Notification

×

Iklan

Iklan

Berita Tanpa Dasar Berselimut Kebebasan Bersuara

Kamis, 29 Agustus 2019 | Agustus 29, 2019 WIB Last Updated 2019-08-29T08:28:04Z
Foto: Penulis
Demi rating, media asing seakan berlomba menebarkan berita tanpa bukti tentang isu Papua Barat.

Kerusuhan yang terjadi di Deiyai, Papua Barat baru-baru ini, tidak hanya menyita perhatian media massa dalam negeri. Media luar negeri juga turut mewartakan kerusuhan tersebut, namun sayangnya, dengan ceroboh dan seperti dilatarbelakangi oleh niat jahat mereke memperburuk situasi di Papua Barat.

Baru-baru ini dari kantor berita Al-Jazeera dan Reuters juga ikut mewartaan kerusuhan yang terjadi di Papua. Dalam berita-berita berjudul bombastis, seperti West Papuan Protesters Killed by Indonesia Police: Witness, kantor-kantor berita tersebut melaporkan bahwa setidaknya enam pengunjuk rasa tewas dan beberapa warga termasuk anak-anak terluka dalam aksi unjuk rasa di wilayah Deiyai, Papua.

Menurut mereka tewasnya beberapa pengunjuk rasa akibat tindakan represif yang dilakukan aparat saat sedang mengamankan lokasi tempat demo berlangsung.

Namun sangat disayangkan, seperti mengabaikan prinsip jurnalis dan terkesan membuat berita hoax demi menaikan rating, kantor berita ini mewartakan berita yang belum jelas kebenarannya. Mereka bahkan mengesampingkan validitas dan reliabilitas data.

Berdasarkan data-data yang diambil melalui satu sumber yang tidak valid, mereka membangun narasi tak berdasar bukti. Dengan secara imlisit mendasarkan berita mereka pada prinsip jurnalisme dan kebebasan berpendapat, mereka tanpa mengecek dua kali menebarkan info bohong tersebut.

Jelas fakta ini bertolak belakang dengan kejadian yang ada di lapangan, di mana dengan bebas aparat memberikan ruang kepada warga Papua untuk menyuarakan aspirasi mereka. Tidak ada tindakan represif pada demonstran yang damai, hingga seribuan orang dalam kelompok lain datang dengan senjata panah, parang mereka menyerang aparat keamanan dan para demonstran.

Munculnya pemberitaan yang tidak tervalidasi seperti ini pastinya merugikan siapapun termasuk orang Papua Barat. Bagaimana pun informasi yang mereka wartakan akan menimbulkan konflik dan ketakutan baru yang mengusik ketenangan umum.

Menanggapi pemberitaan tersebut, dalam sebuah konferensi Pers (28/8/2019) aparatur keamanan Indonesia mengkonfirmasi bahwa kabar mengenai enam warga Papua yang meninggal dunia akibat kekerasan aparat bohong alias hoax. Aparat keamanan dan warga lokal menegaskan tidak ada sikap berlebihan dari personil keamanan dalam menyikapi persoalan di Papua. Dan perlu diketahui oleh publik, situasi di Deiyai saat ini sudah kondusif dan warga telah kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Sangat disayangkan bahwa pemberitaan atas berita kebohongan malah dilakukan media yang selama ini mengaku sebagai media internasional yang kredibel seperti Reuters dan Al Jazeera. Atas nama rating media dan kebebasan pendapat, sayangnya mereka mengorbankan kredibilatas itu. Sebagai pembaca yang bijak, kita harus lebih berhati-hati dalam menyerap informasi, tidak menelan mentah-mentah setiap pemberitaan yang tersaji.

Penulis: Annalia Bahar
×
Berita Terbaru Update