Notification

×

Iklan

Iklan

Opini Publik dan Politik Identitas

Rabu, 03 Oktober 2018 | 18.11.00 WIB
Penulis
Oleh : Adi Haryanto

Opini publik itu secara sederhana ialah tindakan mengungkapkan apa yang dipercayai, dinilai, dan diharapkan dapat mengaktifkan akal sehat publik. Tindakan itu bisa merupakan pemberian suara, pernyataan verbal, dokumen tertulis atau bahkan diam. Singkatnya tindakan apapun yang bermakna adalah ungkapan opini.

Melalui kata-kata politik dan permainan kata kita menciptakan citra tentang objek dan tentang kondisi di dalam dunia kontestasi konflik dan keadaan politik Indonesia hari-hari ini.

Saya dapat mengatakan bahwa opini publik sangat teguh dan ampuh dalam kontestasi politik dimana pada saat ini sedemikian besar pengaruh IPTEK sebagai alternatif untuk merangsang argumen perselisihan, percecokan dalam media massa maupun media sosial.

Penggunaan strategi dan media yang tepat dapat membuat proses yang terjadi di masyarakat. Pembuat kebijakan politik juga akan menghasilkan timbal balik tersendiri, atau menggunakan kekuatan publik untuk menemukan kebijakan yang dapat diserap dengan baik. Tentu saja, urgensi opini publik dalam komunikasi politik menjadi sesuatu yang penting untuk kita pahami.

Semua orang, namun tak seorangpun, berbicara atas nama opini publik. Dibalik ocehan ini tidak mengherankan jika demokrasi sering di sebut "Pemerintahan oleh Opini Publik".

Sesungguhnya opini publik itu sebagaimana tentang komunikasi dan politik, manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna sesuatu itu bagi mereka.

Hubungan antara makna dan tindakan itu berbentuk lingkaran sehingga bersama-sama bertindak satu sama lain berdasarkan tujuan ataupun capaian yang terus-menerus menciptakan opini sehingga tercapailah tujuan yang diharapkan oleh mereka.

Apabila dalam fenomena opini publik akhir-akhir ini kita mencoba untuk merasionalkanya, menemukan sesuatu yang mungkin ada nilai edukasinya terhadap demokrasi kita.

Saya rasa, dalam perspektif indonesia di era teknologi ini, bagaimana mungkin politik akal sehat akan terlaksana sedangkan propaganda di media massa maupun media sosial selalu dipertontonkan pada masyarakat publik para elit politik masih saling makan satu sama lain, mempertahankan kekuasaan dan saling merebutkan jabatan tertinggi di negeri ini demi kepentingan induvidu, kelompok maupun Partainya masing-masing.

Seharusnya para elit politik di negeri ini tidak menafikan amanat UUD 1945 yang bermuara pada mencerdaskan kehidupan bangsa serta kesejahteraan umum untuk negeri tercinta ini.

Spirit Agung bangsa ini terporak-poranda oleh para elitnya sendiri yang tak bermoral Keindonesiaan melalui Opini publik.

Dari perspektif Opini publik di atas menunjukan ada relevansinya dengan politik identitas. Politik identitas digunakan oleh para politisi untuk mempertajam perbedaan-perbedaan supaya jualan politiknya laku, fenomena tersebut dengan istilah politik identitas negatif karena mengarah pada SARA.

Pada akhir-akhir ini melalui opini publik saya melihat Fenomena politik di negeri ini menggunakan latar belakang agama menjadi patokan survei bahwa politik identitas sudah tidak bisa lagi terbantahkan karna penggunaan sentimen agama dan suku akan di kapitalisasi sebesar-besarnya untuk kepentingan Elektoral kandidat tertentu untuk menggalang dukungan Politiknya.

Dewasa ini dengan kesadaran rasional kita bahwa pendekatan emosional pada masyarakat yang paling ampuh adalah menggunakan aspek Agama dengan menggunakan berbagai pendekatan melalui budaya maupun suku, bahkan di bentuk organisasi-organisasi yang tidak jelas.."Miris dan Sadis" dimana mayoritas masyarakat indonesia memiliki agama dan yang terbesar adalah Agama Islam.

Dilihat dari sosiologis publik juga isu sara kini akan tetap muncul, Rasa Rasisme itu ada hampir setiap induvidu dengan derajat yang berbeda.

Saat seorang politisi ataupun Kelompok ketika gak punya narasi lagi, dipastikan yang akan dominan adalah emosi dan darah tinggi.

Negeri ini membutuhkan pemimpin Negarawan yang bermoral sebab Negarawan bermoral pantas diletakan pada sosok dan karakter yang selalu meletakan kepentingan negaranya di atas kepentingan apapun melebihi kepentingan pribadi, kelompok, partai maupun Agama.

Kondisi indonesia saat ini yang masih menunjukan jurang yang menganga antara cita dan realita, tidak lagi membutuhkan pemimpin yang terus-menerus berpolitik yang mengandalkan jabatan untuk kepentingan kekuasaan, induvidu, kelompok dan partai serta kloninya.

Pada kondisi ini mungkinkah pemilih yang rasional akan terwujud?, Lalu apakah dampak bagi demokrasi kita?.

Ciputat, 03 Oktober 2018

Penulis : Adi Haryanto
×
Berita Terbaru Update