Notification

×

Iklan

Iklan

Gadung (Lede), Tanaman Hutan Daerah Bima yang Sangat Bermafaat

Kamis, 21 Juni 2018 | Juni 21, 2018 WIB Last Updated 2018-09-14T19:53:50Z
Foto : Gadung (Lede).
Indikatorntb.com - Penggalian sumber pangan pokok masyarakat kabupaten Bima masih terus dilakukan sampai saat ini, karena bahan pangan pokok masih tergantung pada beras (padi) yang harganya semakim tinggi dan terjadinya gagal panen padi masyarakat.

Sementara produk olah makanan modern yang beredar di pasar dan dikonsumsi masyarakat kabupaten Bima umumnya berbahan baku tepung terigu yang merupakan material impor, selain harganya terus meningkat juga akan berdampak pada semakin terkurasnya devisa Negara.

Disisi lain, sumber alam yang melimpah sebagian besar masih banyak yang belum digali dan dikembangkan menjadi produk yang berguna bagi pangan masyarakat.

Untuk itu, semua pihak harus bersama-sama mencari terobosan untuk mengoptimalkan pemanfaatan hasil-hasil utama maupun hasil sampingan pertanian, perkebunan, maupun kehutanan yang sudah ada.

Belum dikembangkannya pamfaatan bahan-bahan lokal tersebut, boleh dikatakan dikarenakan belum dikuasainya informasi yang berkaitan dengan potensi dan keunggulan bahan lokal, belum dikuasainya teknologi ekplorasi dan versifikasi bahan-bahan lokal menjadi produk yang berkualitas oleh masyarakat.

Salah satu bahan lokal di kabupaten Bima yang layak dikembangkan menjadi produk makanan alternatif adalah umbi gadung (Lede).

Tanaman umbi gadung ini sebenarnya memiliki keunggulan, yaitu tumbuh liar disela-sela tanaman hutan, sebagian di daerah lain seperti Kalimantan dan Sumatera bahkan Jawa juga dibudidayakan dengan kultur teknik yang sederhana, dapat tumbuh dengan baik walau secara tumpang sari dengan pencahayaan sinar matahari yang kurang.

Gadung sebenarnya memiliki banyak khasiat yang dapat diolah, baik menjadi bahan pangan maupun obat-obatan. Akan tetapi karena mengandung senyawa antigizi atau zat racun, maka diperlukan teknik khusus untuk menghilangkannya. Juga performa bahan yang kurang menarik dan kurang praktis maka menjadikan gadung terbatas pemanfaatannya.

Diketahui, masyarakat desa sejak dahulu sudah memanfaatkannya sebagai bahan pangan pokok hingga sekarang. Khususnya pada saat musim kemarau yang panjang dan terjadi krisis bahan pangan.

Permanfaatan umbi gadung secara terbatas juga dimanfaatkan dalam bentuk keripik gadung yang kemudian dijual karena memiliki nilai jual yang cukup tinggi.

Tanaman gadung memang cukup populer walaupun kurang mendapat perhatian. Di pasaran harga jual dari gadung memang tergolong tinggi sehingga pembudidayaannya menjanjikan. Peluang usaha budidaya gadung memang menjadi salah satu jenis bisnis yang menjanjikan. Dimana masih jarang orang yang menanam gadung sehingga harga jualnya masih tinggi.

Memang, potensi tanaman gadung sebagai tanaman industri dan bahan pangan, belum banyak dilirik. Pengembangan tanaman ini baru sebatas untuk makanan ringan di daerah lain, meski manfaat serta khasiatnya cukup banyak. Namun, pengembangan ke arah tersebut masih sangat minim.

Gadung masih dikenal sebagai makanan orang miskin. Padahal, kalau melihat potensi dan kandungan gizi yang ada di dalamnya, tidak kalah dengan tanaman yang lain.

Keterbatasan teknologi pemanfaatan umbi gadung menjadi bahan pangan yang berkualitas, menjadikan umbi gadung masih kurang bernilai secara ekonomis, selain itu juga menjadikan ekplorasi umbi gadung kurang berkembang, serta preferensi masyarakat terhadap produk gadung juga rendah.

Oleh karena itu, perlu di ada suatu teknologi detoksifikasi umbi gadung menjadi produk olahan pangan yang aman sebagai bahan pangan alternatif dengan citra modern yakni berkualitas baik dari aspek gizi, aman, beraneka bentuk, rasa maupun bersifat siap saji.

Penulis : Subhan Al-Karim
×
Berita Terbaru Update