Notification

×

Iklan

Iklan

Ketika “Donggo” Menjadi Kata Sifat, Konsensus Perlu Digelar!

Minggu, 22 Desember 2019 | Desember 22, 2019 WIB Last Updated 2019-12-22T08:22:18Z
Foto: Penulis (menggunakan jaket putih) saat mengunjungi kegiatan pengkaderan mahasiswa Soromandi, bersama teman-temannya dari Langgudu dan Dompu.
Akhir-akhir ini, kita disibukkan dengan isu sensitif, yaitu dugaan penghinaan terhadap Suku Donggo melalui media sosial Facebook. Waktu, pikiran, tenaga, dan materi kita seakan dihabiskan hanya untuk mengisi kolom komentar Facebook dengan pendapat-pendapat yang belum tentu teruji kebenarannya. Uang rokok atau uang bensin habis untuk membeli paketan internet supaya bisa ikut nimbrung di berbagai kolom komentar Facebook.

Berawal dari niat baik ingin memberi masukan, saran, dan pendapat dengan tujuan meluruskan atau memberi solusi terhadap permasalahan yang sedang dikomentari, justru pada akhirnya kita tersulut emosi, bahkan terkadang khilaf menghina atau saling mencela antara satu dengan yang lain. Akibatnya, kolom komentar Facebook dipenuhi dengan kata-kata "semau gue" (baca: cike, lako, tufe, dan lain sebagainya). Padahal tadinya kita sepakat, bahwa menghina dan merendahkan orang lain tidak baik. Tetapi, kita malah jadi pelaku lantaran pendapat kita berbeda dengan orang lain.

Kadang penulis bingung dan terheran-heran ketika membaca ratusan komentar pada kolom komentar suatu postingan netizen yang dianggap atau diduga menghina Suku Donggo. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apakah mereka sedang diskusi, musyawarah mufakat, berdebat, atau justru sedang saling menghina antara satu dengan yang lain? Apa pun yang sedang terjadi di dalam kolom komentar tersebut, penulis sendiri tidak terlalu ambil pusing. Penulis pusing pun mereka juga tidak akan pusing. Penulis hanya ingin mengingatkan, bahwa merasa diri paling benar, diri paling pintar, paling tahu, paling bijak, atau paling kuat tidaklah baik. Kita harus ingat, bahwa di atas langit masih ada langit!

Baiklah, kita kembali pada konteks permasalahannya. Tiga paragraf di atas hanyalah komentar penulis terhadap maraknya diskusi lepas pada kolom komentar Facebook yang cukup meresahkan hati.

Masalahnya adalah, adanya dugaan penghinaan terhadap Suku Donggo melalui media sosial Facebook oleh beberapa akun yang tidak bisa penulis sebutkan nama akunnya. Namun, pada intinya, penulis melihat ada kesalahpahaman dan ego kedaerahan. Seolah bahasa Bima sangat sulit dipahami oleh kebanyakan orang Bima itu sendiri. Seolah lebih mudah memahami bahasa luar negeri dibanding bahasa Bima. Sekarang, mari kita uraikan masalahnya satu per satu.

Pertama, kebanyakan orang menganggap Donggo dikenal sebagai nama daerah dan suku, bukan kata sifat yang memiliki banyak arti dalam bahasa Indonesia. Kedua, sebagian orang juga menganggap Donggo tidak hanya dikenal sebagai nama daerah atau suku, namun juga dikenal sebagai kata sifat dengan arti tertentu. Kedua masalah itu yang muncul hari-hari ini, sehingga terjadi kesalahpahaman antara satu dengan yang lain.

Ada yang mengatakan, bahwa Donggo adalah suku atau nama daerah. Ada juga yang mengatakan, Donggo itu bukan hanya nama daerah atau suku, tetapi kata sifat yang dipakai oleh sebagian orang dalam kehidupannya sehari-hari. Hal demikian memunculkan perdebatan yang sampai hari ini tidak kunjung menemukan solusi. Bagaimana bisa menemukan solusi atau jalan keluar, sementara yang berpendapat atau yang sedang berdebat itu bukan ahli sejarah, bukan pula ahli bahasa? Tapi sah-sah saja.

Pendapat tidaklah dilarang dalam demokrasi. Jangan karena kita bukan ahli sejarah atau ahli bahasa, lantas kita dilarang untuk berpendapat. Hal demikian bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi itu sendiri. Hal yang dianggap salah adalah, ketika pendapat kita merendahkan harkat dan martabat, menghina, dan mencaci maki orang lain.

Dalam hal ini, penulis tidak akan membahas sejarah Suku Donggo, atau mengupas tuntas tentang bahasa daerah. Karena penulis bukanlah ahli sejarah dan bukan pula ahli bahasa. Penulis akan mencoba mempertegas akar permasalahannya, yaitu masalah sejarah Suku Donggo dan asal-usul kata sifat Donggo (bahasa) yang sampai dengan saat ini belum tuntas dipahami oleh kebanyakan generasi.

Hemat penulis, sebaiknya pikiran, tenaga, waktu, dan materi kita dihabiskan untuk mencari dan menemukan solusi, daripada mubazir untuk menghina dan merendahkan sesama.

Munculnya isu dugaan penghinaan terhadap Suku Donggo adalah hidayah dan pelajaran untuk kita semua, agar ke depannya, kita lebih menghormati dan menghargai sesama. Selain itu, menjadi pukulan juga untuk kita semua yang selama ini menganggap remeh sejarah dan bahasa daerah, bahwa sejarah Suku Donggo dan banyaknya kosa kata dalam bahasa Bima sangat penting untuk kita pahami.

Oleh karena sejarah Suku Donggo dan bahasa daerah diseret ke dalam pusaran masalah, maka kita yang tidak tahu apa-apa tentang sejarah Suku Donggo dan kosa kata bahasa daerah Bima, sebaiknya diam sambil merenung. Berikan panggung itu kepada ahli sejarah dan ahli bahasa. Biarkan pemerintah bertindak sebagai fasilitator untuk mempertemukan semua elemen masyarakat yang dianggap mumpuni untuk menyelesaikan masalah dalam sebuah konsensus. Baik itu tokoh agama, masyarakat dan tokoh pemuda, terutama ahli sejarah dan ahli bahasa daerah. Bukan para komentator di kolom Facebook.

Menurut penulis, konsensus sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah ini. Sebab, semua aspirasi bisa ditampung dan dibahas dalam sebuah konsensus. Dan diharapkan, konsensus tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman bagi semua pihak yang bersepakat.

Ada pun yang dibahas dalam konsensus yang ditunjuk untuk itu, adalah membahas keinginan pihak-pihak terkait. Misalnya, ada yang menginginkan agar Donggo tidak lagi digunakan sebagai kata sifat, ada juga pihak yang menginginkan agar Donggo itu bisa dipahami sebagai kata sifat yang sudah berlangsung turun-temurun.

Kita perlu memutuskan secara bersama dalam sebuah kesepakatan. Apakah Donggo tetap boleh menjadi kata sifat atau hanya boleh disematkan nama daerah atau suku? Apakah Donggo dalam kata sifat dapat dianggap menghina Suku Donggo atau tidak? Apakah betul ada kosa kata Donggo dalam bahasa Bima? Jika benar adanya, bagaimana kita harus menggunakannya? Bagaimana kita mengartikannya? Artinya, konsesus sangat perlu digelar, semata-mata untuk mencari dan menemukan solusi.

Konsensus bisa dijadikan sebagai langkah awal. Konsensus adalah ajang silaturrahmi. Mempererat tali persaudaraan, membuat kesepakatan bersama, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun. Jika itu bisa dilaksanakan, maka konsensus itu akan menjadi salah satu sejarah musyawarah mufakat terbaik yang pernah ada. Karena dalam konsensus itu, ada nilai-nilai kekeluargaan, kesalahpahaman akan menjadi pemahaman, perbedaan pendapat akan menjadi indah, dan kesepakatan adalah jalan terbaik.

Sekian dan terima kasih. Mohon maaf jika ada kesalahan dan kekhilafan dalam setiap kalimat yang tertulis dalam artikel ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Penulis: Furkan


×
Berita Terbaru Update