Notification

×

Iklan

Iklan

Suara Pemuda Timur Menjelang Hari Kemerdekaan

Jumat, 16 Agustus 2019 | Agustus 16, 2019 WIB Last Updated 2019-08-16T10:50:43Z
Foto: Penulis
Seharus dan semestinya kita merenungi setiap pertambahan usia Bangsa kita. Tujuh puluh empat tahun bukan waktu yang singkat untuk mempertahankan kemerdekaan Negara ini dari Bangsa lain.

Untuk mendapatkan legitimasi kemerdekaan dari Bangsa lain tidak seperti makan kerupuk, panjat pinang dan atau lomba balap karung. Tapi semuanya didapatkan dengan sangat susah payah.

Tiga ratus lima puluh tahun Belanda menjajah Bangsa kita, diikuti oleh Portugis yang menjajah diwilayah timur nusantra dan Jepang datang ke Indonesia dengan membabi-buta secara keseluruhan. Bukan waktu yang sikat yang dilalui oleh masyarakat rakyat Indonesia sebelun merdeka.

Para pahlawan sudah tak terhitung lagi yang mati sebelum Bangsa Indonesia merdeka. Para pahlawan mengorbankan semuanya. Jiwa, raga, darah, harta dan bahkan air mata bertumpah ruah asal Bangsa ini merdeka. Hanya satu kata "Merdeka". Itu saja.

Kata merdeka tidak hanya diucapkan, tapi bagaimana kata "merdeka" itu memliki nilai dan mendapatkan legitimasi dari Bangsa lain. Dan suatu kebanggaan bagi kita mendapatkan legitimasi dari Bangsa Palestina dan Turki dikala itu, bukan hanya sekedar legitimasi tapi kedua negara itu pasang badan mengawal kemerdekaan Indosia.

Bagaimana Bung Karno dibuang dan diasingkan berkali-kali dan bagaiman penderitaan Bung Hatta yang tidak mau menikah kalau Bangsa ini belum Merdeka. Dan kita sebagai Generasi ini sudah memberikan apa untuk Negara ini?. Upacara-Upacara?, Panjat pinang?, Makan kerupuk?, Lomba makan kerupuk?, Main tik tok? Alay-alay di konten youtube?, menunjukan kcantikan dan kegantengan di istagram dan facebook?

Ingat, para leluhur kita sampai tidak bisa bertemu dengan kekasihnya, berpisah dengan suami dan ataupun istrinya. Mereka semua dikerjakan layaknya binatang oleh Bangsa Belanda dan Bangsa yang lain.

Diasingkan dirumah sendiri adalah hal yang tidak masuk akal. Berkerja dirumah sendiri dan memberikan hasilnya kepada rumah yang lain adalah hal yang tidak tidak masuk akal kalau tidak ada paksaan.

Kita sebagai generasi harus mampu melawan tantangan zaman. Menghadirkan gagasan baru. Menghadirkan ispirasi untuk untuk ditawarkan ada negara ini. Bukan malah tercebur oleh sistem yang dibuat oleh Bangsa lain.

Sampai saat ini, Negara kita belum merdeka seutuhnya. Kelaparan, kemiskinan, kesusahan mendapat lapangan kerja, tidak menyeluruhnya dunia pendikan, tidak meratanya dunia kesehatan. Teriakan dan tangisan kelaparan tumpah disetiap tahunnya.

Kondisi utang Indonesia makin membludak, kondisi generasi yang makin hancur. Terus apa yang bisa kita hadirkan untuk Bangsa Indonesia yang besar ini?

Berhentilah menjadi generasi yang cengeng dan manja. Tidak seharusnya kita meminta lapangan kerja di Negera sendiri, tidak perlu kita teriak teriak pada pemerintah untuk untuk membantu kita. Yang harus kita lakukan berkerja untuk negera kita sendiri bukan untuk Bangsa yang lain.

Sekali lagi, kita masih jauh dari kata merdeka, sejahtera dan keadalin.
Itu semua tugas kita, tugas kenegaraan kita bersama.

Penulis: Syahrul Ramadhan Al faruq
×
Berita Terbaru Update