Notification

×

Iklan

Iklan

Covid-19 Melanda, Kok Kami Dilarang Pulang Kampung?

Kamis, 02 April 2020 | 07.16.00 WIB
Foto: Penulis
Beberapa hari terakhir media sosial seperti facebook dihebohkan dengan berbagai status dari berbagai teman-teman para mahasiswa yang ingin kembali kekampung halamannya. Kepulang kami sepertinya tidak diharapkan oleh masyrakat asalnya, sebut saja Dompu, salah Kabupaten di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sebenarnya kami mahasiswa juga tidak mau pulang kampung, tapikan orang tua kami menginginkan anaknya balik. Terus apa hubungannya dengan status mahasiswa yang ingin pulang dan tidak diharapkannya mereka pulang? Tentu semua itu ada hubungannya dengan penyebaran virus Covid-19. Sampai saat ini udah ada dua orang yang dinyatkan positif Covid-19 di NTB, menurut informasi mereka terpapar setelah pulang dari luar kota.

Kebanyakan orang Dompu dan umumnya NTB banyak memilih untuk menimbah ilmu diluar daerahnya, seperti di pulau Jawa. Berawal dari situlah kepulangan mahasiswa tidak diharapakan oleh sebagian pihak yang tidak bisa berfikir kritis, eh sori bukannya mau menjatuhkan, tapi pernyataan mereka sangatlah menyinggung perasaan kami sebagai perantau yang sebenarnya dihadapkan dengan dua pilihan, kok kayak memilih pasangan aja sih? Kan bukan memilih pasangan aja yang harus ada pilihanya, kita juga datang ke tanah rantau atas dasar pilihan kok. Lantas apa pilihannya? semua sudah pasti tau pilihannya ada dua yaitu antara pulang atau tidak.

Kedua pilihan tersebut sangatlah memembuat kami bimbang, terutama anak rantau dari Malang, kebimbangan tersebut datang ketika berbagai media mengatakan bahwa Malang merupakan area Zona Merah atau istilah kerennya Red Zone Covid-19. Mendengar hal tersebut serentak para orang tua menelpon anak-anaknya, mai dula ra ana ee (ayo nak pulang), wati caum dula ana ro? (nak ndak mau pulang kah?), hal tersebut semakin membuat kita bingung. Satu sisi kita harus mematuhi peraturan pemerintah untuk membatasi berpergian kemana-mana agar tirhindar dari virus imporan Cina tersebut.

Akhirnya teman-teman mahasiswa ada yang memilih pulang dan ada juga yang memilih stay di Malang termasuk saya, lagi-lagi itu adalah pilihan. Karena hidup adalah pilihan, kedua pilihan tersebut tidaklah pantas disalahkan.

Satu persatu teman-teman saya pada pulang, sering keluar ajakan “ mai dula ra ( ayo pulang)”, mai dulara dari pada supu mu ta rasa dou ( ayo pulang dari pada kamu sakit di kampung orang)”. Ketika memilih untuk pulang kampung, kami harus siap menghadapi tuduhan bahwa kami adalah orang yang membawa penyakit, sebenarnya tudahan tersebut tidak salah sih, namun agak sedikit lebay. dimana tidak, sampai-sampai ada yang mencaci dan menyudutkan kami bahwa anak perantau dari pulau Jawa adalah pembawa virus Covid-19, lagi-lagi saya harus mengucapkan beribu maaf akan tuduhan seperti itu, sebanar kami pulang bukan untuk senang-senang kok.

Kami tau kepulangan kami tentu memunculkan kekhawtiran dari masyarakat Dompu, kamipun bersyukur ada yang mengigatkan bahwa kepulangan kami akan membawa resiko, tapi setidaknya bahasanya bisa dijaga dikitlah, kami paham hal apa yang kami akan lakukan agar Covid-19 tidak terjagkit kepada kami maupun ke masyarakat lain. Sebenarnya Covid-19 bukan hanya datang dari kami yang memilih untuk pulang kampung loh, tapi virus tersebut bisa jadi menyebar melalui berbagai media, terutama pola hidup yang tidak sehat. Siapa tau anda-anda yang memberi komentar ala pakar profesional bisa mengidap Covid-19, seharusnya kita itu saling menjaga bukan saling mencaci maki satu sama lain.

Curhatan lain datang dari teman-teman Jogja, dimana tidak mereka dihadapkan dengan dua situasi yang sangatlah besar, yaitu Covid-19 dan meletusnya gunung merapi. Mungkin tidak semua mengetahui bahwa gunung merapi kembali mengalami erupsi Jum’at kemarin, hal tersebut tentu menambah keinginan mereka memilih untuk pulang kampung.

Ditengah-tengah situasi seperti ini sudah saatnya kita saling mendukung dan menjaga satu sama lain agar terhindar dari Covid-19, buat om, tente, abang-abang, adik-adikku mohon berhenti dulu untuk memberi komentar yang negatif terhadap kami para perantau ya, siapa tau dengan pengalaman kami hidup ditanah rantau bisa membantu kalian bagaimana caranya agar menghindari virus tersebut.

Berpikirlah yang positif, berilah dukungan kepada kami yang mengemban ilmu ditanah rantau untuk memajukan daerah kita kedepannya, harapannya buat pemerintah Provinsi NTB juga bisa memikirkan langkah yang harus diambil agar para perantau khususnya mahasiswa bisa tetap bisa pulang dengan selamat dan tidak merugikan semua pihak, karena kami disini sudah tidak tahan lagi mendengar ocean yang datang dari netizen, kuy bersatu melawan Covid-19.

Penulis: Muhammad Ardi Firdiansyah, mahasiswa Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang
×
Berita Terbaru Update