Notification

×

Iklan

Iklan

Trauma dan Hanya Ingin Pulang, Begini Cerita Ahmad Warga Bima Korban Kerusuhan di Wamena

Senin, 30 September 2019 | September 30, 2019 WIB Last Updated 2019-09-30T13:53:25Z
Foto: Suasa kepanikan yang di terjadi di SMP Nurul Hak Yapis Wamena saat kerusuhan (Istimewa).
Kerusuhan yang terjadi di Kota Wamena, Jayawijaya, Papua mengharuskan 8.000 orang mengungsi di 23 titik di Wamena. Para pengungsi membutuhkan bantuan berupa bahan makanan, medis serta selimut dan tikar. 
Berdasarkan data yang disampaikan oleh Wakapolda Papua Brigjen Pol Yakobus Marjuki, sekitar 471 orang mengalami diare.

Akibat kerusuhan tersebut, sedikitnya 33 orang tewas mengenaskan, mulai dari seorang dokter yang di bakar hidup-hidup, bahkan anak-anak di bawah umur. Selain itu, perusakan dan pembakaran sejumlah gedung (fasiltas) umum dan gedung pemerintahan terus terjadi.

Ahmad Salah satu pengungsi asal Desa Campa, Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima, seorang guru matematika di SMP Nurul Hak Yapis Wamena menceritakan kepada media ini tentang pengalaman dirinya saat kerusuhan terjadi. 

Pada saat itu, Ahmad bersama siswa dan guru-guru yang lain sedang melaksanakan upacara bendera. Sesaat setelah upacara bendera itu selesai, tiba-tiba demonstran datang lalu melempari gedung sekolah dengan batu.

“Tiba-tiba massa aksi melempari gedung sekolah dengan batu, siswa dan guru lari mencari tempat perlindungan dari amukan massa,” Ungkapnya.


Foto: Ahmad
Untuk menghindari amukan massa, Ahmad dan guru-guru yang lain bersama para siswa bertahan di dalam gedung sekolah dijaga oleh pos pasukan pengamanan dari Brimob.

Ahmad menjelaskan bahwa, dirinya udah dua tahun tinggal di Kota Wamena bekerja sebagai guru matematika bersama dua orang saudaranya yang sudah menikah. Meski dirinya bersama keluarga tidak mengalami luka, namun trauma masih terasa.

“Saya bersama saudara tidak mengalami luka-luka, tapi trauma dengan kerusuhan itu,” Paparnya.

Karena harus mengungsi secara mendadak, Ahamd bersama kedua saudaranya harus berkemas menuju tempat pengungsian tanpa membawa banyak harta benda berharga lainnya. Ahmad hanya mampu membawa beberapa lembar baju dan dokumen Izasah, sementara yang lainnya seperti dua motor terpaksa ditinggalkan demi mencari keselamatan dan keamanan di Sentani.

“Tidak banyak yang bisa diselamatkan, hanya beberapa lembar baju dan Izasah. Dua motor terpaksa ditinggalkan,” Tuturnya.

Akibat trauma yang begitu mendalam, Ahmad tidak ingin kembali ke Kota Wamena, melainkan hanya ingin pulang ke kampung hlamannya di Kabupaten Bima.

“Saat ini kami hanya ingin pulang ke kampung halaman,” Harapnya.

Seperti yang diketahui, kerusuhan di Wamena dipicu hoaks yang beredar di masyarakat pada minggu sebelumnya. Hoaks itu menyebut ada seorang guru yang mengeluarkan kata-kata rasis kepada muridnya, sehingga memicu kemarahan sejumlah warga. 

Untuk menunjukkan solidaritas melawan ujaran berbau rasis yang beredar, sekumpulan siswa SMA PGRI dan masyarakat kurang lebih berjumlah 200 orang berjalan menuju sebuah sekolah di Wamena, Senin (23/9/2019) pukul 09.00 waktu setempat. 

Salahudin/Indikatorntb


×
Berita Terbaru Update