Notification

×

Iklan

Iklan

Siapa Berhak Menafsir Jihad

Minggu, 20 Mei 2018 | 08.26.00 WIB
Ilustrasi (foto : youtube)
Indikatorbima.com - Abdullah Ibnu Mubarak salah seorang tokoh ulama penganjur salaf berkata: "Wahai ahli ibadah di Haramain, andai kamu melihat kami. Kamu tahu, bahwa kamu bermain-main dengan ibadahmu. Bila orang membasahi pipi dengan cucuran air matanya. Maka leher-leher kami telah berlumur dengan darah kami. Bila kuda-kuda orang lelah dalam membela kebatilan. Maka kuda kami pun kelelahan dalam peperangan. Buat kalian adalah wanginya minyak, tetapi bagi kami, wanginya derap kuda dan debu suci yang beterbangan".

Satu kata yang tak diberi pada agama apapun di semesta ini yaitu : Takbir. Hanya Islam yang punya kalimat ini tanpa bermaksud menganggap agama lain lebih rendah. Jihad, ini kata lain yang tak bisa dipisah dari kata takbir, keduanya bersinggungan saling melengkapi dan takbir menjadi bagian paling urgen ketika jihad dilakukan. Takbir bisa merendahkan, mengecilkan dan membuat lawan bergetar takut.

Kata jihad berasal dari kata jahada atau jahdun yang berarti usaha atau juhdun yang berarti kekuatan. Secara bahasa, asal makna jihad adalah mengeluarkan segala kesungguhan, kekuatan, dan kesanggupan pada jalan yang diyakini yang diiktikadkan bahwa jalan itulah yang benar.

Menurut Ibnu Abbas, salah seorang sahabat Nabi Saw, secara bahasa jihad berarti “mencurahkan segenap kekuatan dengan tanpa rasa takut untuk membela Allah terhadap cercaan orang yang mencerca dan permusuhan orang yang memusuhi”.

Menurut Hasan al-Banna salah seorang pendiri Ikhwan Al Muslimin, jihad mempunyai beberapa makna:

Pertama, jihad bermakna amar ma’ruf nahi munkar, memberikan nasehat kepada para pemimpin dan segenap umat Islam menuju jalan Allah , Rasul-Nya dan kitab-Nya. Tidak ada suatu kaum yang meninggalkan aktivitas saling menasehati, kecuali kaum itu akan menjadi hina; tidak ada suatu kaum yang meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, kecuali kaum itu akan direndahkan.

Kedua, jihad bermakna menyisihkan sebagian waktu, sebagian harta, dan sebagian kepentingan pribadi untuk kebaikan Islam, dan putra-putra kaum Muslimin. Jika mempunyai posisi sebagai pemimpin, ia berinfak untuk memenuhi kebutuhan anak buahnya.

Ketiga, menjadi pejuang Allah, mempersembahkan jiwa dan hartanya hanya untuk Allah, hingga tidak ada yang tersisa sama sekali. Ketika keagungan Islam diganggu, keotentikannya dikoyak, kemuliaannya dinodai, lalu terompet kebangkitan ditiup untuk perjuangan mengembalikan kejayaan Islam, maka ia menjadi orang pertama yang memenuhi panggilan itu dan menjadi orang pertama yang maju membela Islam.

Keempat, menentang orang yang mengingkari agamanya, memutus hubungan dengan orang yang memusuhi Allah dan rasul-Nya.

Kelima, berjuang mewujudkan neraca keadilan di tengah masyarakat dan memperbaiki urusan mereka, menolong orang yang dizhalimi dan membasmi kezhaliman, siapa pun pelakunya.

Menurut Aboul A'la al-Mawdudi, makna jihad adalah bahwa di dalam diri umat Islam, terdapat semangat atau ghirah terhadap keimanan, cinta kepada agama, dan nasehat yang tulus untuk saudara-saudara Muslim. Jihad fî Sabîlillah dalam pengertiannya yang khusus, yaitu perjuangan yang dilakukan oleh kaum muslimin di hadapan musuh-musuh Islam. Tidak ada yang memicu perjuangan tersebut, selain mencari keridlaan Tuhan.

Dengan demikian jihad adalah kelanjutan dari ”politik Tuhan”. Jihad adalah perjuangan politik revolusioner yang dirancang untuk melucuti musuh-musuh Islam, sehingga memungkinkan kaum Muslimin menerapkan ketentuan- ketentuan syari’at yang selama ini diabaikan.

Penegakan hegemoni Islam melalui jihad adalah membebaskan individu-individu dari dominasi politik non- Muslim. Begitu kekuasaan politik berada di tangan elit Muslim dan syariat Islam ditegakkan, maka seluruh warga negara dibebaskan; apakah memeluk Islam atau tetap dalam kepercayaannya yang non-muslim, asalkan mereka berdamai dan tidak menyerang.

Pada daerah yang kemudian disebut kufur atau daarul harb itulah jihad wajib ditegakkan. Lantas kemudian banyak persepsi, sebagian berkata Indoenesia adalah negeri kufur (darl harb) lantas jihad harus ditegakkan. Sebagian besar lagi berkata Indonesia adalah negeri Islam (Daulah Islam) meski belum sempurna. Dari situlah kemudian sumber selisih tentang jihad bermula.

Jihad memang kata penuh kontroversi dan punya banyak tafsir. Dan orang boleh memaknai jihad dengan persepsi masing-masing termasuk konsep tentang 'musuh-Allah' yang dihalalkan darahnya. Lantas siapa bisa jelaskan kenapa jihad harus membawa bom yang di ikat dalam tubuh dan memburai isi perut pada ibu dan anak-anak imut untuk tanggung jawab yang seharusnya tak ditanggung pribadi ... perang adalah tanggungjawab bersama bukan soal person yang kemudian berangkat perang sendiri mengatas namakan Islam.

Wallahu a'lam

@taddarus: 4 Masjid Muhammadiyah Kyai Dalhar Iksan Blabak Magelang.
×
Berita Terbaru Update