Notification

×

Iklan

Iklan

Muslim Berpihak Pada Penumpah Darah, Hanya Khilafah Sebagai Solusinya

Selasa, 19 Maret 2019 | 12.05.00 WIB
Oleh: Rahmatul Aini (Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Mataram)

Beijing, akhir-akhir ini media sepi memberitakan Uighur, akan tetapi baru-baru ini diperbincangkan kembali lantaran pernyataan yang dilontarkan oleh putra raja Saudi yakni Muhammad Bin Salman.

Dilansir dari kiblat.net, putra Mahkota Arab Saudi Muhammad Salman mendukung pembangunan camp konsentrasi untuk muslim Uighur, ia mengatakan bahwa tindakan Cina itu dapat dibenarkan. Cina berhak melakukan anti terorisme dan ekstremisme untuk keamanan Nasionalnya, ia menandatangani banyak kesepakatan dagang di Cina pada, Jumat (22/02/2019) lalu.

Bahkan lebih parahnya pangeran Arab Saudi mengatakan, ia akan memasuki bahasa Cina dalam kurikulum semua tingkat pendidikan rencana ini bisa memperkuat persahabatan antara Cina dan Arab Saudi, belajar bahasa Cina berfungsi sebagai jembatan antara mereka saat melakukan perdagangan dan budaya, (kiblat.net).

Tentu melihat tindakan yang dilakukan oleh putra raja Arab Saudi mengundang tanda tanya, ada apa sebenanya dibalik pembelaan nya tersebut?, padahal sebelumnya, kelompok-kelompok Uighur telah meminta pangeran muda Saudi untuk mengangkat perjuangan mereka, justru ia tak ada respond dan kini pangeran Saudi berbalik arah ia lebih membela Cina ketimbang Uighur.

Ternyata ada masalahat yang ia ingin capai disana. Terbukti bahwa miliaran Dolar uang milik Cina mengalir di Arab Saudi dalam bentuk investasi serta perdagangan.

Pembesar muslim tak berpihak pada saudaranya sendiri, bahkan ia secara tidak langsung menyuruh saudara muslimnya tunduk kepada negara yang menumpahkan darah saudaranya.

Miris!!! ketika ia meminta pihak pembesar muslim untuk menolongnya, tetapi malah berpaling kepada negara berduit. Memang sejatinya mereka tak akan pernah menoleh kepada saudara sendiri selagi ada manfaat yang ia dapatkan pada Negara tersebut, ia akan mempertahankan walupun ia memerangi para saudara seiman nya sekalipun. Bahkan dunia sekalipun tidak akan berpihak kepada para tertindas, karena asas mereka adalah kapitalis (manfaat) belaka, tidak ada riayah didalam mereka sehingga dalam pikiran mereka hanya uang dan manfaat semata.

Berbeda dengan ketika adanya sistem Islam, ia akan meriayah setiap individu, maupun rakyatnya, ia akan menjaga darah kohormatan umat Islam dihadapan musuh, ia siap berperang ketika satu nyawa atau darah seorang muslim tumpah.

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang dibelakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya,” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Begitulah perisai Negara bagi Ummatnya, menjadikan mereka merasa tentram, aman, ketika berada di negara Islam, tak ada pengekangan dalam berakidah, mereka bebas dalam melakukan setiap perbuatan selama tidak keluar dalam konteks hukum Syara. Begitulah yang dipraktekan oleh Baginda (Nabi Muhammad saw), ketika melihat saudara muslimnya dibunuh atau didzolimi, ia mengerahkan para pasukan muslim untuk memeranginya, dan bahkan orang Yahudi yang bergabung di negara Islam tak pernah mendapat pengekangan dalam beragama.

Sungguh dunia pada saat ini butuh khilafah yang akan selalu menaungi dan melindungi Ummat, tak hanya sekedar Uighur yang akan dibebaskan dari belenggu Cina, saudara muslim yang lain seperti Palestia, Rohinga, Gaza, dll, akan terbebaskan dari Zionis para kaum Kafir laknatullah. Dan kembalilah Islam pada rahmatan lilalami. Tak ada lagi penindasan, tumpahan darah dan lain sebagainya, yang ada hanyalah kesejahteraan Ummat menaunginya.

Wallahua’lam.
×
Berita Terbaru Update