Notification

×

Iklan

Iklan

SBY: Menakar Peluang, Menyalib di Tikungan

Sabtu, 05 Mei 2018 | Mei 05, 2018 WIB Last Updated 2018-05-05T03:46:22Z
SBY (foto : Suara Pembaharu).
Indikatorntb.com - Pemilihan presiden masih satu tahun lagi. Riuh politik kuat terasa. Beberapa partai sudah menyatakan dukungan mereka kepada Jokowi agar kembali memimpin negara ini. Sebut saja PDIP, Nasdem, Golkar, Hanura, Perindo dan PPP. Partai Demokrat belum memberikan pernyataan resmi bakal mendukung siapa. Polarisasi dukungan hanya mengerucut pada Jokowi dan Prabowo.

Saat pertemuan dengan alim ulama di Cilegon, Banten, Minggu malam, 24 April 2018, Presiden keenam RI ini memberikan sinyal soal pemimpin Indonesia berikutnya. Menurut SBY: "tahun 2019, akan ada pemimpin baru yang amanah, dan sesuai keinginan rakyat, capres pilihan Demokrat adalah yang bisa merangkul semua lapisan masyarakat, tanpa terkotak-kotak oleh apapun".

Pernyataan cerdas di tahun politik agar Demokrat diterima di semua lapis masyarakat, bukannya malah membuat kotak baru yang lebih sempit dan eksklusif. SBY sadar bahwa penduduk Indonesia bukan hanya muslim tapi juga ada agama dan kepercayaan lain yang harus dilindungi dan dijaga. Pun dengan muslim ada banyak aliran dan manhaj. Ini Presiden bukan memilih ketua ormas.

Konflik antara pendukung Jokowi dan Prabowo yang terus menerus tanpa ada titik temu dibaca cerdas oleh SBY sebagai sebuah peluang untuk mengusung calon alternatif. SBY adalah orang yang paling pintar membaca peta politik termasuk membuat kalkulasi jitu bagaimana memenangi sebuah pertarungan dengan tidak harus bekerja keras.

Sementara FPI dan partai-partai berbasis massa Islam telah bekerja keras mengerahkan massa, termasuk harus head to head, bahkan tak segan mengusung ayat untuk melawan PDIP dan pendukungnya, malah berakhir hanya membuatkan jalan yang lempang. Karena tak punya calon yang layak diajukan dan disetujui bersama. Sekaligus menggelar karpet merah agar sang putra mahkota melenggang tenang. Lazimnya partai-partai Islam yang selalu riuh tapi sepi dan tak pernah ada goal dibuat. Boros energi dan lelah saat petarungan sesungguhnya di helat.

Kecerdikan SBY dan Demokrat adalah tidak larut dalam konflik dua kubu yang berseteru. Tetap berada di tengah dan tidak menjadi bagian dari konflik, sembari menjajagi hubungan baik antara keduanya. Sebuah politik uportunis yang cerdas sambil menunggu kedua kubu berseteru 'sampyuh' kelelahan lalu ambil jalan pintas menyalib di tikungan. Cara politik yang efisien dan hemat energi dan feed saat bertarung.

Dengan menjaga netralitas, maka Demokrat akan menjadi partai alternatif yang tidak memihak dan itu adalah cara cerdas untuk mendapat limpahan suara liar. Demokrat berusaha menjaga hubungan baik dengan siapapun termasuk dengan dua kubu yang berseteru berikut gerbong partai yang mengusung.

SBY dan Demokrat tetap piawai. Tidak banyak membuat statement politik kontroversi yang kontra produktif apalagi memetakan lawan politik yang tidak penting. Sebab politik adalah mencari teman dan dukungan bukan terus mencari lawan dan musuh. SBY ingin calon yang di usung kelak di dukung oleh semua. Bukan calon partisan yang mengedepankan agama dan golongan tertentu.

Sebuah cara pandang yang luas dan berwawasan jauh ke depan. Kesadaran nasionalisme ini penting dimiliki politisi muslim agar bisa leluasa bergerak dan diterima semua golongan bukan hanya berjuang pada kepentingan sempit satu golongan atau manhaj tertentu yang dibungkus atas nama agama. Politik rahmatan lil alamien yang bermanfaat bagi semua agama dan golongan di negeri ini tanpa pandang bulu.

Bagaimanapun politik adalah soal seni (arth), cerdas memainkan isu, pintar membaca situasi dan tepat mengambil keputusan. Termasuk kapan diam dan kapan bersuara, bukan terus mengumbar statement politik kontroversi, menciptakan suasana gaduh apalagi polarisasi pemilih. Dan yakinlah bila cara demikian terus dilakukan kita akan ditinggalkan pemilih. Ini soal 197 juta kepala pemilih dengan berbagai latar belakang sosial, budaya, ekonomi dan agama, dan SBY ada di 'jalan politik' yang benar ...
Wallahu al'lam

Penulis : @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
×
Berita Terbaru Update