Notification

×

Iklan

Iklan

Sistem Pendidikan Sekuler Pemicu Degradasi Moral Generasi

Selasa, 23 Juni 2020 | Juni 23, 2020 WIB Last Updated 2020-06-23T11:36:23Z
Foto: Penulis 

Maju mundurnya sebuah negeri tak lepas dari peran generasi mudanya. Sebab tak bisa di pungkiri generasi muda merupakan aset bangsa yang keberadaannya untuk melanjutkan estafet pembangunan. Generasi yang cerdas, berakhlaq, shalih, berdedikasi, tentu menjadi harapan dalam mengisi dan memajukan negeri.

Namun hari ini faktanya sangat miris, bagaimana tidak, perilaku kerusakan remaja saat ini sangat memprihatinkan. Hampir semua berita yang kita dapatkan, baik melalui media televisi, sosial media, maupun media cetak tidak pernah luput dari masalah kenakalan remaja masa kini. Mulai dari sex bebas dari kalangan pelajar SD sampai mahasiswa semakin tahun mengalami peningkatan, dan ini menggejala seperti gunung es.

Bahkan siswa SD sudah ada yang terinveksi hiv/aids seperti yang terjadi di Situbondo dan Surabaya. Belum lagi adanya sex menyimpang LGBT yang juga dilakukan pelajar hingga menjadi trend, kenakalan lain yang juga menyesakkan dada konsumsi narkoba tertinggi menurut data BAN terjadi pada remaja. Sungguh hal ini menunjukkan bahwa generasi muda sudah diambang kehancuran.

Menanggapi fenomena ini para pemangku kebijakan pun telah melakukan berbagai upaya dibidang pendidikan untuk “mengobati” berbagai penyakit yang menimpa generasi bangsa. Mulai dari seminar-seminar, workshop, bahkan merubah kurikulum menjadi berbasis karakter dan berbagai solusi lainnya sudah dilakukan namun masalah remaja tak kunjung selesai.

Lantas apa sebenarnya pangkal dari kerusakan tersebut? Ada apa dengan sistem pendidikan di negeri ini?

Jika ditelaah lebih jauh sebenarnya persoalan remaja ini terjadi disebabkan karusakan yang sistemik. Pendidikan agama dari keluarga yang sangat menipis menjadi faktor utama generasi kehilangan arah. Ditambah sistem pendidikan negeri yang sekuler hanya memberikan porsi pendidikan agama Islam 2 jam dalam seminggu, ini sangat kurang. Bagaimana mungkin generasi akan memiliki akhlaq mulia dan pribadi Islami jika pendidikan agama saja sedikit jam pelajarannya.

Apalagi jika rencana Kemendikbud ingin melebur pelajaran agama Islam dan PKN jadi satu pelajaran tentu akan semakin mensekulerkan generasi bangsa. Maka sungguh segala kebijakan ini harus ditolak, jika tidak masa depan generasi dipertaruhkan. Kacau balaunya sistem pendidikan negeri tak lain disebabkan faktor diterapkannya ideologi kapitalisme sebagai asas untuk menjalankan roda pemerintahan.

Kapitalisme yang melahirkan sekularisme-liberal pada hakikatnya adalah pemisahan agama dari kehidupan, seterusnya akan memisahkan agama dari negara yang juga secara langsung akan memisahkan agama dari pendidikan. Kelahiran sekularisme adalah hasil kompromi, yang menyandarkan kebenaran pada manfaat semata.

Pendidikan negeri diperparah lagi dengan adanya asas dari sistem pendidikan sekuler ini yaitu materialisme. Melihat dari sini sangat nampak sistem kapitalisme sebenarnya konsep ilmiah ala pendidikan sekuler, yang sejatinya hanya menjauhkan manusia dari fitrahnya sebagai mahluk ciptaan Allah SWT. Dan inilah salah satu tujuan pendidikan sekuler menjauhkan kaum muslimin dari agamanya sendiri.

Sehingga dapat dilihat hasil dari pendidikan sekuler hanya akan menghasilkan generasi yang hidupya semata-mata mengejar materi dan ijazah. Begitu lulus mereka belum memiliki skil, kepribadian, keshalihan dan keterampilan. Kebanyakan output pendidikan sekuler lebih bermental korup, terjerumus dalam lembah maksiat, generasi alay dan jauh dari harapan generasi yang akan memajukan negeri dengan karyanya.

Tentu ini sangat berbeda jauh dengan bagaimana sistem pendidikan dalam sistem pemerintahan Islam.

Dari segi tujuannya pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang memiliki: (1) Kepribadian Islam; (2) Menguasai pemikiran Islam dengan handal; (3) Menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi/IPTEK); (4) Memiliki ketrampilan yang tepat guna dan berdaya guna.

Pada tingkat TK-SD, materi kepribadian Islam yang diberikan adalah materi dasar karena mereka berada pada jenjang usia menuju balig. Artinya, mereka lebih banyak diberikan materi yang bersifat pengenalan keimanan. Barulah setelah mencapai usia balig yaitu SMP, SMU, dan PT, materi yang diberikan bersifat lanjutan (pembentukan, peningkatan, dan pematangan).

Hal ini dimaksudkan untuk memelihara sekaligus meningkatkan keimanan serta keterikatannya dengan syariat Islam. Indikatornya adalah bahwa anak didik dengan kesadaran yang dimilikinya telah berhasil melaksanakan seluruh kewajiban dan mampu menghindari segala tindak kemaksiatan kepada Allah Swt.

Kurikulum dibangun berlandaskan akidah Islam, sehingga setiap pelajaran dan metodologinya disusun selaras dengan asas itu. Konsekuensinya, waktu pelajaran untuk memahami tsaqâfah Islam dan nilai-nilai yang terdapat di dalamnya, mendapat porsi yang besar, tentu saja harus disesuaikan dengan waktu bagi ilmu-ilmu lainnya.

Sementara materi ideologi selain Islam dan konsepsi-konsepsi lainnya seperti kapitalisme-sosialisme disampaikan bukan bertujuan untuk dilaksanakan, melainkan untuk dijelaskan cacat-celanya dan ketidaksesuaiannya dengan fitrah manusia dan bertentangan dengan Islam.

Secara struktural, kurikulum pendidikan Islam dijabarkan dalam tiga komponen materi pendidikan utama, yang sekaligus menjadi karakteristiknya, yaitu: (1) pembentukan kepribadian Islami); (2) penguasaan tsaqâfah Islam; (3) penguasaan ilmu kehidupan (PITEK, keahlian, dan keterampilan).

Dalam proses pengajaran, yang menjadi faktor terpenting adanya keberadaan peranan guru yang bukan saja sebagai penyampai materi pelajaran, namun sebagai pembimbing dalam memberikan keteladanan yang baik.

Seorang guru dituntut harus memiliki kekuatan akhlak yang mulia agar menjadi teladan bagi peserta didik sekaligus profesional. Untuk menjadi profesional, maka guru harus mendapatkan: (a) pengayaan guru dari sisi metodologi; (b) sarana dan prasarana yang memadai; (c) jaminan kesejahteraan sebagai tenaga profesional, yang ini semua wajib disediakan negara.

Dalam sistem negara Islam, negaralah yang berkewajiban untuk mengatur segala aspek yang berkenaan dengan sistem pendidikan yang diterapkan. Bukan hanya persoalan yang berkaitan dengan kurikulum, akreditasi sekolah/PT, metode pengajaran, dan bahan-bahan ajarnya, tetapi juga mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah dan bahkan gratis.

Maka tugas negara juga wajib menyiapkan sarana prasarana, peralatan dan infrastruktur untuk mendukung terselenggaranya pendidikan yang berkualitas. Sehingga dapat dipastikan sistem pendidikan Islam mampu menciptakan SDM yang handal sekaligus tinggi dalam nilai agama.

Sepanjang sejarah keemasan Islam masa khilafahan telah membuktikan keberhasilan pendidikan Islam selama 13 abad lebih lamanya, yang kemudian banyak menghasikan ilmuan-ilmuan terkemuka seperti Ibnu Sina (bapak kedokteran), Alzahrawi (bapak ilmu bedah), Al Khawarismi (penemu aljabar), Abbas Ibn Firnas (penemu pesawat pertama), Ibn Al Haytam (bapak optik), Jabir Ibn Hayyan (ahli kimia ).

Dan masih banyak lagi ilmuan-ilmuan muslim yang bukan hanya ahli dalam akademik atau ilmu pengetahuan namun mereka juga adalah orang-orang yang sangat ahli dalam agama. Sejarah juga mencatat pada masa kejayaan Islam, masa kekhilafaan umaiyyah di Spanyol. Cordova pada masa itu dikenal dengan pusat ilmu pengetahuan.

Cordova mengalami kemajuan pesat dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan intelektual. Bukan hanya ummat Islam yang menjadi mahasiswa di Universitas ini, banyak mahasiswa dari berbagai negara datang termasuk mahasiswa kristen dari Eropa. Cordova di masa itu dikenal dengan “the greatest center of learning“ di Eropa.

Kejayaan Cordova banyak menginspirasi penulis barat dan banyak digambarkan oleh ahli sejarah ataupun politik sebagai cikal bakal pembawa kemajuan bagi barat di masa sekarang. Dan perlu dipahami bahwa Universitas Cordova hanya salah satu dari banyak keberhasilan Islam dalam dunia pendidikan dan ini membuktikan sistem pendidikan Islam itu pernah ada dan berhasil dalam memajukan pendidikan.

Di sinilah Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, semestinya menjadikan pendidikan Islam di masa khilafah sebagai contoh dalam memperbaiki sistem pendidikan yang bobrok hari ini di negeri ini. Mengapa kita berkiblat pada sistem barat kapitalis yang nyata-nyata merusak generasi dan masa depan bangsa? Sudah saatnya mengambil dan menerapkan sistem Islam dalam bernegara untuk keberkahan dan memajukan bangsa dan negara.

Wallahu a’lam bish shawabi.

Penulis : Nelly, M.Pd (Pemerhati Dunia Pendidikan, Aktivis Peduli Generasi).
×
Berita Terbaru Update