Notification

×

Iklan

Iklan

Kajian Psikologi Sastra : Perubahan Perilaku Tokoh Utama dalam Novel Gerhana Merah

Rabu, 23 Januari 2019 | Januari 23, 2019 WIB Last Updated 2019-01-23T12:56:24Z
Dewi Wulandari Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang
Penulis : Dewi Wulandari

Resensi perubahan perilaku tokoh utama dalam novel Gerhana Merah Karya Muhammad Sholihin yang diterbitkan tahun 2018 oleh Diva Press sebanyak 280 halaman, dalam kajian psikologi sastra. Novel yang telah saya teliti ditulis oleh Muhammad Sholihin, jadi dalam cerita ini terdapat sepuluh orang pemudah dari Jorong Batu Bolong yang setiap malam menjaga kerajaan. 

Seseorang pemudah memakai baju hitam berkelebat diantara pohon-pohon karet. Mengejutkan seekor trenggiling yang sibuk mengendus semut api di panggakal pohon karet yang lapuk dan tumpang dimakan usia. 

Sosok yang memakai baju hitam itu adalah seorang laki-laki berjaket hitam, memkai celana panjang juga berwarna hitam. Ia memakai penutup kepala sekaligus mukanya, sebo, sehingga yang tampak hanya mata dan mulut laki-laki itu. Ia bergegas, melompati ranting-ranting pohon karet yang patah. Laki-laki itu menggendong sebuah buntilan hitam, tapi entah benda apa. 

Tampaknya tidak terlalu berat laki-laki itu dengan cepat larinya meskipun ia menggendong beban. Kemudian sepuluh pemuda mengetahui lari arah laki-laki itu dengan cepat ia berteriak “ Mana bajingan itu!” kemudia sepuluh memudah tersebut mengejarnya ia memasuki hutan membawa obor tuju orang ditangan kiri dan disertai tangan kanan membawa tombak untuk mempukul perampong karna perampong bukan Cuma mencuri ia juga memperkorsa gadis sampai pingsan. 

Padahal dihutan yang arah larinya perampong tersebut dilarang untuk memasuki karna sangat membahayakan dirinya bisa-bisa ia mati konyol didalam hutan. Tetapi alirham tidak peduli apa yang terjadi pada dirinya ia harus mengkap perampong itu kemudian dibakar hidup-hidup karena telah meronggol gadis yang ia cintai. 

Dari sepuluh pemuda yang paham perasaan alirham hanyalah Benu karna ia Benu tahu perasaaan yang telah alirham rasakan kemudian Benu memberikan semangat untuk mengejar rampok, sesampai dipohon beringin Benu teriak sekuat-kuatnya. “Argh...! Bajingan! Tolong.” Benu terpekik, meraung kesakitan, suaranya menegejutkan ratusan kelelawar dan burung hantu yang hinggap dipohon beringin hutan, yang cukup besar. 

Suara Benu begitu menyayat, mengiris alam. Airham segera memangku tubuh Benu yang terkulai lemah. Darah berkucur deras dari pangkal petis pemuda itu. Badan Benu mengigil, bibir pucat menahan rasa sakit yang teramat sangat. Sebuah anak panah yang terbuat dari bambu menembus betis Benu. Ia tidak tau arah dimana panah itu, meleset begitu cepat. Kisam dan tuju laki-laki kian waspada dengan menatap lekat dan tajam kesituasi sekitarnya.

Kemudian ia pulang kemlai melamatkan nayawa Benu jauh lebih penting, takut panah tersebut itu bercun. Kisam segera membopong rubuh Benu dan berinisiatif kembali ke Jorong Batu Bolong. Alirham terdiam, bibirnya pucat ia mersakan bersalah karna keras kepala telah membuat Benu celaka. 

Kini tidak ada pilihan lagi dirinya, selain hanya pilihan yang diputuskan kisam dan tujuan laki-laki lainnya. Benu merintih menahan rasa sakit, kian merasa hati Alirham terasa teriris penyesalan. Lorongan anjing hutan mengatar kepulangan sepuluh laki-laki itu bagaikan mengolok-ngolok mereka, sebagai laki-laki sial. 

Mereka kembali ke Jorong Batu Bolong dengan persaan tak menentu dan hampa. Setelah beberapa hari ia kembali mencari keberadaan perampok hanya Benu yang tidak ikut karna kesehatannya belum pulih tetapi Benu tetap ngotot ia teetap ikut mencari perampok itu. 

Setelah beberapa hari kemudian tertangkap juga perampong tersebut, kemudian sepuluh pemudah yang dari Jorong Batu Bolong membawanya secara paksa dan dapat hukuman mati sebelum hukuman dilaksanakan alirham membaca sair-sair dari perampong tersebut ia sebenarnya orang baik ia terpaksa merampok sebab dinegaranya sulit mencari bahan makanan, perkerjaan, makanya sebab itu is terpaksa. 

Pada saat hukuman hendak dilaksanakan alirham mengehentikan hukuman mati tersebut. Mahesa marah-marah kenapa tiba-tiba merupah pikiran untuk mengetikan hukuman ini. Kemudian Alirham menyampaikan kepeda sahabatnya dan menyuruh mebaca keluh kesah yang dirsakan perampong didalam sair-sair tersebut, kemudia ia mengerti dan memaafkan kesalahan perampok dan memberikan perkerjaan di Jorong Batu Bolong. 

Didalam jurnal ini, Muhamad Sholihin menyampaikan sebuah cerita yang memiliki nilai-nilai dalam kehidupan inspiratif. Penelitian didalam novel ini sangatlah penting untuk melakukan pengejawatan nilai dalam kehidupan yang ada pada karya sastra hingga mudah untuk dipahami. Jadi dalam karya sastra bukan hanya keindahan semata saja tetapi juga memiliki nilai yang akan menjadikan pembrlajaran dalam kehidupan. 

Perbedaan karakter pada setiap tokoh dapat membuat alur cerita menjadi lebih hidup, sehingga perilaku tokoh memilki perbedaan dalam menghadapi peristiwa dan juga pembaca dapat berimajinasi terhadap tokoh yang berperan dalam cerita tersebut. Setiap disajikan dengan berbagai peristiwa yang kadang berubah-ubah. 

Dengan gaya penulisan yang lebih terbuka wawasan, penilis mencoba untuk menyampaikan penelitian perilaku tokoh utama dalam novel gerhana merah, hasil teliti tersebut memberikan manfaat khusus bagi pencinta sastra. Jurnal ini pun meruapakan meceritakan perilaku tokoh utama yang perubah-ubah karna terpaksa, untuk lebih memahami lebih mendalam ceritanya yaitu bacalah novel gerhana merah karya Muhammad Sholihin. 

×
Berita Terbaru Update