Notification

×

Iklan

Iklan

Iman Melahirkan Prestasi

Minggu, 09 September 2018 | 13.38.00 WIB
Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Keberhasilan mengantarkan kesuksesan anak adalah kebanggaan bagi orang tua. Kesuksesan sejati bagi anak yang patut dibanggakan oleh orang tua adalah anak yang tumbuh dan berkembang dengan keimanan yang kokoh, hatinya terus terpaut dengan masjid, akhlak yang terpuji dan ibadah yang tekun.

Kesuksesan seorang anak yang seperti ini yang akan membanggakan orang tua, tidak hanya di dunia tapi di akhirat juga.

Keberhasilan anak dalam menjalankan ibadah yang tekun merupakan investasi akhirat bagi orang tua dan keluarga, bukan keberhasilan anak dalam mencari dan menumpukkan harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, menghadiakan orang tua dengan rumah dan mobil mewah, sebab itu semu akan berhenti dinikmati ketika ruh sudah berpisah dengan raga dan tidak akan dibawa mati.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Q.S. An-Nisa :9).

Setiap manusia yang terlahir di dunia ini adalah sang juara karena telah berhasil mengalahkan ribuan bahkan jutaan sel benih yang berlari untuk mendekati ovum ingin merasakan kehidupan di dunia ini.

Pada saat dicptakaannya juga setiap anak memiliki bekal dan potensi harus dikembangkan sebagai tercantum dalam Al-Qur’an Maka dian mengilhamkan dua jalan yaitu jalan kejahatan dan jalan ketakwaan”. (Q.S. Asy-syams: 8).

Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap manusia yang dilahirkan memiliki dua potensi yaitu kejahatan dan kebaikan, kejahatan dan kebaikan yang dimaksud adalah Allah memberikan potensi ketakwaan dan kebaikan atau keberhasilan kepada setiap anak yang dilahirkan untuk meraih kesuksesan dan prestasi yang diinginkannya. Begitu juga potensi kejahatan atau kegagalan, sehingga sering kita jumpai bahwa ada macam-macam tingkat keberhasilan dan kesuksesan yang diraih dan dicapai oleh setiap manusia tergantung dari tingkat ikhtiar dan usahannya.

Pergaulan anak di lingkungan yang menunjukkan perilaku yang baik dan buruk tergantung dari didikan dari orang tua nya sebab orang tua memliki peran yang sangat penting dalam mendidik dan membina anaknya.

Orang tua dan lingkungan adalah penentu tumbuh kembangnya potensi anak, sebagai orang tua, anak adalah amanah yang telah diberikan oleh Allah yang harus diasuh, dibimbing, dan dipelihara agar menjadi pribadi yang sukses menjalani kehidupan di dunia dan nantinya akan dipertanggung jawabkan di akhirat.

Sementara lingkungan anak tempat dimana dia berinteraksi yang akan mewarnai kehidupannya, dengan dua macam warna yaitu warna kebaikan dan warna keburukan yang dia hasilkan dalam kehidupan sehari-hari, maka dari itu para orang tua disamping mereka sebagai mendidik dan mengasuh dengan benar juga dituntut untuk memilih lingkungan yang tepat baik untuk anak baik di lingkungan tempat tinggal, tempat belajar dan juga komunitas-komunitas pergaulannya.

Agar dapat berhasil melakukan tugasnya dengan baik, maka orang tua harus memahami bagaimana cara mendidik anak benar dan sesuai dengan perkembangan era globalisasi atau sesuai dengan tuntutan zamanya seorang anak dan tetap berpegang teguh pada ajaran Allahu subhana wata’ala dan tuntunan Rasulullahi sholallahu alaihi wasalam, karena setiap generai akan menghadapi zamanya yang berbeda dari masa ke masa sesuai dengan perkembangan zaman.

Khalifah ke empat atau terakhir Ali Bin Abi Thalib berkata Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya karena mereka hidup bukan di zamanmu”, di zaman ilmu pengetahuan yang semakin hari semakin maju ini, yang harus kita tanamkan pada anak-anak kita yang paling utama adalah keimanan dan ketakwaan (IMTAQ) kepada Allahu Subhana Wata’ala. Jadikan yang hala dan haram yang haq dan bathil sebagai tolak ukur dalam perbuatan dalam meraih Ridho Allahu Subhana Wata’ala sebagai tujuan hidupnya.

Menyiapkan generasi untuk berproses dan hidup pada zamannya adalah membentengi diri mereka untuk tetap tegar dan kokoh dalam berpegang teguh pada ajaran agamanya menanamkan nilai-nilai akidah yang benar agar tidak tergoyah dengan berbagai macam tipu daya dan kesenangan dunia yang fana ini.

Di samping itu, dapat membekali keterampilan hidup mereka dan menancapkan potensi yang mereka miliki dengan semangat keimanan agar dapat bersaing dalam segala tantangan yang dihadapinya, setaip orang tua selalu mendambakan buah hatinya memiliki prestasi yang membanggakan baik dalam bidang akademik maupun non akademik, dalam memacu potensi anak maka orang tua harus betul-betul mengenali potensi yang dimiliki oleh anak dan melakukan pendekatan yang tepat untuk mendorong mengembangkannya.

Kemudian tugas orang tua dalam mengembangkan adalah memberikian motivasi secara konsisten bukan mengintimidasi sehingga dia akan berkembang terus dengan ide dan kreativitasnya, motivasi dari orang tua lah yang akan menumbuhkan sikap percaya diri pada anak untuk berprestasi.

Keberhasilan anak berawal dari komunikasi yang baik terhadap orang tua dan anak karena komunikasi yang baik pada hakekatnya adalah bentuk perhatian yang sering dilakukan dan tanpa disadari, perhatian yang diberikan oleh orang tua terhadap anak dapat berpengaruh terhadap motivasi belajarnya. Mislanya ketika pulang dari sekolah hendaknya orang tua menanyakan kepada anak tentang apa saja yang dilakukan di sekolah, sebab di situ tidak menutup kemungkinan dia memiliki masalah dengan temanya, atau dengan guru dan maslah sosial ketika dia di sekolah.

Dalam melakukan pendekatan untuk memperlakukan anak Ali Bin Abi Thalib ra membagi sesuai kategori usia anak ke dalam tiga kelompok.

Usia 0-7 tahun, perlakukan anak kita seperti raja, layani kebutuhannya dengan baik dan penuh kasih sayang agar dia selalu bahagia dengan perhatian yang kita berikan sehingga dia akan berkembang perilakunya dengan baik sesuai dengan dengan kasih sayang yang kita berikan.

Usia 8-14 tahun, perlakukan anak seperti tawanan, memasuki masa remaja adalah saatnya anak diberlakukan aturan dengan hak dan kewajiban yang diberikan kepadanya agar terbentuk sikap disiplin diri dan rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Usia 15-21 tahun, perlakukan anak seperti sahabat, perkembangan usia anak sejalan dengan perkembangan pola pikir di saat masuk usia dewasa ini, anak membutuhkan partner untuk berbagi, selalu sabar dslam mendengarkan keluhan dari masalah yang dia alami sehingga dia merasa nyaman.

Jika orang tua tidak bisa bisa menjadi tempat berbagi untuknya maka dia akan mencari orang lain yang perduli dan mau mendengarkan keluh kesahnya, yang belum tentu orang itu baik untuk anaknya dan belum menjamin keselamatan baginya, sebuah kekhawatiran yang harus hadir dalam diri orang tua ketika anak dalam suasana seperti ini.

Keberhasilan mengantarkan kesuksesan anak adalah kebanggaan bagi orang tua. Kesuksesan sejati bagi anak yang patut dibanggakan oleh orang tua adalah anak yang tumbuh dan berkembang dengan keimanan yang kokok, hatinya terus terpaut dengan masjid, akhlak yang terpuji dan ibadah yang tekun.

Dengan modal pribadi yang kuat inilah setiap anak akan mampu menghadapi berbagai tantangan zaman yang ditemui di kehidupannya sehingga anak akan menjadi pribadi yang sukses mengukir prestasi yang gemilang dalam bidang apapun yang dikembangkannya.

Untuk mewujudkan sebuah harapan besar melahirkan generasi yang bertakwa, menggapai prestasi dengan dasar keimana yang kokok serta menjadi tauladan bagi generasi yang lain.
Wallahu’a’lam.

Penulis : Abdul Gafur, S.Pd.i (Mahasiswa Pascasarjana UMSIDA)
×
Berita Terbaru Update