Notification

×

Iklan

Iklan

Pengelolaan Rumput Laut Upaya Mengurangi Sampah Plastik

Sabtu, 14 Desember 2019 | Desember 14, 2019 WIB Last Updated 2019-12-14T04:03:39Z
Foto: Penulis
Indonesia merupakan negara yang sebagian besar wilayahnya adalah lautan. Latar belakang Indonesia sebagai negara maritim, mendukung segala potensi-potensi yang ada berkaitan dengan sumberdaya hayati yang ada di dalamnya.

Sumberdaya hayati yang ada dalam laut Indonesia tentu sangat beragam dan bervariasi, baik dari segi ukuran, bentuk, warna dan pemanfaatannya. Berbagai jenis sumberdaya yang ada dalam laut Indonesia dapat berupa ikan pelagis, ikan demersal, ikan karang, lamun, ganggang, terumbu karang, dan berbagai macam sumberdaya makro dan mikro lainnya. Pemanfaatan sektor perikanan dan kelautan di negeri ini masih perlu mendapatkan perhatian, baik oleh pihak pemerintah maupun oleh pihak masyarakat yang mengelola.

Pengelolaan sumberdaya hayati disektor perikanan tentu mempunyai tujuan dan sasaran yang berguna untuk meningkatkan keejahteraan masyarakat, memenuhi kebutuhan, hingga mengatasi masalah-masalah yang timbul di lingkungan sekitar. Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbayak di dunia kerap mengalami masalah-masalah yang disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk tersebut.

Sektor perikanan sendiri, memegang peranan penting dalam upaya mengatasi masalah- masalah tersebut, dengan menciptakan inovasi-inovasi yang tentunya dapat menjaga kelestarian sumberdaya perikanan dan lingkungan sekitar.

Salah satu komoditas perikanan di Indonesia yang cukup banyak dimanfaatkan adalah rumput laut. Rumput laut di masa mendatang akan cukup baik, mengingat potensi perairan Indonesia yang masih cukup besar untuk mengelola dan membudidayakan komoditas perairan tersebut. Komoditas rumput laut merupakan hasil laut yang penting serta tumbuh dan tersebar hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia. Banyak manfaat dan kegunaan yang dihasilkan dari pengolahan komoditas perairan ini diantaranya, sebagai bahan baku industri khususnya pembuatan kosmetik, tekstil, dan farmasi. Selain itu, produk yang dapat dihasilkan dari rumput laut yang dapat dikonsumsi sebagai bahan makanan dapat berupa produk olahan seperti jelli, karagenan dan bentuk lainnya. Salah satu jenis rumput laut yang dapat dikonsumsi adalah Sargassum sp. yang merupakan golongan dari ganggang coklat (Phaeopyta) terbesar di laut tropis. Rumput laut ini memiliki kelimpahan yang cukup tinggi dan terdapat hampir diseluruh perairan Indonesia. Secara umum, rumput laut jenis Sargassum sp. belum banyak dikenal dan dimanfaatkan padahal, dari beberapa penelitian menjelaskan bahwa, jenis rumput laut ini memiliki kandungan gizi dan nutrisi yang cukup tinggi, seperti protein dan beberapa mineral esensial. Manfaat ini tentu dapat dijadikan sebagai dasar dalam membuat sebuah produk atau inovasi yang dapat dimanfaatkan untuk menjawab dan menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di lingkungan.

Isu-isu yang beredar mengenai masalah sampah plastik tentu tidak asing lagi bagi telinga kita. Permasalahan yang timbul sebagai akibat dari sampah plastik ini bukan hanya meresahkan kita sebagai makhluk sosial, namun hal tersebut juga memberi dampak buruk bagi kehidupan makhluk lainnya, terutama organisme-oranisme perairan.

Banyak kabar yang beredar menyatakan bahwa sampah plastik telah mengganggu dan memenuhi sebagian wilayah perairan Indonesia. Dampak dari permasalahan ini adalah ditemukannya seekor paus sperma yang terdampar di pearairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Sebanyak enam kilogram sampah plastik ditemukan di dalam tubuh hewan tersebut. Masalah ini, perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah, juga masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah plastik ini masih sangat kurang hingga akhirnya masuk dan mengotori lingkungan perairan. Pengelolaan serta pengawasan perlu dilakukan untuk mencegah dan meminimalisir hal-hal seperti ini dapat terjadi kembali.

Dunia perikanan sendiri, telah menemukan inovasi terbaru sebagai langkah konkrit dan bentuk aksi nyata dalam melawan masalah sampah, guna menjaga kelestarian habitat bagi lingkungan perairan. Bermodalkan visi kesadaran lingkungan serta misi mengganti kemasan plastik untuk makanan, diciptakanlah kemasan biodegradable atau yang ikut dapat dikonsumsi, terbuat dari rumput laut. Inovasi ini bertujuan menciptakan lingkungan yang bersih dengan menghentikan sampah plastik. Indonesia telah menjadi negara pembuang limbah plastik urutan kedua dan sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar di dunia setelah Tiongkok. Oleh sebab itu, upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi masalah tersebut adalah dengan membuat pembungkus makanan yang dapat larut dan tidak menjadi sampah serta tampa rasa. Hal ini, dianggap memiliki potensi untuk mengatasi masalah sampah plastik.

Gagasan bahwa rumput laut merupakan sumber bioplastik yang baik bukanlah suatu hal yang baru. Jenis ganggang ini, kaya akan polisakarida, yang merupakan bahan baku alami. Rumput laut tidak menciptakan limbah, dapat larut dalam air, dan merupakan penyedot karbondioksida bahkan dapat tumbuh tampa pupuk ataupun bahan tambahan lainnya. Berdasarkan pandangan sosial, pembudidaya rumput laut akan lebih meningkatkan produksi serta dari segi pendapatan akan meningkat. Jika dilihat dari segi kandungan gizi, rumput laut terdiri atas abu 29.97%, protein 5.91%, lemak 0.28%, karbohidrat 68.64%, serat pangan total 78.74%, dan iodium 282.93%. Selain itu, rumput laut juga mengandung berbagai vitamin, seperti vitamin A, B1, B2, B6, B12, C, D, E, K, serta bethacarothen dan mineral.

Beberapa kelebihan yang bisa diperoleh dari rumput laut adalah tidak menyebabkan obesitas, berkhasiat obat, meningkatkan kekebalan tubuh, dan beragam manfaat lainnya. Permasalahan tentang limbah, dewasa ini memang sangat memprihatinkan, terlebih lagi dengan pertambahan jumlah penduduk yang meningkat dari tahun ke tahun. Penggunaan plastik di Indonesia saat ini memang masih menjadi hal yang biasa di kalangan masyarakat, tanpa memperhitungkan dampaknya terhadap lingkungan. Berdasarkan data pada tahun 2016, diperoleh jumlah pengguna plastik meningkat sekitar 5.2% dari tahun 2015, dengan konsumsi plastik sebesar 4.5 juta ton menjadi 4.8 juta ton di tahun 2015. Angka-angka tersebut menunjukan bahwa tingkat pemakaian plastik meningkat dan kurangnya kemauan untuk mengganti kemasan plastik dengan alternatif lainnya. Penggunaan plastik ini dapat menyebabkan pencemaran lingkungan serta berdampak pada ekosistem lingkungan. Hal ini dapat terjadi karna plastik terbuat dari bahan yang sulit diurai secara biologis.

Berdasarkan uraian tersebut, dibutuhkan alternatif lain untuk mencegah terjadinya masalah lingkungan yang lebih luas. Alternatif yang dibutuhkan tentunya bersifat ramah lingkungan, dan mudah terurai seperti biodegradable film. Biodegradable film merupakan kemasan yang digunakan sama seperti kemasan plastik pada umumnya namun, biodegradable film ini memiliki kelebihan yakni bersifat dapat dengan mudah terurai oleh microorganisme. Keunikan ataupun kelebihan dari biodegradable film ini adalah memiliki kekuatan dan ketahanan yang relatif sama dengan kemasan lain yang berbahan dasar plastik. Bahan baku dari sumberdaya alam terbarukan dapat menjadi komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk membuat kemasan biodegradable film ini.

Salah satu contoh sumberdaya alam terbarukan dan dapat menjadi bahan baku dalam pembuatan kemasan ini adalah tanaman-tanaman yang banyak mengandung pati, dan selulosa seperti, salah satu komoditas penting perairan yakni rumput laut. Rumput laut menjadi pilihan untuk dijadikan bahan baku yang akan dikembangkan menjadi kemasan ramah lingkungan sebagai upaya dalam mengurangi sampah plastik.

Penulis: Nafila Pratiwi
×
Berita Terbaru Update