Notification

×

Iklan

Iklan

Malangnya Nasib Maut Karena Sang Waktu dalam Puisi Maut dan Waktu

Jumat, 01 Juni 2018 | Juni 01, 2018 WIB Last Updated 2018-06-01T10:53:16Z
Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Puisi merupakan salah satu karya sastra fiksi. Kenapa puisi dikatakan sebagai karya fiksi? Karena puisi merupakan sebuah karya sastra imajinatif yang cenderung menggunakan bahasa imajinatif atau makna kiasan danjuga menggunakan majas. Puisi diciptakan pengarang dengan mengungkapkan apa yang ada pada pikiran dan perasaan penyairnya secara imajinatif.

Puisi yang berjudul Maut dan Waktu karya Abdul Hadi W.M. menggambarkan bahwa kita sebagai manusia harus menghemat atau mempergunakan waktu saat masih hidup dengan sebaik-baiknya. Dalam kehidupan kita maut sangat erat kaitannya dengan waktu. Karena datangnya maut terikat oleh waktu. Tetapi di sisi lain waktu seakan-akan membatasi hidup setiap manusia.

Pada bait pertama, baris kesatu dalam puisi Maut dan Waktu kata maut dalam puisi tersebut dicitrakan sebagai sesuatu yang indah hingga membuat si pengembara sampai terlena dan tak ingat rumah, dapat di lihat pada kutipan “kata maut, sesungguhnya akulah yang memperdayamu pergi pengembara sampai tak ingat rumah”. Kata maut tersebut juga menandakan bahwa arti kata “maut” dalam puisi Maut dan Waktu ialah tidak bermakna sebenarnya.

Pada baris kedua puisi Maut dan Waktu tersebut manusia digambarkan tanpa lelah “menyusuri gurun-gurun dan lembah” yang artinya bahwa setiap manusia pasti di dalam hidupnya ada keburukan dan kebaikan yang tergambar pada kata “gurun dan lembah”. Kata “gurun” di citrakan sebagai hal-hal yang “buruk” karena arti gurun yang sebenarnya adalah padang pasir yang gersang dan panas. Sedangkan kata “lembah” dicitrakan sebagai hal-hal yang “baik”, karena arti kata “lembah” sebenarnya ialah wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan yang menandakan kesejukan dan kedamaian. Baris ketiga menjelaskan tentang berbagai jalan yang dilalui manusia dalam menjalani kehidupannya terdapat pada kutipan “ke luar masuk ruang-ruang kosong jagad raya”.

Selain itu juga menggambarkan salah satu ciri seorang mukmin sedang mencari pahala yang terdapat pada kutipan berikut “mencari suara merdu Nabi Daud yang kusembunyikan sejak berabad-abad lamanya” bermakna bahwa suara merdu Nabi Daud tersebut menandakan mukjizat yang terjadi pada Nabi dan juga bagi manusia sebagai pencarian keilhaman.

Pada bait ke dua baris pertama digambarkan bahwa terdapat sisi lain perjalanan itu membuang banyak waktu, terdapat pada kutipan berikut “tidak, jawab waktu, akulah yang justru memperdayamu sejak hari pertamamu”.

Baris kedua menjelaskan tentang bagaimana manusia terlena dengan waktu yang diberikan kepadanya padahal semua kesenangan itu hanya bersifat fana yang terdapat pada kutipan berikut “sejak hari pertama Qabi kusuruh membujukmu memberi umpan yang lezat mengenyangkan hingga kau pun tergiur”.

Baris ketiga mencitrakan bahwa manusia mengingankan lebih banyak lagi keinginan-keinginan sampai mereka (manusia) merasa gelisah sendiri terhadap zaman yang sudah semakin mendekati hari penghancuran, yang tertdapat pada kutipan berikut “ingin lagi dan lagi sampai gelisah dari zaman ke zaman mencari nyawa Habil yang kau kira fana”.

Pada baris keempat mencitrakan bahwa manusia-manusia seperti yang tergambarkan tidak memikirkan kematiannya dan melupakan kematiannya mirip seperti seorang pahlawan yang malang, yang terdapat pada kutipan berikut “mengembara ke pelosok-pelosok dunia bagaikan Don Kisot yang malang”.

Struktur batin puisi berjudul Maut dan Waktu karya Abdul Hadi W.M. terdiri dari tema, nada, perasaan, dan amanat. Tema pada puisi Maut dan Waktu adalah Kematian. Nada pada puisi tersebut seharusnya tinggi, dan perasaan dalam puisi tersebut syahdu. Amanat pada puisi tersebut ialah jangan terbedaya oleh sang waktu, karena pada nyatanya kita tidak pernah sadar, bahwa waktu berjalan sangat cepat.

Puisi berjudul Maut dan Waktu karya Abdul Hadi W.M. sangat mengajak kita untuk sadar akan pentingnya waktu dan kematian. Karena maut dan waktu saling berkaitan satu sama lainnya. Jadi gunakanlah waktu kita untuk hal-hal yang berkegiatan positif agar tidak terlena dengan bujuk rayuan sang waktu.

Penulis : Safira Nur Arfiani (Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Malang).
×
Berita Terbaru Update