang mengawal Negara ini dari dulu awal kemerdekaan hingga kini.

Peran mahasiswa sebagai Agent of Social Control, tercermin di dalam Aksi-aksi para kader HMI. Jika HMI itu sesat menyesatkan kejalan yang salah, sudah tentu umurnya takkan bertahan lama layaknya ISIS.

Nyatanya HMI adalah organisasi yang berazaskan Islam, yang jelas tercantum dalam Anggaran Dasar HmI tertuang pada pasal 3. Karena, Islam berpedoman terhadap al-Quran dan hadist dan HMI berazas Islam.

Belum lagi di HMI Komisariat Se- Universitas Islam As-syafiiyah sendiri saya dapat banyak ilmu pengetahuan. Melalui diskusi yang dilakukan, bedah buku, film, membahas isu-isu kekinian yang ada di masyarakat serta masih banyak lagi ilmu yang bisa saya dapat di HMI.

Selain belajar tentang keilmuan, di HMI pun saya diajarkan bagaimana memainkan peran sebagai Agent of social control yang terimplementasi di dalam aksi, demonstrasi. Ketika tugas sebagai Agent of social control kita sudah terpenuhi, tugas sebagai Agent of change yang akhirnya akan membawa kita menjadi Iron stock yang matang akan tercapai.

Saya punya pandangan: “Untuk apa kita kuliah bila hanya untuk mengejar nilai semata? Bukankah ilmu itu tidak bisa dinilai dengan nilai angka atau huruf?”.

Banyak sarjana muda yang ingin kerja ini itu yang akhirnya tidak kesampaian dan menjadi pengangguran di negeri ini. Ingin kaya dan bekerja dengan minim keterampilan. Gengsi diutamakan. Sudah sarjana katanya, tak mau kerja berat-berat.

Bagi saya di HMI inilah saya mendapatkan tidak hanya kuliah, tapi kumpulan pengalaman dan jaringan. Pengalaman-pengalaman dan jaringan-jaringan yang saya miliki ini nantinya akan sangat berguna di kemudian hari.

Jika mendapat IPK 4,00 itu susah, bagi saya lebih susah lagi ketika kita ingin mendapatkan pengalaman dan jaringan karena itu tidak ada di perkuliahan. Kuliah hanya materi 70%, 10% praktek kerja, selebihnya hura-hura. Jika tidak bisa menyiasati percentage itu bukan tidak mungkin anda akan kesulitan dalam kerja.

Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaumnya jika bukan manusia itu yang merubahnya. Tuhan akan membiarkan dirimu hanya menjadi “budak” bila hanya menurut apa kata yang sedang berkuasa.

Ini hanya pandangan kecil saja soal HMI UIA. Berlogikalah dulu sebelum menentukan perkataan itu benar atau salah. HMI itu jika dibilang sesat tunggu dan kaji dulu. Carilah info mengenai organisasi ini.

Bagi saya di zaman sekarang dimana internet merupakan sarana cepat saji informasi era modern dapat teman-teman nikmati dengan benar. Jika benar HMI itu ISIS, sudah barang pasti HMI masuk pemberitaan di media-media di Indonesia bahkan di Dunia.

Penulis : Usman Nazarudin
Editor    : Subhan Al-Karim
×
Berita Terbaru Update