Notification

×

Iklan

Iklan

Kematian Pemuda Dompu Menambah Daftar Kasus Bunuh Diri Dengan Motif Tak Terungkap

Rabu, 09 Oktober 2019 | Oktober 09, 2019 WIB Last Updated 2019-10-08T21:36:14Z
Ilustrasi gantung diri (foto: JPNN)
Indikatorntb.com - Penemuan jasad Rangga Sarif Hidayatullah (24) asal Desa Ta'a, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu, di sebuah gubuk kecil milik orang tuanya sendiri yang diduga bunuh diri dengan motif malu sama keluarga karena tak kunjung di wisuda (05/10) menambah daftar kasus bunuh diri yang tak bisa diungkap secara jelas, baik secara hukum, maupun secara medis.

Polisi bahkan mengaku heran dengan kasus bunuh diri yang terjadi di Kabupaten Dompu, sejak tahun 2018 hingga Oktober 2019 setidaknya 15 kasus bunuh diri dengan berbagai motif telah terjadi. Kasus bunuh diri tersebut rata-rata dilakukan dengan cara, minum racun hingga gantung diri.

"Entah apa yang terjadi, di Kecamatan Hu'u, sejak Januari-Maret 2019 ini sudah lima kasus bunuh diri dengan minum racun," Kata Kassubag Humas Polres Dompu, Senin (18/03/19) lalu dilansir dari Detik.com.

Tercatat, rata-rata kasus bunuh diri tidak tergolong langsung meninggal, tidak sedikit juga kasus percobaan bunuh diri yang berhasil digagalkan atau diselamatkan. Kasus bunuh diri terjadi dalam kurun waktu yang cukup pendek, hanyak berjarak bulan bahkan hari.

Selain itu, tercatat juga bahwa pelaku bunuh diri atau percobaan bunuh diri tidak hanya dialami oleh remaja, Siswa, atau mahasiswa tetapi juga dialami oleh orang dewasa, baik itu seorang ayah maupun seorang PNS.

Pihak Kepolisiam Resort Dompu juga Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DP3A) Kabupaten Dompu, mencoba mengungkap motif kasus bunuh diri tersebut, yaitu sangat berfariatif, mulai dari masalah ekonomi, urusan rumah tangga, urusan asmara, hingga masalah pendidikan. Namun, masih banyak pula kasus bunuh diri yang tak bisa diungkap motifnya.

Sementara itu, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Dompu, Drs. H. Syamsul H. Ilyas, M.Si, mengungkapkan hasil kajian dalam rapat koordinasi yang dilaksanakan di Gedung PKK Kabupaten Dompu pada Jum'at 12 Maret 2019 lalu mengatakan bahwa, kasus bunuh diri yang marak terjadi di Kabypaten Dompu bukan semata karena masalah ekonomi, pendidikan atau masalah keluarga ,melainkan karena faktor rohaniah.

"Kami mengkaji maraknya kasus bunuh diri karena rohaninya kosong," Ungkapnya sebagaimana yang dilansri dari koranlensapost.

Tidak sedikit kasus bunuh diri yang terjadi di Kabupaten Dompu yang masih menyimpan tanda tanya, atau yang belum berhasil diuangkap motifnya. Pun terungkap, itupun hanya berdasarkan pada issue, informasi atau sekedar dugaan yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, baik itu melalui hasil penyelidikan dan penyidikan pihak kepolisian maupun melalui hasil medis.

Misalnya saja, kasus bunuh diri yang dialami oleh seorang Siswi SMKN 1 Hu'u Asal Desa Sawe, yang mengakhiri hidupnya dengan cara meminum racun serangga Dupon Lannate pada Maret 2019 lalu. Aksi nekat siswi tersebut, dilakukan dalam kamarnya dengan pintu terkunci. Belum diketahui motif tindakan nekat siswi 16 tahun tersebut, diduga karena punya masalah dengan orang tuanya.

Kasus lain dialami oleh Junaidin (30) warga asal kelurahan Doro Tangga, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu. Junaidi ditemukan tewas karena gantung diri di rumahnya, Sabtu (20/07). Pihak kepolisian setempat mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut, murni merupakan kasus bunuh diri. Junaidin nekat bunuh diri hanya karena tidak mendapatkan pembagian seragam pesta anak dari kakak kandungnya. Selain itu dikabarkan karena stres tak kunjung mendaptkan jodoh. Motifnya lagi-lagi berdasarkan issue dan dugaan sementara, (Bima Ekspres).

Selanjutnya, kasus bunuh diri Eka Wati (18) seorang karyawati sebuah toko pasar atas Dompu ditemukan tidak sadarkan diri, (04/02). Nyawanya tidak tertolong setelah dilarikan ke RSUD Dompu. Menurut keterangan Dokter, Eka didiagnosa meninggal karena meminum racun. Kapolsek Hu'u, IPTU B. Suswantoro mengatakan bahwa, motif dari tindakan nekat dari korban belum diketahui, bahkan menurut keterangan orang tuanya, korban tidak memiliki masalah baik dengan keluarga maupun dengan orang lain, lalu masalahnya apa?

Kemudian kasus bunuh diri dengan cara gantung diri juga terjadi pada seorang ayah sekaligus seorang PNS yang bertugas di Subdin Tata Kota Dinas PU Kabupaten Dompu. Amiruddin (39) ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa oleh anaknya di dalam kamarnya sekitar pukul 16.35 WITA, (29/01). Kapolres Dompu, AKBP Brury Soekatjo, S.Ik kepada media Kicknews mengatakan bahwa kasus tersebut murni bunuh diri, motifnya belum diketahui secara pasti. Namun sebelumnya korban diketahui bertengkar dengan istrinya.

Terakhir, kasus bunuh diri yang baru-baru ini terjadi dialami oleh pemuda asal Desa Ta'a, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu, Rangga Sarif Hidayatullah (24) ditemukan gantung diri di gubuk milik orang tuanya dalam keadaan gantung diri. Beredar informasi di publik bahwa motif aksi nekat Almarhum lantaran malu sama keluarga karena telat wisuda. Padahal sejak 1 Maret 2015, Almarhum bukan lagi seorang mahasiswa karena putus sekolah. Tidak sedikit publik yang  bertanya-tanya bahkan ragu bahwa Almarhum bunuh diri bukan karena telat wisuda, melainkan ada masalah lain. lagi-lagi belum terungkap secara jelas motifnya.

Dari sekian banyak kasus diatas, masih banyak lagi contoh kasus bunuh diri yang belum bisa diungkap secara jelas motifnya. Padahal penting untuk diketahui publik sebagai pelajaran, sehingga terhindar dari kasus yang sama. Dalam hal ini, dibutuhkan kepekaan masyarakat terutama pihak keluarga untuk mendesak atau mendukung pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut guna mengetahui secara pasti sebab dan motif dari tindakan para korban.


Furkan/Indikatorntb
×
Berita Terbaru Update