Notification

×

Iklan

Iklan

Darurat Santun

Minggu, 08 April 2018 | 14.11.00 WIB
Ilustrasi (foto : Sinar Pencerahanku).
Indikatorntb.com - Hanya satu kata: balas !
Jangan memberi maaf waktunya membalas. Demikian kira-kira maksud sebuah artikel yang ditulis salah seorang ulama yang diikuti puluhan bahkan mungkin ratusan pengikutnya. Maka hujatan dan cacian pun tumbuh subur. Ibarat api di siram minyak, umat Islam menjadi semakin beringas karena perilakunya mendapat pembenaran dan di jamin masuk surga. Tak ada maaf untuk setiap kesalahan, tak ada toleransi untuk setiap perbedaan.

Caci dan maki bukan hanya kepada umat beragama lain tapi juga internal umat Islam sendiri. Merasa paling benar sendiri. Membubarkan halaqah kawan seiman yang dianggap berbeda atas nama intoleran, berbalas dengan pernyataan kawanan radikal dan ekstrimis, kebhinekaan dan pluralisme semua jadi pembenar bagi tindakan masing-masing.

Sikap umat Islam makin mengeras karena perbedaan dianggap dosa. Masing-masing memonopoli kebenaran. Tanpa kata tanya. Pertengkaran bukan hanya kepada mereka yang kafer bahkan kepada saudara seiman yang berbeda. Bahkan ulama sendiri sekalipun jika berbeda dan tidak se-aliran akan bernasib sama : di bully dan dilawan bila perlu dibubarkan halaqahnya karena perbedaan dianggap sebagai ancaman.

Politik telah menjadi berhala baru. Maka siapapun yang berbeda pilihan politik adalah musuh yang harus dikalahkan meski kerap satu shaf saat shalat. Islam sudah tak lagi menjadi perekat persaudaraan. Kita sedang tidak memperjuangkan Islam tapi menjadikan Islam sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan kita masing-masing. Islam makin terbenam tertutup ego dan nafsu.

Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang agaknya mulai luntur, di negeri ini bukan lagi hujan batu tapi hujan caci dan maki. Beberapa ulama dengan gigih mencari hujjah untuk mencari pembenar bahwa memaafkan tak lagi penting.

Dunia semakin riuh. Para pembenci beranak pinak. Dendam dan permusuhan terus bersemai. Pemaafan menjadi barang mewah. Sebagian ulama tak lagi mengajarkan kesantunan tapi pembalasan. Mudah berkata sesat dan kafer. Lalu mengajarkan pembalasan bukan pemaafan. Seakan lupa dengan firman Allah: "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (balaslah) kejahatan itu dengan cara yang lebih baik (pembalasan yang lebih baik), sehingga orang yang ada rasa permusuhan diantara kamu dan dia, akan seperti teman yang setia".

Kesantunan dan kelembutan hilang sudah. Sebagian umat ini menjadi kawanan penista. Penista agama dibalas dengan menista-penista agama. Riuh tidak karuan antara kepentingan personal dan kepentingan politik yang di-agama-kan.

Siapa berhak dimintai maaf dan siapa punya otoritas memberi pemaafan terhadap orang yang dianggap menista agama sudah tak lagi jelas. Karena setiap kita telah merasa 'paling'. Maka maaf harus diminta dengan cara pungut suara. Peran dan otoritas negara yang berhak memberi kata putus ditinggalkan. agar maaf tidak diberikan lewat pungut suara .. negara punya otoritas untuk memberi pemaafan atau hukuman ...

Tak terasa kita telah mengambil sebagian peran Allah taala. Bukankah hanya Allah yang berkewenangan dimintai pemaafan dan berotoritas mutlak memberi pemaafan dari para pendosa dan penista agama.

Lalu dimana Allah tabaraka wa taala yang Maha Dimintai Maaf dan Maha Memberi Maaf itu .. ?

Penulis : @nurbaniyusuf
PADMA-Community
×
Berita Terbaru Update