Notification

×

Iklan

Iklan

Menjemput Tuhan di Langit Dunia

Sabtu, 07 April 2018 | 09.15.00 WIB
Iluatrasi (foto : Gambar Walpaper HD)
Indikatorntb.com - Pengikut Musa merajuk ingin bertemu dengan Allah. Berkali Musa bilang bahwa Allah tak bisa dilihat dengan mata telanjang di dunia. Para pengikut tak menyerah dan terus berharap kepada Musa as agar Allah berkenan hadir dalam jamuan yang bakal diadakan. Musa pun mengalah dan kembali bermunajat menyampaikan keinginan pengikutnya kepada Rabbnya.

Kepada Musa as Allah berjanji datang sesuai yang mereka inginkan. Kota dibersihkan, rumah dipeRmak, jalan diperlebar, air dialirkan, onta, sapi, dan ternak disembelih segala masakan dengan berbagai menu disajikan, rebana ditabuh, nyanyian dan pujian didendangkan. Pakaian terbaik, minyak wangi, semua bersolek dan berdandan menyambut kedatangan Tamu Agung: Allah tabaraka wataala.

Mereka berkumpul di suatu tempat yang telah ditunjukkan oleh Musa. Segalanya telah siap sesuai janji Allah swt kepada Musa as. Hingga pada hari dan jam yang telah ditentukan Allah belum juga datang. Musa mulai gelisah para pengikutnya apalagi. Hingga waktu menjelang tengah malam Tamu Agung itu tak juga kelihatan. Sebagian mulai kecewa, ada yang menggerutu dengan kata tak patut. Sebagian yang lain mencoba tetap bersabar.

Ditengan gelisah dan kecewa yang sangat. Datang orang tua dengan pakaian kumal. Ia datang dengan perut lapar dan haus yang sangat. Pengemis tua itu meminta sedikit makanan dan minuman. Tapi ditampik dan ia diusir. Ia tak pantas masuk pada jamuan makan yang diperuntukkan untuk Tamu Agung yang bakal datang. Orang tua lapar itu terus saja memohon tapi tak satupun berani menyentuh jamuan sebelum Tamu Agung datang. Orang tua lapar itupun pergi dengan perut yang semakin perih karena lapar yang sangat.

Waktu mulai pagi. Pengikut Musa pulang dengan kecewa tidak terperi, makanan mulai dingin karena tak satupun berani bersantab. Tempat Jamuan mulai sepi meninggalkan sumpah serapah dan raut kecewa. Begitu pula Musa yang banyak mendapat protes karena gagal menghadirkan Tuhan.

Musa pun kembali ke gunung thursina mengadukan semua perihal dan mengklarifikasi kenapa Allah SWT urung hadir. Allahpun memberikan jawaban yang mengejutkan: "Musa aku telah hadir tapi engkau telantarkan. Kehadiran Ku ditolak, permintaan Ku ditampik dan mereka mengusir Ku pergi. Aku ada pada mereka yang lapar maka beri Aku makan, pada mereka yang haus maka beri Aku minum, pada mereka yang telanjang maka beri Aku pakaian, pada mereka yang sakit maka kunjungi Aku. Pada mereka yang susah maka hiburlah Aku, Aku ada diantara mereka".

Hakikat Allah bukan dalam bentuk wujud fisik yang bisa dicandra dengan indra. Allah maha lembut dan terlalu mulia dipandang. Tapi Allah dekat bahkan lebih dekat daripada urat nadi. Allah mengabulkan semua doa. Mengobati yang sakit. Memberi makan pada yang lapar, memberi minum pada yang haus. Menghibur pada mereka yang sedih memberi kabar baik dan buruk. Aku sesuai prasangka hambaKu maka jangan sekali-sekali kamu mati kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Ku.

Tuhan, Malam ini aku kembali bersimpuh berharap kunjungan dan Sentuhan lembut tangan-Mu tapi serasa Kau kian menjauh. Terus saja mulutku basah menyebut kalam suci-Mu tapi hatiku tak juga tersentuh. Tuhan maafkan kesombongan dan kerasnya hatiku. Tuhan...maafkan aku...Wallahu a'lam.

Penulis : @nurbaniyusuf Komunitas Padhang Makhsyar
×
Berita Terbaru Update