Notification

×

Iklan

Iklan

Putin, Lee, Adolf Hittler dan Logika Rakyat

Sabtu, 07 April 2018 | 09.10.00 WIB
Ilustrasi (foto : Korpusopb)
Indikatorntb.com - Dari Indonesia bakal bubar tahun 2030, dan cercaan terhadap pemimpin goblok mental maling, hingga sesal tak lakukan coupd 'etat dan pernyataan politik entah apalagi dalam berbagai pidato yang riuh, akan kian menunjukkan kapasitas macam apa yang dipunya. Di lain tempat beberapa pernyataan tentang Indonesia butuh sosok pemimpin beringas sekelas Putin dari negara paling komunis atau kapitalis sekuler semacam Lee Kuan Yew. Saya pikir ini bermula dari mental politisi panik, kebingungan yang tak perlu disebutkan alasannya kenapa.

Kita tidak pernah sebut kriteria macam apa yang dibutuhkan untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini. Bukan deret gelar akademik atau status sosial dan simbol keagamaan yang dipersyaratkan. Kita hanya mengenal pilihan lewat pungut suara. Suara Prof Mahfud MD sama dengan suara tetangga saya yang tidak bisa baca tulis. Suara pak Prabowo Soebiyanto juga sama dengan suara anggota linmas di RT sebelah rumah. Suara Jendral Gatot Nurmantyo juga sama dengan suara komandan satpam di perumahan. Suara yang mulia Habib Rizieq dihargai sama dengan suara seorang marbot masjid. Kita menganut one man one vote. Tak ada yang istimewa semua sama: satu suara.

Kurang pintar apa Prof Yusril, tapi partainya tak pernah melampaui 2 persen suara (1,79%) dalam setiap pemilu yang diikuti. Perolehan yang amat dan sangat kecil dan jauh dari taskhold 20% untuk bisa nyapres. Bahkan Partai elite Islam yang dihuni orang-orang pintar ini nyaris bubar tak dapat ikut pemilu karena tak memenuhi syarat dan harus berjibaku hanya untuk mendapat nomor urut.

Politik memang aneh. Dan logika rakyat tak bisa dicandra dengan akal semata. Rakyat punya pertimbangan sendiri kepada siapa suara diberikan. Jangan dikira dengan pemberian uang atau lainnya lantas bisa mengikut apa yang kita inginkan. Di bilik suara itu, mereka merdeka berkuasa. Hanya Tuhan yang bisa mengarahkan, menetapkan atau merubah kemana suaranya bakal diberikan. Di kampungku malah ada pendukung tim sukses fanatik calon kepala desa keliru memilih musuhnya.

Suara rakyat adalah suara Tuhan. Memang sarat makna. Sebab itulah Tuhan memberikan isyarat bahwa kekuasaan adalah mutlak milik Allah. Allah akan berikan kepada siapa yang dikehendaki dan akan cabut kekuasaan itu kepada siapapun yang dikehendaki dengan cara dan teknis yang Allah saja yang tahu.

Katakanlah, “Wahai Rabb Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. [Ali ‘Imrân/3:26].

Indoenesia butuh Putin, yang lain berkata kita butuh Lee Kuan Yew, yang lain lagi berkata butuh sosok Ahmadenajad dan saya berkata, kita butuh Adolf Hitler. Atau Nikita Kurcheuv yang licik dan mentoloan. Model apapun yang kita persyaratkan, pada akhirnya rakyat yang tentukan siapa yang di suka dan siapa yang tidak di suka. Kepada calon yang dikehendaki Tuhan itulah, suara rakyat mendekat.

Siapapun boleh berencana. Mengatur strategi dan siasah. Mengatur penampilan bahkan materi pidato untuk memikat jutaan rakyat. Seperti halnya Demosthennes yang mampu mengunci diri di gua belajar orasi berbulan-bulan. Dan jangan lupa akhirnya Demosthenes 'keplicuk' karena kerap mengumbar kata-kata tak patut biar terlihat heroik di depan publik. Pidatonya yang riuh itu justru berbalik menggulung dirinya. Demosthenes pun kembali kalah.

Pada akhirnya politik adalah soal mencari pertemanan bukan memperbanyak lawan. Sebagus apapun program, se-heroik apapun pidato akan tak berguna jika yang didapat hanya lawan bukan kawan, lalu untuk apa. Bukankah pidato hanyalah salah satu alat untuk mendulang dukungan bukan membuka front untuk saling berhadapan. Sayangnya orang kecil tak butuh banyak pidato.

Rakyat tak sebodoh yang kita bayang. Bahkan lebih pintar ketimbang para pengamat lulusan luar negeri. Mereka punya logika sendiri apakah mereka akan memilih sosok pemimpin seperti Putin, Lee atau HitLer atau hanya sekelas Kang Sejo yang kalau pidato terlihat plonga-plongo, tapi di suka banyak orang kampung, lantas kita mau apa ... ".

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar
×
Berita Terbaru Update