Notification

×

Iklan

Iklan

Konsep Ekonomi Islam, Upaya Mencapai Kebahagiaan Hidup di Dunia dan Akhirat

Rabu, 04 Desember 2019 | 21.28.00 WIB
Foto: Penulis
Kebahagiaan merupakan tujuan utama manusia, manusia akan memperoleh kebahagian apa bila segala kebutuhanya tercapai dan keinginannya terpenuhi, baik itu dalam aspek material maupun non-material {spiritual}, dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Terpenuhinya kebutuhan manusia yang bersifat material seperti sandang, rumah, dan yang bersifat material lainnya.

Terpenuhinhya kebutuhan material inilah yang disebut dengan sejahtera. Dalam upaya mewujudkan kesejahteraan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, dalam hal itu ada beberapa kedala poko yang di hadapi oleh manusia yaitu, “kurangnya Sumberdaya yang bisa digunakan untuk mewujudkan kebutuhan tersebut”

"Tujuan hidup di tinjau dari Aspek Ekonomi"

Pada dasarnya setiap manusia selalu menginginkan kehidupannya di dunia ini dalam keadaan bahagia, baik itu yang bersifat material maupun spiritual. Namun dalam praktiknya, kebahagiaan yang bersifat multidimensi ini sangat sulit diraih, karena di akibatkan keterbatadsan kemampuan manusia dalam memahami dan menerjemahkan keinginannya secara komprehensif, keterbatasan dalam menyeimbangkan antara aspek kehidupan maupun keterbatasan dalam aspek sumberdaya yang digunakan untuk meraih kebahagiaan tersebut. Dalam meraih kebahagiaan ada {tiga} hal pokok yang diperlukan.

"Falah sebagai Tujuan hidup"

Dalam mencapai tujuan hidupnya manusia cenderung ingin dimuliakan serta cendrung menang dalam segala aspek, baik itu dalam ranah mikro maupun dalam ranah makro. Dalam ranah mikro manusia dengan keberlangsungan hidupnya secara biologis yang pertama; seperti, kesehatan fisik/ jasmania sedengakan yang ke-dua; di tinjau dari aspek ekonomistik seperti makanan dll sedengkan yang ke-tiga; ditinjau dari faktor sosial seperti adanya persaudara serta hubungan antar personal yang harmonis. Sedengakan dalm aspek makro.

Kesejahteraan menuntut adanya keseimbangan ekologi atau hungan timbal antara individu yang satu dengan individu yang lain, lingkungan yang higienis, manajemen lingkungan hidup serta kerja sama antar anggota masyarakat. Dari faktor-faktor tersebut akan lengkap jika manusia terbebasa dari kemiskinan serta memiliki kekuatan dan kehormatan.

Dalam mencapai kebahagiaan hidup di akhirat/kehidupan yang abadi, kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang benar-benar diyakini oleh setiap uman manusia lebih khususnya umat muslim, kehidupan akhirat memiliki nilai kuantitas dan kualitas yang lebih berharga di bandingkan kehidupan di dunia. Kehidupan di dunia akan berakhir dengan kematian atau kemusnahan, sedangkan kehidupan di akhira bersifat kekal/abadi.

Kehidupan di dunia merupakan ladang bagi umat manusia dalam pencapaian tujuannya di akhirat, oleh karena itu kehidupan akhirat akan lebih di utamakan oleh manusia dan dihadapkan pada kondisi kebahagiaan akhirat atau kebahagiaan di dunia. Meskipun demikian falah mengandung makna kondisi maksimum dalam kebahagiaan di dunia dan di akhirat nantinya.

Dalam menjalankan kehidupanya di dunia, kehidupan akhirat tidak dapat di observasikan atau di tinjau kembali. Namun etika manusia di dunia akan berpengaruh terhadap terhadap kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dalam praktiknya upaya manusia dalam mewujudkan kebahagiaanya di dunia sering kali menimbulkan dampak negatif orang-orang yang ada di sekitarnya baik itu dalam kelestarian lingkungan maupun kelangsungan hidup manusia dalam jangka panjang.

Ketidakmampuan manusia dalam menyeimbangakan pemenuhan berbagai kebutuhan di dunia, serta keinginan manusia yang kerap kali berlebihan bisa berdampak atau berakibat pada gagalnya mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ekonomi islam mempelajari bagaimana manusia memenuhi kebutuhan matertialnya di dunia sehingga tercapai kesejahteraan yang akan membawa kepada kebahagiaan di dunia maupun di akhirat{falah}.

Sebagaimana kita ketahui bersama, manusia cenderung ingin mendapatkan kebahagiaan yang abadi sepanjang masa hidupnya, tidak hanya kehidupan di dunia sahaja namun di kehidpuan yang selanjutnya yaitu akhirat kelak, pemenuhan kebutuhan materi di dunia akan diupayakan agar tetap selalu bersinergi dengan pencapaian kebahagiaan secara menyeluruh, semua manusia mempunyai keinginan untuk menperoleh kesejahteraan yang mampu menghantarkan kepada jebahagian yang abadi/kekal.

Setiap manusia atau individu kerap keli mempunya pandangan tersendiri mengenai sumber dari terjadinya kebahagiaan. Misalnya para ahli silokolog, memandang sumber pertama kebahagiaan adalah terpenuhinya kebutuhan jiwanya.

Ahli politik memandang sumber kebahagiaan adalah kesisitensi dari lingkungannya dan aspek politik menjadi penyebab utama terhadap masalah kehidupan. Ahli ekonomi, memandang sumber kebahagiaan terdapa pada pemenuhan kebutuhan material manusia, karena kebutuhan material manusia merupakan sarana utama kehidupan. Sehingga kebahagiaan sering di konotasikan dengan makna kesejahteraan yaitu kecukupan terhadap kebutuhan biologis manusia.

Berdasarkan analisis penulis, kebahgiaan sering kali tidak di peroleh meskipun hartanya berlimpah, semua itu di akibatkan sifat dasar manusia yang rakus. Sifat rakus inilah yang menyebabkan manusia cemderung mencari harta yang cukup banyak supaya dapat memenuhi kebutuhan materialnya, jikalau dilihat dari sudut pandang kebutuhan biologis manusia seperti makan, minum dan tempat tinggal. Semua itu tidak akan dapat tercukupi sebab manusia kerap kali hanya memikirkan masalah dunia sehingga masalah akhirat kita sering lupakan, itulah salah satu kesalahan yang di lakukan oleh manusia pada umumnya.

Islam mendefinisikan kesejahteraan di dasarkan pada pandangan yang komprehensif tentang kehidupan. Kesejahteraan menurut pandangan islam mencakup dua pengertian yaitu; Pertama, kesejahteraan holistik dan seimbang, yaitu mencakup kebutuhan material yang di sukung oleh terpenuhinya kebutuhan spiritual individu dan sosial.

Sosok kebutuhan manusia terdiri atas unsur biologis dan unsur jiwa, karenanya kebahagiaan herusalah menyeluruh dan seimbang di antara keduanya. Kedua, kesejahteraan di dunia tidak hanya mencakup hal-hal yang duniawi sahaja, akan tetapi mencakup aspek ukhrawi. Kecukupan kebutuhan material di dunia saja tidak cukup untuk mencapai kebahagian di akhirat, maka dari itu kebutuhan material di dunia harus seimbang dengan kebutuhan di akhirat supaya kebahagian yang sebenarnya dapat diperoleh yaitu kebahagiaan di akhirat kelak.

Dalam upaya mencapai falah sangat tergantung pada perilaku serta kehidupan di dunia. Secara garis besar, manusia menghadapi kesulitan dalam menharmonisasikan berbagai tujuan dalam hidupnya karena terhambat oleh keterbatasan yang ada dalam dirinya. Oleh karena itu islam mengajarkan bagaimana cara untuk mencapai falahi, oleh kerena itu manusia harus menyadari hakikat keberadaanya di dunia. Terkadang manusia ketap kali melupakan apa yang menjadi tujuan hidupnya di dunia yang akan di pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT.

"Mashalah Sebagai Tujuan Untuk Mencapai Falah"

Kehidupan yang mulia dan sejahtera di dunia maupun di akhirat, dapat terwujud apabila terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan hidup manusia secara seimbang. Tercukupnya kebutuhan manusia akan memberikan dampak positif yang disebut sebagai Mashalah.

Masalah adalah segala bentuk keadaan manusia, baik itu yang bersifat material maupun yang bersifat non-material yang mampu meningkatkan kedudukan manusia sebagai makhluk yang paling mulia di mata Allah SWT. Mashalah dalam kehidupan manusia terdiri dari lima hal, yaitu Agama (Dien), Jiwa (Nafs), Intelektual (‘aqh), keluarga dan keturunan (Nasl), dan material (wealth). Kelima hal tersebut merupakan kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan mutlak yang harus dicapai oleh manusia supaya dapat mendapatkan kehidupan bahagia dunia dan akhirat.

Islam mengajarkan agar manusia menjalani kehidupanya secara benar, sebagaimana telah di atur oleh Allah. Bahkan, usaha untuk hidup secara benar dan menjalani hidup secara benar inilah yang menjadikan hisup seseorang bernilai tinggi. Baik buruknya manusia tidak di ukur dari indikator-indikator lain melainkan sejauh mana manuia betpegang teguh kepada kebenaran mutlak.

Kehidupan jiwa-raga (an nafs) di dunia sangat pentingm dikarenakan ladang bagi tanaman yang akan di panen di kemudian hari atau di kehidupan yang akan datang yakni akhirat nanti. Apa yang akan di peroleh di akhirat nanti tergantung pada apa yang telah dilakukan manusia di dunia. Kehidupan sangat dijunjung tinggi dari ajaran islam, sebab ia adalah anugerah yang berikan Allah kepada umat manusia.

Harta material (maal) sangat di butuhkan, baik nntuk kehidupan duniawi mapun ukhrawi, manusia sangat membutuhkan harta untuk pemenuhan kebutuhan makanan, minuman, pakaian, rumah, kendaraan, perhiasan sekadarnya serta kebutuhan material lainnya untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Bukan hanya itu, setiap ibadah memerlukan harta, misalnya, zakat, infak, sedeka, haji,, menuntut ilmu, membangun sarana dan prasarana peribadatan, dll. Tanpa harta yang memadai manusia cenderung melakukan perbuatan-perbuatan yang melangar ajaran agama islam.

Untuk dapat memahami alam semeseta (Ayat-ayat kauniyah) serta ajaran agama dalam kitab suci Al-Quran dan Al-hadits (Ayat-ayat qauliyah) untuk mencapai semua itu manusia sangat membutuhkan ilmu pengetahuan yang mampu mendorongnya ke hal-hal yang baik. Tnpa ilmu pengetahuan maka manusia tidak akan dapat memahami dengan baik kehidpuan ini sehingga akan mengalami kesulitan dan mengalami penderitaan, oleh karena itu manusia memberikan perintah yang sangat tegas bagi seorang mukmin untuk menuntut ilmu (thalabul’ilm).

"Permasalahan Dalam Mencapai Falah"

Dalam upaya mencapai yang namanya falah manusia menghadapi benyak permasalahan. Permasalahan ini sangat kompleks dan sering kali saling terkait antara satu faktor dengan faktor yang lainnya. adanya berbagai keterbatasan, kekurang, dan kelemahan yang ada pada manusia serta kemungkinan adanya interdependensi sebagai aspek kehidupan yang sering kali menjadi permasalahan besar dalam upaya mewujudkan falah.

Permasalahan lain ialah kurangnya sumber daya (resources) yang tersedia dibandingkan dengan kebutuhan ataun keinginan manusia dalam rangka mencapai falah. Kekurang sumber daya ini lah yang sering disebut oleh ekonomi pada umumnya dengan istilah “kelangkaan”.

Kelangkaan sumber daya semacam ini tidak hanya terjadi di daerah atau negara-negara miskin, namun di selurh penjuru dunia termasuk di negara-negara maju. Hal ini terjadi di akibatkan kebutuhan manusia tidak mampu untuk selalu memenuhi, permasalahan seperti inilah yang menyebabkan kemiskinan, mahlnya harga, defisit, pengangguran, dan sebagaianya, Kelangkaan ini banyak sebenarnya kelangkaan relatif, yaitu kelangkaan sumber daya yang terjadi dalam jangka pendek ata dalam area tertentu saja.

Kelangkaan relatif terjadi disebabkan oleh tiga hal pokok, yaitu. Pertama, ketidak merataan distribusi sumber daya. Yang kedua, keterbatsan manusia, ketiga, konflik antar tujuan hidup. Tiga hal pokok inilah yang menjadi penghambat dalam mencapi falah.

Penulis: Arif Akbarrurrizal
×
Berita Terbaru Update