Notification

×

Iklan

Iklan

Membangun Semangat Peradaban Islam

Senin, 02 Desember 2019 | 14.57.00 WIB
Ilustrasi (Islampos)
Islam membentuk suatu peradaban yang unik dan gampang dikenali meskipun ia melintasi batas-batas ras, suku bangsa, bahasa dan geografi. Masyarakatnya dijiwai oleh semangat yang memberinya corak tersendiri pada pelbagai lembaga politik, hukum, kesenian, dan arsitektur, kesusasteraan, sains dan kesarjanaan.

Pada inti peradaban ini terdapat sikap berserah diri arti harfiah dari kata “islam” kepada realitas ilahiah, asal sejati dari seluruh manifestasi peradaban ini. Ideal ini tetap utuh sejak kelahiran agama ini. Hal inilah yang menjadi benteng pertahanan dari leburnya islam ke dalam modernitas.

Professor dan peneliti Ali.A.Allawi di Universitas National Singapore mengatakan bahwa, “Peradaban islam tidaklah berbicara tentang dimensi politik atau bahkan dimensi keagaaman dari islam. Ia berbicara tentang apakah kaum muslim bisa tetap memeluk ideal transendental itu dan bagaimana komitmen ini akan memengaruhi perilaku mereka pada tingkat individual maupun sosial”.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa, "Inti peradaban islam berbeda dari peradaban-peradaban lainnya, khususnya dari tatanan dunia yang mengglobal dan dominan, jawabannya ialah bahwa peradaban islam nyaris sebagai definisinya, harus mengakui dari yang transenden (atau yang suci, nilai luhur dan tuhan) dalam jati dirinya. Jika unsur ini tiada, islam tak bisa dipaksa memasuki dinamika modernitas tanpa merusak integritasnya.(Ali.A.Allawi.Hal:19-20).

Tiap peradaban memiliki sisi luar dan sisi dalam; sisi dalam berupa rangkaian keyakinan, dan nilai-nilai yang mewarnai sisi luarnya yang berupa aneka lembaga, hukum, pemerintah dan kebudayaan. Dimensi internal islam kini tak lagi memiliki peranan penting atau kekuatan untuk mewarnai sisi luar dimana sebagian besar kaum muslim hidup.(Hal:22).

Jika umat muslin ingin menjalani kehidupan lahiriah yang merupakan ekspresi dari keimanan terdalam mereka, mereka harus kembali bagian-bagian dalam ruang publik yang telah diserahkan pada pandangan dunia lain selama beberapa abad. Jika umat muslim tidak dapat menghimpun sumber daya batiniah dari agama mereka untuk mencipatakan kehadiran lahiriah yang berkekuatan peradaban, maka islam sebagai sebuah peradaban mungkin akan hilang.

Masa depan kebudayaan dan peradaban islam mungkin masih akan dipengaruhi oleh pemberontakan- pemberontakan yang terserak oleh orang-orang muslim yang tak puas, tetapi lama kelamaan intensitas serta cakupannya akan melemah.
Dengan demikian, bahwa salah satu cara untuk membangun kembali semangat perjuangan, jati diri, kebudayaan dan peradaban islam adalah dengan menghidupkan atau menghayati kembali seperti yang dikatakan Professor Ali.A.Allawi adalah bahwa peradaban islam harus mengakui dari yang transenden (atau yang suci, nilai luhur dan tuhan) dalam jati dirinya. Jika unsur ini tiada, islam tak bisa dipaksa memasuki dinamika modernitas tanpa merusak integritasnya.

Karena memang, risalah atau ajaran pertama yang dibawa oleh para nabi-nabi terdahulu kepada setiap ummatnya adalah menyampaikan nilai-nilai ideal transendental atau nilai ketauhidan yaitu berserah diri, atau menjalankan setiap perintah dan menjauhi segala larangan dalam agama islam itu sendiri. Juga, sumber ajaran atau pedoman perilaku setiap umat islam adalah sudah tertera dalam al-qur'an dan hadis.

Hanya dengan mengetahui, meneliti dan mentaddaburi al quran dan nilai ketuhanan dan moralitas, belajar pada alam semesta dan berinteraksi, tolong menolong sesama manusia, maka kondisi kebudayaan dan peradaban islam dapat bangkit bersemangat, percaya diri, dan menjadi saksi pencerahan dalam membangun kebudayaan atau perdaban yang tinggi untuk keluarga, masyarakat dan negara.

Seperti Pidato Presiden Sukarno pada peringatan Nuzulul Qur’an, jakarta 6 maret 1961. AL -QURAN MEMBENTUK MANUSIA BARU. Saudara saudara, Allahuakbar, memang alangkah hebatnya kitab ini saudara saudara. Kitab yang kita namakan kitab quran, kadang kadang setebal ini kalau aksara aksara besar, kadang kadang kecil sekecil dua jari.

Lebih lanjut, kitab ini, yang telah mengadakan revolusi mahahebat di dalam perikehidupan manusia, bukan saja perikehidupan manusia di arabia, tetapi perikehidupan manusia di permukaan bumi ini, mengadakan satu revolusi mahahebat. Satu revolusi yang bukan lagi revolusi sebagai kita punya revolusi, satu revolsui pancamuka 5 macam, tetapi mungkin ini revolusi yang di adakan oleh tuhan via quran itu adalah revolsui dasamuka. Bukan rahwana dasamuka yang 10 macam sekaligus.(Bung Karno,Hal :80).

Quran mendatangkan revolusi batin manusia. Quran mendatangkan revolsui dalam pandangan manusia terhadap tuhan. Quran mengadakan, mendatangkan revolusi ekonomi. Quran mendatangkan revolusi yang mengenai hubungan manusia dengan manusia, dus revolsui sosial.

Quran mendatangkan revolsui yang mengadakan perubahan mutlak, membentuk manusia baru. Quran mendatankan revolsui moral, moral yang meliputi seluruh dunia. Quran adalah buat segala manusia, buat segala tempat, buat segala zaman, moral dunia terbentuk, terbangun, oleh quran.

Penulis: Fitratul Akbar (Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang).
×
Berita Terbaru Update