Notification

×

Iklan

Iklan

Guru Tempo Doeloe Murid Zaman Now

Rabu, 19 Juni 2019 | 11.50.00 WIB
Foto: Penulis
“kita bosan dengan pembelajaran ini, bu.”

Pembelajaran adalah suatu proses belajar dari ketidaktahuan menjadi lebih tahu, dari tidak bisa menjadi lebih bisa. Seperti halnya dalam kutipan di atas, pembelajaran harus dimodifikasi sedemikian rupa, agar peserta didik tidak merasa bosan dan jenuh ketika belajar. Hal tersebut terjadi sebab media atau strategi dalam pembelajaran monoton dan hanya begitu saja.

Perlu diketahui juga bahwa sekarang peserta didik lahir di era yang lebih pesat kemajuannya, sehingga dengan kemampuan atau strategi pembelajaran zaman dulu maka akan terkesan membosankan. Selain dari strategi dan media belajar yang harus diperhatikan, kompetensi yang dimiliki oleh guru pun harus seimbang dengan perkembangan peserta didik zaman sekarang.

Guru tempo dulu (masih mengenal bolpoin dan kertas) harus beradaptasi dengan murid zaman sekarang yang notabenenya hidup bersama gadget. Maksud dari guru tempo dulu adalah seorang yang pada zaman dahulu belum mengenal dunia gadget dan saat ini mendidik generasi era serba canggih. Berbeda dengan guru zaman dahulu, yang merupakan para pendidik yang berada pada zaman dahulu.

Perlu diketahui bahwa sekarang zaman tumbuh bersama dengan benda yang bernama gadget, tanpa benda tersebut semua orang akan merasakan keluhan. Begitu halnya dengan media pembelajaran, suatu pembelajaran tanpa media yang diimbangi dengan perkembangan zaman maka akan tergerus oleh arus.

Guru tempo doeloe mengajarkan murid zaman now

Perkembangan zaman menghantarkan masyarakat kepada keserbapraktisan, dibuktikan dengan apapun dapat diatasi oleh jaringan internet. Cara mengajar guru zaman dulu sangat rinci dan detail, hal tersebut disebabkan oleh kurangnya sumber informasi pun berbeda dengan sekarang yang segala materi disajikan di layar gadget.

Pembelajaran yang detail dan kegiatannya hanya berada di dalam kelas merupakan pembelajaran yang terkesan jadul. Hal tersebut tidak sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Dengan demikian, ketika dihadapkan oleh peserta didik zaman sekarang, cara guru tempo dulu menjelaskan suatu materi secara singkat dan untuk lebih detailnya peserta didik mencari permasalahan di layar gadgetnya sehingga peserta didik tidak merasa jenuh dengan pembelajaran satu arah.

Peserta didik zaman sekarang lebih menuntut guru untuk menghasilkan suasana pembelajaran dengan cara yang berbeda dari yang terdahulu. Penggunaan teknologi merupakan salah satu yang digunakan guru tempo dulu berjalan beriringan dengan perubahan zaman. Kapur atau spidol yang digunakan oleh guru tempo dulu, sekarang berubah menjadi proyektor dan mikrofon. Dengan demikian guru tempo dulu memakai fasilitas, merupakan senjata besar, tersebut untuk mengajarkan kepada murid zaman now (sekarang).

Guru tempo dulu pun tidak memberikan tugas seperti dahulu berupa lembaran, isian, atau pun pilihan ganda melainkan tugas proyek. Selain menjadikan peserta didik lebih kreatif , tugas tersebut dapat melatih peserta didik untuk bekerja dalam tim. Hal tersebut merupakan suatu inovasi dari guru tempo dulu untuk mengajarkan sebuah perubahan yang di dalamnya terdapat nilai tambahan berupa kerja sama tim. Tidak ada lagi kegiatan mendikte, namun kegiatan memperluas materi dijadikan bahan agar peserta didik lebih maju.

Hubungan guru tempo doeloe dengan murid zaman now

Paribasan “guru iku diguguh lan ditiru” (guru itu dihormati dan diikuti) merupakan hubungan harmonis yang dilakukan pada zaman dulu. Hal tersebut tetap sejalan di era serba canggih ini namun dengan cara yang berbeda. Guru tempo dulu terhadap murid zaman sekarang lebih bisa berbicara dengan santai, bahkan dapat bercanda dan curhat.

Berbeda dengan dahulu yang notabenenya guru wajib dan harus dihormati sehingga secara tidak sadar menimbulkan adanya jarak antara pendidik dengan peserta didik. Dengan demikian, peserta didik tidak dapat memiliki relasi ‘kawan’ dan guru-gurunya.

Guru tempo dulu dalam berelasi dengan murid zaman now, lebih dimodifikasi sedemikian rupa salah satunya aktif di media sosial. Hal tersebut merupakan cara guru tempo dulu untuk mengikuti perkembangan media sosial.

Hubungan pertemanan dalam dunia maya merupakan cara termudah untuk mengetahui kegiatan peserta didik di luar sekolah, guru tempo dulu pun memanfaatkan media ini untuk memantau. Zaman dahulu, para guru tidak bisa mengetahui kegiatan peserta didik di luar sekolah kecuali bertanya langsung ketika berada di sekolah. Namun dengan adanya media sosial guru tempo dulu dan murid zaman sekarang dapat mengetahui kegiatan apa saja yang dilakukan di luar sekolah.

Guru tempo doeloe memberikan nilai murid zaman now

“Prosesnya dulu, nilai akhir kemudian” kata-kata tersebut dibilang masih melekat dalam pikiran masyarakat. Guru tempo doeloe selalu memberikan nilai sesuai aspek-aspek dalam mengevaluasi peserta didik, diantaranya aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan ketiga aspek tersebut guru tempo doeloe selalu mengolaborasikan zaman penilaian zaman dahulu dengan sekarang. Sebab, penilaian yang dilakukan sama halnya pada zaman dahulu dengan cara dan kolom pemberian nilai yang berbeda.

Guru tempo doeloe harus siap menghadapi murid zaman now dengan berbagai kemungkinan yang terjadi. Sebab di zaman sekarang pun murid dengan nilai yang tinggi tidak menjamin sikapnya baik. Dengan demikian, peran guru tempo doeloe dalam ikut andil mencerdaskan bangsa harus memiliki karakter yang kuat dan berintegritas serta melek teknologi.

Guru tempo dulu yang berada dalam lingkungan murid zaman now harus mampu menerjemahkan kemajuan teknologi bagi proses pembelajaran.

Guru yang kurang percaya diri terhadap teknologi dalam proses pembelajaran akan dianggao sebagai guru yang membosankan.

Upaya yang harus dipersiapkan dalam pola pendidikan di zaman sekarang, yakni merangkaikan proses dalam menggiring generasi millennial ke dalam ruang positif pemanfaatan teknologi.

Guru tempo doeloe pada posisi ini merupakan actor utama dalam peran pendidikan, yang melek teknologi dan mampu menggiring peserta didiknya dalam menggunakan teknologi secara tepat, aman dan bertanggung jawab.

Penulis: Eka Wijayanti
(Mahasiswa UMM Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan anggota Himpunan Mahasiswa Islam)
×
Berita Terbaru Update