Notification

×

Iklan

Iklan

Dinamika Politik Menuju Pesta Demokrasi Bima

Senin, 01 Juli 2019 | Juli 01, 2019 WIB Last Updated 2019-07-01T08:38:28Z
Foto: Penulis

Gesekan politik yang terjadi di masyarakat mempengaruhi kehidupan sosial. Suasana politik di Indonesia mulai memanasnya di tahun 2014 saat pemilihan Presiden dan wakil presiden sampai 2019 dengan hal yang sama.

Saya kira ini akan selesai ketika pasca pilpres yang yang melibatkan ratusan nyawa yang hilang begitu saja tanpa sesuatu alasan yang jelas. Petugas kpps, masa aksi dan yang lain sudah banyak menemui Tuhan nya di tahun ini.

Setelah Pilpres selesai, banyak daerah yang sebentar lagi akan memilih pemimpinnya, tidak terlepas juga Daerah Bima. Yang saat ini dipimpin oleh seorang perempuan yang sangat cantik, cerdas dan merakyat.

Tapi akhir-akhir ini sudah terjadi banyak penolakan yang dilakukan oleh sebagian mahasiswa, terhadap kinerja Bupati Bima Hj. Indah Damayanti Putri dan Dahlan M. Noer dikerenakan perbedaan pandangan.

Dalam kehidupan sistem demokrasi itu adalah hal yang wajar. Pro dan kontra selalu beriringan dengan sistem demokrasi yang dianut oleh Bangsa Indoensia.

Kita tidak bisa memaksakan yang lain untuk menerima apa yang kita inginkan, dan kita juga tidak bisa menolak sesuatu seperti keinginan kita.

Pecahnya suatu pemahaman dalam urusan agama pun itu karena ada gesekan politik (Kepentingan) . Munculnya Khawarij dan syiah, misalanya. Baca Theologi Islam, Harun Nasution.

Caci maki, pengancaman di media sosial akhir-akhir ini makin merajalela. Mengklaim dirinya hebat, mengklaim dirinya paling berani, mengklaim dirinya paling faham akan program kerja dan paling kuat telah tersebar begitu saja tanpa ada yang mengontrolnya.

Kita tidak bisa menyulap suatu daerah dalam sekejap mata, semuanya butuh proses, butuh legitimasi, butuh anggran yang besar, jika itu sebagai tolak ukur seseorang dalam memimpin. Sedangkan pendapatan daerah sangat minim.

Jika kita melimpahkan semua urusan pembangunan didaerah kepada pemerintah pusat, kita tahu sendiri bagaimana hutang Negara Indonesia sudah mencapai stadium empat.

Kita (Bima) salah besar meminta kepada pemerintah pusat untuk membangun insfratruktur yang merata didaerah Bima. Alasanya, Bima bukan sebagai pusat perekonomian Negara Indonesia, harus masyarakat itu sendiri yang membangunya dengan cara mensuport Pemimpinya.

Jika kita melandaskan kata "Keadilan" dalam teks pancasila, itu salah besar. Lihat, "Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI" Bab 6 tentang keadilan. Keadilan dan setara itu adalah sesuatu yang berbeda.

Saya faham betul, tugas seorang mahasiswa adalah mengkritik, dan tugas seorang pemimpin itu mencari solusi. Tapi alangkah lebih baiknya, siapa yang sadar dialah yang lebih banyak berperan bukan malah mencaci maki dengan bahasa-bahasa yang tidak seharusnya.

Kalaupun pada akhirnya kita tidak sepakat dengan cara kepemimpinan Hj. Indah Damayanti Putri sekarang, carilah penggantinya dan usunglah dia dipesta demokrasi Bima nanti.

Ide, gagasan, strategi politik dan legitimasi sosial itu disiapkan dari sekarang, bukan malah berteriak-triak seperti orang-orangan seperti orang yang kelaparan dan atau orang yang sedang membutuhkan pengakuan.

Jika ada sebagian dari teman-teman yang tidak sepakat apa yang saya tulis ini, silahkan tuangkan dalam tulisan. Bukan mencaci maki dengan bahasa-bahasa yang tidak seharusnya.

Penulis: Syahrul Ramadhan Al Faruq
×
Berita Terbaru Update