Notification

×

Iklan

Iklan

Potret Buram Pendidikan Nasional

Jumat, 03 Mei 2019 | Mei 03, 2019 WIB Last Updated 2019-05-02T18:26:12Z
foto penulis

indikatorntb.com Pada zaman penjajahan rakyat selalu berada dalam kondisi keterpurukan, perbudakan, penindasan dan pembodohan secara massal

Realitas ini berjalan dalam kurung waktu yang cukup lama dan tentunya menguras serta merampas segala sumber daya yang ada.

Potret kehidupan rakyat selalu di isi dengan kekurusan fisik dan krisis pengetahuan akan pentingnya nilai-nilai kebebasan

Setelah sekian lama menghadapi pergulatan dalam dunia buta huruf yang aman mencekam, ahirnya pada tanggal 2 mei 1922 Raden Mas Soewardi mendedikasikan dirinya dengan mendirikan institusi pendidikan yang bernama Sekolah kerakyatan di Yogyakarta. Dan pada saat itu juga ditetapkan tanggal 2 mei sebagai hari Pendidikan Nasional.

Semangat yang dibangun oleh putra putri terbaik bangsa saat itu adalah bagaimana kemudian rakyat indonesia melepaskan jubah kebodohan, keterbelangan dan melawan penjajah yang pada ahirnya sebuah kemerdekaan mampu diorbitkan diatas bumi pertiwi.

Semangat yang ditelorkan oleh para pahlawan pendidikan terdahulu sampai kini masih diwarisi oleh setiap generasi bangsa, itu terlihat dari setiap tahunnya hari Pendidikan tetap diperingati.

Namun dalam hal implementasi esensi dari hari pendidikan itu sendiri masih bersifat tabu bagi setiap elemen bangsa hari ini.

Sebab kalau kita melihat dengan bingkai pendidikan yang lebih dalam maka kita akan menemukan sebuah lukisan pendidikan yang sangat kusam.

Sebuah perayaan hari pendidikan kita setiap tahunnya hanya terkaku pada sesuatu yang bersifat seremonial semata dan perubahannya hanya terletak pada perubahan sebuah tema bukan pada substansinya, kemudian perayaan  yang semacam ini hanya sebatas menghabiskan anggaran rakyat secara percuma atau sia-sia.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa seperti itu ???
Pertanyaan ini akan terjawab sesuai dengan fakta pendidikan kita saat ini.

Tercatat disetiap pelosok desa yang ada di Bima hampir tidak merasakan bagaimana indahnya dunia pendidikan yang sesungguhnya. Seperti salah satu sekolah yang ada di tambora, di ujung langgudu yaitu sekolah yang ada di desa karampi termasuk sekolah yang ada di kecamatan lambitu dan mungkin masih banyak lagi sekolah-sekolah yang masih diperlakukan dengan setengah hati.

foto sekolah

Sehubungan dengan ini merujuk pada, Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 mengamanatkan agar “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang”. Konsep pendidikan dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang R.I. No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Mengacu pada Permendikbud no 68 tahun 2013, Secara umum Kurikulum 2013 bertujuan untuk mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia. Berdasarkan uraian diatas tentang pendidikan nasional tentu mengisyaratkan kepada para pendidik maupun calon pendidik khususnya pada pemerintah agar mampu menerapkan persoalan seperti yang digambarkan di sekolah-sekolah yang ada dipusat daerah. Sehingga dapat menjadikan dasar bagi para pengajar untuk mengembangkan peserta didik dalam meningkatkan potensi dirinya, sehingga pendidikan akan benar menjadi alat perjuangan, sekaligus ujung tombak peradaban.

Akhir dari tulisan ini bahwa 2 mei sesungguhnya bukan ajang untuk hura-hura, euforia atau pesta tapi panggung untuk kita mengevaluasi apa, bagaimana dan sejauh mana keberadaan pendidikan kita saat ini dan kalau kita sudah bisa menjewantahkan itu semua, lebih lanjut kita mesti mendeskripsikan apa, bagaimana, dimana, kapan dan bersama siapa kita menjawab persoalan tersebut.

Semoga perhatian dan kasih sayang kita terhadap pendidikan tidak bersifat politis tapi kita benar-benar memulai dari niatan, pikiran, perkataan dan perbuatan yang bersih dan suci sehingga melahirkan pendidikan yang penuh dengan kemuliaan.

Penulis             : Ibrahim
   Anak_Ke_3

×
Berita Terbaru Update