Notification

×

Iklan

Iklan

Kartini dan Agamanya

Rabu, 02 Mei 2018 | Mei 02, 2018 WIB Last Updated 2018-05-02T14:31:04Z
R.A Kartini (foto : Sabda Inspirasi)
Indikatorntb.com - Ia lahir pada 21 April 1879 di kota Rembang, Jepara, Jawa tengah. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura.

Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan yaitu R.A.A. Tjitrowikromo. Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Masa muda, kartini mengalami proses pembelajaran Islam yang sangat terbatas. Pada awalnya ia hanya mendapatkan pengajaran baca tulis Al Qur’an, namun tidak diberi penjelasan makna dari apa yang ditulis dan dibaca tersebut. Hal ini tampak dari surat Kartini kepada Stella:


“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899).

“Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” (Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899).
“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya” (Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902).

Suatu ketika, Kartini menghadiri pengajian di rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat yang juga adalah pamannya. Pengajian dibawakan oleh seorang ulama bernama Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, atau dikenal Kyai Soleh Darat, tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertarik sekali dengan materi yang disampaikan. Usai pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat.

Isi dialog Kartini sebagaimana yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat.

Kartini: “Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?”
Kyai Soleh: “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”
Kartini: “Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Setelah pertemuan itu Kyai Soleh Darat mulai menuliskan terjemah Al Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Pada pernikahan Kartini, Kyai Soleh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran yang diberi judul “Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran”, jilid pertama terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Kartini mulai mempelajari Islam melalui kitab yang ditulis Kyai Soleh Darat. Tapi sayang, tidak lama setelah itu Kyai Soleh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa.

Kartini belum mengenal “tarbiyah”, belum mengenal bimbingan keislaman yang intensif. Kartini belum bertemu ustadz dan ustadzah yang berkafa’ah syar’i yang bisa membimbingnya secara rutin dalam kajian Islam pekanan. Maka pemahaman keislamannya masih sangat terbatas, namun ia memiliki semangat yang super dari berbagai tulisan suratnya.

Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa Allah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya, minazh zhulumati ilan nur. Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata itu. “Dari kegelapan menuju cahaya”. Dalam surat-suratnya kemudian, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kalimat “dari gelap menuju cahaya” ini. Istilah “dari gelap menuju cahaya” yang dalam Bahasa Belanda adalah “Door Duisternis Tot Licht” menjadi kehilangan makna setelah diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Akhirnya sampailah, “Hari yang membawa perubahan dalam jiwa kami. Sudah kami dapatkan Dia (Allah, pen) yang bertahun-tahun lamanya didahagakan oleh jiwa kami dengan tiada setahu diri.” Selanjutnya Kartini menyatakan kepada E. C. Abendanon. ”Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan (Al-Qur’an, pen) di samping kami” (15 Agustus 1902).


Menurut Ahmad Mansur Suryanegara, Al-Qur’an yang dikaji Kartini telah menumbuhkan sikap baru, “Kami bersedia, bersedia berbuat apapun, bersedia memberikan diri kami sendiri.” Selanjutnya Kartini bersedia berkorban dan korbannya ini dinilai sebagai, “Bersedia menerima: luka hati, air mata darah akan mengalir banyak-banyak, tetapi tiadalah mengapa: kesemuanya itu akan membawa ke arah kemenangan. Manakah akan terang, bila tiada didahului gelap gulita. Hari fajar lahir pada malam” (17 Agustus 1902).

Jadi, Apa Perjuangan Kartini?

Jadi, bagaimana kita bisa menganggap Kartini mencita-citakan persamaan antara perempuan dan laki-laki seperti paradigma Barat? Apa ini bukan propaganda Barat untuk menunjukkan keberhasilan mereka dalam mencerahkan perempuan Indonesia melalui Kartini? Memprihatinkan, kalau kita posisikan seperti ini. Nyatanya, Kartini bahkan menyerang peradaban Barat. Hal ini tertuang dalam surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 27 Oktober 1902: 

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?“

“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang setengah Eropa atau orang-orang Jawa Kebarat-baratan” (surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 10 Juni 1902).

Yang diperjuangkan Kartini adalah pengajaran dan pendidikan untuk kaum perempuan. Bukan memperjuangkan emansipasi. Perhatikan surat Kartini berikut:


“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, pada 4 Oktober 1902).


"Tetapi sekarang ini, kami tiada mencari penglipur hati pada manusia. Kami berpegangan teguh-teguh pada tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang, dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi" (Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat).

Sebagai seorang muslimah, Kartini juga mengkritik upaya pindah agama terhadap umat Islam yang dilakukan penjajah Belanda dalam pesan-pesanya. 

Ahmad Mansur Suryanegara memberikan catatan, “Di tengah perjuangannya menentang adat dan mencari ajaran agama, Kartini mendapatkan semacam ajaran agama Kristen dari Ny. van Kol. Tetapi Kartini sekalipun masih muda, namun tidaklah kehilangan identitasnya sebagai pemeluk agama islam. Tidak silau dan terpukau oleh kemajuan Barat, Kartini menunjukkan kematangan sikapnya: ‘Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami (Agama Islam, pen) yang sekarang ini’ (21 Juli 1902). Demikianla jawaban Kartini menolak ajakan Ny. van Kol”.

Jika Kartini sekarang masih hidup atau kita telusuri kembali perjuangannya secara mendalam, sepertinya beliau akan sedih melihat peringatan Hari Kartini selalu dikaitkan dengan emansipasi seperti yang dipahami masyarakat Indonesia umumnya sekarang ini. Seakan dia mengajak berperang melawan kaum laki-laki untuk menuntut persamaan hak. Padahal Allah sudah memberikan hak, derajat dan posisi antara laki-laki dan perempuan, tanpa harus dituntut. Kartini bahkan berjuang untuk membuat Islam bisa diterima secara baik oleh umat lain.

“Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 5 Maret 1902).

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah (Abdulloh)” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 1 Agustus 1903).

“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Alloh, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dia-lah yang dapat menyembuhkan” (Surat Kartini kepada Nyonya Abandanon, 1 Agustus 1903).

Penulis: Suci Nujul Hayati. Pusat studi Mahasiswa Pascasarjana (PUSMAJA) Mbojo - Yogyakarta
×
Berita Terbaru Update