Notification

×

Iklan

Iklan

Amal di Akhirat Menjadi Berat Akibat Politik Kekuasaan

Senin, 03 Februari 2020 | 11.47.00 WIB
Foto: Penulis
Delapan tahun silam guru saya penah berkata, nak, jika ingin mengubah daerah/tanah kelahiran, negara bahkan dunia maka jadilah penguasa. Masuk ke ranah politik, rebut kekuasaan dan lakukan perubahan serta penguatan karena hanya anak mudalah yang mampu merubah dunia dengan ide-ide cemerlangnya.

Lihatlah semangat tokoh proklamator kemerdekaan Republik Indonesia Bung Karno pernah menyatakan "Beri aku 1000 orang tua akan aku cabut gunung Semeru dari akarnya dan beri aku 10 pemuda maka akan aku guncangkan dunia" 10 pemuda yang memiliki visi besar sudah bisa mengguncangkan dunia apalagi 100 atau 1000 anak muda, karena memang masa muda adalah masa berapi-api untuk berkreasi dan berinovasi.

Ungkapan guru tersebut, memang benar tetapi akhir-akhir ini membuat saya sedikit tercencang dengan persoalan politik. Memang, kalau di definisikan politik itu sebuah cara untuk mencapai sesuatu, tanpa politik kita tidak akan hidup. Semua aktivitas kita setiap hari di dunia ini adalah politik.

Saya katakan merasa tercengang salah satunya banyak yang menjadikan politik sebagai ajang untuk mengibuli, meraup keuntungan dan yang lebih mirisnya lagi menjadkan politik sebagai keharusan untuk mencapai semua keinginan dengan apapun itu, tanpa melihat yang haram maupun yang halal , yang mubah , maupun yang makruh.

Pemahaman berpolitik akhir- akhir ini harus kembali di luruskan dengan pemahaman pemahaman agama yang bersumber dari Al Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, agar tidak semena mena mengggunakan alibi- alibi kata politik sebagai cara yang ampuh dalam mencapai semua keinginan tanpa melihat dampak yang akan di alami kelak.

Pentingnya pendidikan politik ala nabi Muhammad SAW, sosialisasi politik ala nabi Muhammad, teknik maupun taktik dakwah beliau dan cara- cara lainya dalam memperjuangkan nilai nilai kemaslahaan umat menjadi contoh yang harus di pelajari olé setiap manusia. Salah satu contoh misalnya cara berpolitik Nabi Muhammad SAW yang santun dan bijak dalam mengatukan kaum muhajirin dan kaum anshor, begitu indah jika hari ini kita mempelajarinya serta mencoba kembali membaca bagaimana perjalanan cara berpolitik Rasululah SAW pada masa kekhalifahanya.

Akhir-akhir ini mulai tergerusnya nilai-nilai politik dalam konteks pemerintahan negara saat ini yang kebanyakan tidak di jalankan dengan baik oleh aktor politik yang di berikan tanggung jawab, amanah dari rakyat sehingga tidak berjalan sesuai koridor yang di harapkan oleh warga negara. Ketika kebijakan/cara berpolitik tidak baik yang akhirnya bisa-bisa menjadi mara bahaya bagi seluruh masyarakat maupun daerah yang ada di tempat tersebut.

Kesalahan satu orang akan berdampak buruk bagi semua orang , begitupun sebalaiknya kebaikan satu orang akan memberikan dampak bagi banyak orang. Perlu di yakini juga bahwa kejahatan yang terstruktur akan di kalahlan juga dengan kebaikan yang terstruktur.

Ketidakbijakan pemerintah /aktor politik akan membawa kehancuran, padahal sejatinya politik membawa misi mulia untuk mewujudkan perubahan dan perbaikan tatanan dunia menjadi lebih baik.

Menjadi aktor politik memang saya katakan tidak mudah dalam menjalanlankannya, mereka harus siap menjaga dirinya dari tipuan, banyak cobaan, ujian yang mengeret mereka ke jurang dosa, bahkan kritikan cibiran di sana-sini dari masyarakat itu harus di hadapi dan jelas konsekuensi menjadi pejabat adalah siap untuk di kritik oleh masyarakat.

Sebenarnya ketika kebijakan yang d'i keluarkan oleh pemerintah baik dan berjalan dengan sesuai yang d'i harapkan masyarakat tentu akan bersinergi akan tetap i jika kebijakan tidak pro rakyat maka masyarkaat akan siap melawan. Iya, menjadi pemimpin itu bukan perkerjaan yang gampang karena berbicara masalah keumatan dan kebangsaan, kepentingan bersama.

Konsistensi serta pemahaman agama tentu sangat di perlukan untuk membentengi diri dalam menyikapi hal- hal tersebut.

Banyak pejabat dan birokrasi yang terjerat kasus KKN, (korupsi, kolusi dan népotisme) karena tidak adanya rasa takut akan akhirat, bahkan Prof Salim Said Guru besar UI menyatakan pejabat di Indonesia ini tuhanpun tidak ditakuti buktinya para pimpinan KPK, presiden, DPR, Gubernur, Bupati bahkan sampai dengan tingkat desa semua bersumpah diatas nama alqur'an. Akan tetapi, realitasnya kasus korupsi tetap terjadi itu artinya bahwa para pejabat politik di indonesia tuhan pun sekarang sudah tidak ditakuti lagi, kalau sudah tidak ada rasa takut pemimpinnya dengan tuhan yang telah menciptakan maka tanda tanda kehancuran dari sebuah negeri akan mulai terjadi, memang siapa yang bisa mengetahui hati dan perasaan manusia selain tuhan dan dirinya sendiri.

Politik di sini memang tidak salah, yaps, karena seperti yang sudah penulis katakan tadi bahwa politik hanyalah cara untuk mendapatkan sesuatu. Kemudian yang salah sebenarnya siapa sih? Penulis katakan salah satu yang salah adalah aktor politiliknya/orangnya, pemahaman pengetahuan dalam berpolitik, kurang pemahaman dalam agama dan tidak ada rasa takut dengan Tuhan yang telah menciptakan, tidak takutnya dengan masyarakat yang telah memberikanya amanah, kurangnya tanggung jawab serta tidak amanah dalam menjalankan tugas dan lain sebagainya. Padahal l, Aktor politik inilah yang menjadi penentu apakah program yang di agendakan berjalan sesuai dengan koridornya tempat sasaran atau tidak, pro rakyat atau tidak.

Belum lagi ketika sudah masuk pada ranah politik praksis dan jika di benturkan dengan dinamika politik akhir akhir memang menjadi pejabat (politisi) bisa di bilang keren, dan menderita karena apapun itu kebijakan harus mengedepankan hak rakyat karena prinsip pelayanan publik rakyat adalah raja, dan penguasa harus tunduk terhadap rakyat dan menjalankan program yang pro terhadap rakyat.

Pemimpin memiliki amanah yang d'i berikan masyarakat yang harus di laksanakan dengan sebaik baiknya. Setiap manusia yang terlahir di dunia ini adalah pemimpin dan semua pemimpin Akan di mintai pertanggung jawaban di hdapan Allah swt.

Menjadi politisi juga bisa dikatakan gampang- gampang susah. Kenapa penulis katakan gampang gampag susah, susahnya ketika pejabat tidak menjalankan amanah masyarakat dan kemudian melakukan hal hal yang tidak baik/terpuji dan akhirnya melanggar hukum maka siap- siap dijebloskan ke penjara.

Seharusnya politik di jadikan sebagai ladang untuk menanam pahala tetapi malah menambah dosa. Politisi/para pejabat politik memiliki kekuatatan dalam mendesain serta menjalankan program yang pro terhadap rakyat, memiliki kebijakan untuk menjalankan dan mementingkan kepentingan masyarkat di atas kepentingan individu dan outputnya politik sebagai ladang pahala dan diniatkan hanya untuk ibadah sehingga kebijakannya memberikan dampak yang baik bagi masyarkat.

Sebagai seorang politisi harus memiliki, komitmen, dalam mewujudkan perubahan. Perubahan tidak akan terjadi jika tidak ditanamkan dalam diri sikap komitmen, konsitensi, serta ikhtiar dalam membangun dan yang paling utama adalah menumbuhkan sifat takut kepada allah.

Ketika menjadi penguasa sejatinya haruslah di pahami agar kebijakan berdampak pada kebaikan untuk masyarakat bukan untuk ajang memperkaya diri, mengembalikan mahar politik yang dikeluarkan gocek yang bisa di bilang mengabiskan ratusan bahkan milyaran rupiah. Maka,jadilah penguasa yang pro terhadap rakyat, mementingkan kepentingan rakyat dan bekerja atas nama rakyat.

Realitas yang terjadi sekarang, memang tidak sesuai seperti yang di harapkan. Sangat ironis dan menyedihkan sekarang ini ketika menjabat banyak pejabat yang lupa akan janji janji politiknya, yah, betul yang namanya politik, tidak ada kawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan abadi tetapi hal ini harus di luruskan sehingga kepentingan masyarakat menjadi segalanya dan semuanya hanya untuk rakyat.

Memang banyak sekali sekarang ini yang naasnya ketika menjabat selalu mengedepanlan kepentingan kelompok , golongan, tim sukses dan para koloni koloni yang telah memperjuangkanya, Maka tidak heran jika banyak para politisi yang melakukan KKN korupsi ,( kolusi dan nepotisme,) dengan harpaan mengembalikan dana kampange yang sudah di habiskan /mungkin melakukan money politik pada saat proses pemilihan.

Penulis ingin mengajak kembali kepada tuntunan nabi, belajar cara berpolitik yang baik. Sebagai junjungan yang agung, nabi Muhamamd SAW sebagai suri tauladan yang baIk bagi muat manusia dan merupakan pembawa wahyu Allah swt.

Di tengah carut marutnya negara dan pelaksanaan pemerintah negara hari ini setiap orang/pemerintah (Ulil Amri) mempelajari bagaimana perjalanan hidup beliau, cara berpolitik beliau, sifat beliau, dan hal-hal lainya karena sebagai baiknya akhlak manusia adalah akhlak yang di memiliki nabi muhammad SAW. Di sini penulis tidak menyatakan bahwa negara kita harus berpaham khilafah yang semua nya harus bersyariat islam , karena berbeda kaitannya dengan negara seperti Arab Saudi yang menggunakan sistem islam maupun negara negara di timur tengah.

Lagi-lagi karena jika ditinjau dari historis perjalanan bangsa indonesia terbntuk dari berbagai multikultur masyarakat, budaya, saat istiadat, suku, ras, agama yang sangat banyak dan disatukan menjadi NKRI akan tetapi yang perlu ditekankan oleh penulis agar bagaimana sejatinya dalam proses perjalanan hidup manusia di dunia dalam berpolitik pada kehidupan sehari- hari misalnya sesuai dengan apa yang telah di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang telah di wahyukan oleh Allah SWT.

Semua profesi yang dijalankan oleh setiap orang di dunia ini adalah pilihan, silakan pilih apakah ingin menjadi politisi, pendidik, ahli agama, tukang montir, ataupun yang lainya. Tebarkan manfaat untuk dan raih kebagaiaan dunia dan diakhirat dengan memperbanyak amal ibadah.

Kehidupan ini menuntut kita untuk terus berjuang dan berusaha semaksimal mungkin, terus melangkah agar jejak perjalanan sampai pada garis finish sehingga mendapat kebahagaian dunia maupun akhirat.

Ketika godaan dunia/tipu dunia yang datang dengan segala cobaannya, dan kemudian menghasut relung pikiran manusia yang menjadikan dunia sebagai salah satu tujuan akhir dari kehidupan maka cara terbaik adalah kembali mendekatkan diri kepada allah, perbanyak memperdalam ilmu ilmu agama, dan memang sudah jelas dalam alquran yang menyatakan dunia ini hanyalah panggung sandiwara dan lebih parahnya lagi dunia ini tipuan belaka, tipuan belaka jika tidak bijak dalam menyikapi dunia yang sementara maka kita akan menjadi manusia yang merugi. Dunia ini menjadi pijakan kita untuk menamam sehingga kelak di akhirat bisa kita petik hasilnya. Jadikan politik sebagai ibdah yang akan menjadi bekal di akhirat , sebagai pemberat tiimbangan amal di akhirat kelak.

Penulis : Taufiqurrahman
×
Berita Terbaru Update