Notification

×

Iklan

Iklan

Tanpa Cinta 2030 Indonesia Bubar

Sabtu, 28 April 2018 | April 28, 2018 WIB Last Updated 2018-04-28T12:52:08Z
Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Setelah kehilangan terbesar mengambil segalanya dibulan Maret, Delapan Tahun lalu, hidup terasa seperti berada diatas Panggung Seni berukuran 3 X 3 tanpa banyak lampu, tanpa ada penonton lalu mulai memainkan Monolog tentang diri sendiri, bicara untuk telinga sendiri, tersenyum namun sayang mata tak bisa melihat senyum sendiri, menyimpan duka di dua buah telapak tangan lalu dikepal hingga tak nampak pada garis-garis dibawah kelopak mata.

Memainkan monolog tanpa disaksikan puluhan hingga ratusan mata ibarat bicara dengan hati sendiri, membagi luka, duka bahagia dengan diri sendiri, sebab manusia tak cukup hebat untuk menyelesaikan masalah manusia lainnya, mengapa demikian? Karena setiap dari kita punya masalah sendiri yang belum tentu dapat diselesaikan.

Melihat hiruk piuk yang melanda bangsa ini, tetiba aku teringat pada-mu, pada cinta terakhir yang aku berikan pada-mu. bukankah setelah aku berikan cinta terakhir yang dibungkus dengan kresek berwarna putih, sudah kukatakan simpanlah cinta ini untuk manusia, untuk masa depan Bangsa agar Jakarta hingga ujung Papua dapat hidup penuh bahagia, lalu mengapa hari ini kondisi Bangsa menjadi begitu semerawut? Tidakkah kau bagikan cinta itu?

Juwita, dahulu Ayah-ku setelah seharian beradu nasib di jalanan ia selalu kembali kerumah dengan wajah tersenyum seolah olah tak ada satu masalahpun yang ia temui di jalan-jalan kota ini, di trotoar trotoar-yang penuh dengan pedagang kaki lima.

Ayah-ku selalu membawa pulang Cinta kerumah saat ia selesai bekerja, Cinta yang dibungkus kresek putih bertuliskan ALEX, aku bahkan pernah bertanya, pada suatu siang saat aku dan ibu duduk di meja makan menunggu ayah pulang, setibanya beliau dengan menenteng dua kresek cinta, aku bertanya mengapa ayah membeli cinta setiap hari? Bukankah di dapur ibu memiliki persediaan cinta yang cukup untuk dimasak setiap harinya? ayah hanya terdiam, memberikan senyuman tanpa menanggapi pertanyaanku.

Suatu siang ayah pergi menghadap tuhan kekasihnya, sejak saat itu ia tak pernah lagi kembali ke rumah. Waktu terus berjalan, persediaan cinta di dapur sudah semakin menipis, ibu harus bekerja ekstra keras untuk mencari toko dimana ayah sering membeli cinta, sebab semasa hidupnya ayah tak pernah memberi tahu dimana alamat toko tempat ia sering membeli cinta.

Saat stok cinta di dapur sudah hampir habis, dengan penuh daya ibu mencari, berkeliling dari pedagang kaki lima, hingga ke toko-toko di se-antero Kota, namun selalu ia dapati jawaban yang sama bahwa mereka tak lagi menjual cinta. Ibu kembali kerumah menenteng satu kresek hitam di tangan kirinya, yang berisi beras, sayur dan ikan,. Wajahnya tak begitu bahagia sebab ia tak dapat membeli cinta untuk dimasak. Sudah hampir 8 tahun berlalu dan kami hanya disuguhi sayur, nasi, ikan, sambal, juga beberapa potong pisang setiap harinya. Ibu sering mengganti beberapa menu sayur dan ikan, namun lagi-lagi makanan yang disuguhkan selalu terasa tawar sebab segala yang memiliki rasa telah ibu ikhlaskan bersama kepergian ayah, begitupun dengan cinta yang tak pernah lagi disuguhkan di atas meja makan.

Hingga suatu pagi aku mendapati kresek putih yang bertuliskan ALEX. Ah, bukankah ini kresek yang sering ayah gunakan untuk membungkus Cinta. Mungkinkah ALEX adalah nama Toko, nama Penjual, atau nama Pabrik yang memproduksi cinta secara masal? Aku begitu penasaran untuk mencari tahu dimana ayah sering membeli cinta, hari pertama aku mulai berkeliling kota mencari tempat dimana ayah sering membeli cinta, bertanya kepada setiap orang yang aku jumpai, mungkin saja mereka tahu dari mana asal kresek putih bertuliskan ALEX. Hampir seluruh orang yang kutemui tak punya jawaban dari mana asal kresek itu.

Pencarian dihari pertama berakhir, aku kembali ke rumah tanpa mendapatkan hasil apa apa. Tetiba aku teringat dengan Pak Yono tukang Ojek yang sering mengantar ayah dari kantor ke rumah. Keesokan harinya aku berinisiatif untuk mendatangi Pak Yono. Beliau masih seperti delapan tahun lalu duduk di pangkalan ojek dekat rumahnya, menikmati satu gelas kopi hitam sambil menunggu penumpang. Setelah bertemu, beliau masih ingat dengan wajah saya.

Saya mengutarakan maksud kedatangan saya untuk menanyakan dari mana kresek putih ini berasal, beliau bercerita bahwa delapan tahun lalu sering mengantar jemput ayah dari kantor ke rumah, kata beliau ayah selalu mampir di toko dekat kantornya untuk membeli sesuatu yang dimasukkan di dalam kresek putih, rutinitas ini selalu dilakukan ayah setiap harinya. Aku kemudian pergi ke toko itu, sesampainya disana hanya tinggal bangunan tua tanpa ada penghuninya, kata warga sekitar pemilik toko itu adalah pria lansia berketurunan cina, beberapa tahun yang lalu istrinya meninggal, beliau kemudian memutuskan untuk menjual bangunan tokonya ke warga lokal, namun tak ada yang tahu kemana beliau pindah.
Sejak hari itu aku memutuskan untuk berhenti mencari dimana alamat Pria lansia itu.

Hari berlalu, aku yang tumbuh dewasa memutuskan untuk hijrah meninggalkan rumah, menjalani aktivitas ditempat yang baru, kota yang baru, wajah-wajah yang baru, bau udara yang baru, hanya satu hal yang sama, benar kota ini sama seperti Rumahku, orang orang hanya pergi ke pasar membeli banyak bahan pokok kecuali cinta, sebab di lapak-lapak pedagang, cinta tak lagi dijual, katanya hal ini disebabkam oleh pengaruh krismon 98, ada juga yang membangun spekulasi diluar sana bahwasanya merosotnya Usaha Cinta dikarenakan Monopoli Asing terhadap penguasan Alat-alat produksi cinta.

Negara beranggapan bahwasanya Usaha Cinta sudah tak lagi sesuai zaman sebab di Era Postmodern rakyat lebih butuh makan rumah dan jabatan dibandingkan cinta, ditambah lagi pasca Reformasi terjadi amandemen besar besaran terhadap rule of game (Konstitusi) dalam bernegara sehingga hal ini menimbulkan perubahan yang mendasar terhadap pola pikir masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, lihat saja setelah hampir 20 tahun masuk dalam gerbang reformasi orang-orang hanya memasuk-kan Sandang, Pangan, Papan, sebagai kebutuhan dasar, namun cinta tak lagi menjadi kebutuhan utama, ia hanya hidup berdampingan dengan buruh dan petani di pedesaan, maklum saja sebab Buruh dan Petani adalah kelompok masyarakat yang sejak negara ini berdiri mereka ditugaskan di tempat tempat pembuangan untuk memproduksi cinta.

Suatu pagi dalam perjalanan menuju ke Warung Kopi Ban, motor saya bocor sekitar 22 meter dari tempat saya berhenti terlihat ada sebuah gubuk kecil yang memasang tulisan “Menerima Tambal Ban dan Isi Angin”. Terlihat seorang pria yang sudah memasuki usia senja siap untuk menambal ban motor saya, jari-jari tua yang rasanya sudah hampir kaku itu masih cekatan dalam membuka ban motor, karena penasaran dengan cerita hidupnya saya mulai bertanya, sudah berapa lama ia melakoni profesi sebagai ahli tambal ban, berapa ban perhari yang sanggup ia tambal, hingga dari mana asalnya. Pria tua itu bercerita bahwasanya ia baru melakoni profesi ini sekitar 2 tahun, ia juga perantau, sebelumnya ia tinggal dan membuka toko sembako di daerah kepulauan Kei Maluku, namun ada beberapa hal yang membuat ia harus menjual toko itu dan hijrah ke pulau jawa.

Inilah suatu kebetulan yang diharapkan, sebab aku juga lahir dan tumbuh ditempat dulu pria tua ini membuka toko sembako, kami bercerita banyak hal tentang kei, enbal, pulau bair, ngurbloat, hingga kacang botol. Tetiba saya terdiam saat pria tua berkata bahwasanya ia memiliki teman yang semarga denganku, namun beberapa tahun lalu temannya sudah terlebih dahulu pergi menuju yang kuasa.

Benarkah teman beliau adalah Ayahku, dengan wajah tertunduk aku mengutarakan nama ayahku, seketika beliau langsung berdiri merangkulku dengan tangan yang penuh debu, beliau meneteskan air mata di bahuku tanpa berkata kata, ia bergegas membuka pintu gubuk yang hanya terbuat dari anyaman bambu, dipersilahkanlah aku untuk masuk, menawarkan aku kopi sambil berkata, “Nak, ayahmu adalah pria yang baik, ia satu satunya pria yang setiap harinya membeli cinta di toko-ku. Sejak kepergian ayahmu tak ada lagi yang datang ke toko-ku untuk membeli cinta.”. Benar saja jika takdir tuhan tak bisa ditebak, aku tak pernah menebak bisa bertemu dengan pria pemilik toko dimana ayah sering membeli cinta.

Aku lalu menceritakan bagaimana kehidupan di kota yang kacau balau akhir-akhir ini, juga bagaimana usahaku untuk mencari toko-nya. Aku menanyakan apakah beliau masih menyimpan beberapa buah cinta, jika iya, aku berniat untuk membelinya. Memang benar setelah memutuskan untuk menjual tokonya bapak ini tak lagi menjual cinta, namun ia berkata padaku, bahwa hijrahnya dari kepulauan Kei ke Jawa tanpa membawa barang berharga, beliau hanya berangkat dengan membawa beberapa potong pakaian dan satu kantong kresek berisi cinta, namun didalam perjalanan beliau menjual beberapa cinta untuk bisa membeli makan, sebab perjalanan dari kepulauan Kei ke Jawa dengan menggunakan transportasi laut memakan waktu beberapa hari untuk sampai di Jawa. Beliau beranjak kebelakang gubuk dan kembali dengan menggemgam kresek putih di tangan kanannya, “Nak, hanya ini persediaan cinta yang aku miliki, hanya tersisa satu. Jika benar kau menginginkannya maka berjanjilah untuk tidak menjualnya hanya untuk kebutuhan perut dan kelamin. Itulah kalimat terakhir yang keluar dari mulut beliau sebelum aku membawa pulang satu satunya cinta yang tersisa.

Juwita, setelah beranjak dari gubuk itu, diperjalanan aku gemetar, tak henti meneteskan air mata, cinta yang aku masukkan di kresek putih aku sembunyikan di dalam bagasi motor sambil berharap tak ada pengendara lain atau pejalan kaki yang melihat satu satunya cinta yang masih tersisa di negara ini.

Cinta itu menghijaukan kembali setiap pohon disamping jalan yang sudah hampir kering, mengairi setiap sungai yang sudah kering, menguatkan para janda yang mengulurkan tangan di perempatan lampu merah, mengairi sawah sawah di tiap desa yang aku lewati, semua orang berhenti dan melihat segalanya berubah, lalu mereka dengan wajah tak percaya menatap cahaya yang keluar dari bawah tempat duduk motor-ku.

Aku semakin takut, orang-orang ini seperti ingin memburu-ku dan mengambil cinta terakhir yang merubah segalanya yang menjadikan tiada menjadi ada, sempit menjadi luas, tanah lapang menjadi sawah, benci jadi rindu, iri jadi peduli, bahkan Endonesa jadi Indonesia. Aku pacu motor ini lebih cepat agar bisa sampai dirumah dengan selamat. Sesampainya dirumah aku membuka bagasi motor, cahaya yang keluar begitu menarik perhatian para tetangga, kubungkus lagi kresek putih itu dengan kain hitam, masih saja cahayanya keluar, kumasukan kedalam kresek hitam lalu kuletakkan di gudang tanpa ada ruang udara agar cahayanya tak meraik perhatian warga.

Juwita, Bertahun tahun aku hidup penuh bahagia dengan cinta yang aku simpan digudang, sebelum saatnya kita bertemu dan aku melihat sifatmu yang sama seperti ibu, rasanya kau juga akan pandai dalam memasak cinta. Itu alasannya aku melepaskan kepergian-Mu tanpa memberi banyak pelukan juga kecupan, hanya cinta yang dibungkus kresek hitam tanpa ada ruang untuk udara.

Juwita, aku masih ingat pembicaraan kita 15 menit sebelum keberangkata kereta-mu, hanya satu pesanKu untuk-mu kala itu, “ambillah kresek berisi cinta ini, simpanlah sebaik mungkin jangan kau jual hanya karena kebutuhan perut dan kelamin, sebab tak ada lagi perusahaan yang memproduksi cinta di negara ini” dengan demikian kau pasti paham bahwasanya benda yang tersisa satu didunia kini hanya kau yang memilikinya.

Secara teoritis “Haraga selalu bergantung Pada ketersediaan barang dan banyaknya pembeli”, jika berangkat dari situ maka kau pasti paham bahwa cinta yang sekarang ditanganMu adalah satu satunya di muka bumi dengan demikian harganya tak terhingga, namu jangan kau tergiur untuk menjualnya sebab nasi dan ikan masih bisa dibeli, namun cinta tak lagi dijual di seluruh penjuru negara ini. Simpanlah cinta itu, aku memberikannya kepadamu sebab aku tahu kau mencintai manusia dengan demikian kau akan berusaha membaginya kepada umat manusia agar mereka dapat hidup, makan dan minum dengan cinta bukan nafsu.

Namun inilah jadinya jika kau menjual cinta itu, negara tak lagi berkembang, manusia hanya hidup untuk makan, minum dan mencari jabatan, alhasil birokrasi cari uang lewat korupsi, anak muda cari kerja dengan jalan kolusi, petani hanya menanam untuk dimakan sendiri sebab padi sudah dibeli dari luar negeri. Juwita beginilah wajah Indonesia jika pengusaha cinta sudah gulung tikar.

Penulis : Muhammad Ichsan
×
Berita Terbaru Update