Notification

×

Iklan

Iklan

Saatnya Jokowi Abaikan Pemilih Muslim

Senin, 09 April 2018 | 14.21.00 WIB
Presiden Joko Widodo (foto : Malangtoday).
Indikatorntb.com - Sebagian umat Islam garis keras sudah menabuh genderang perang. Akan menggulingkan Presiden pada tahun 2019. Sudah fulgar dan kasat mata. Pak Jokowi tak perlu sungkan. Umat Islam adalah lawan politik. Mengambil posisi berhadapan head to head. Kepada umat Islam yang tak suka sebagus apapun pekerjaan tak akan pernah diapresiasi. Ketika baik dibilang pencitraan ketika buruk dibilang tak pecus. Saatnya memetakan siapa lawan siapa kawan. Dan umat Islam adalah lawan sepadan.

Termasuk mengusir PAN dari koalisi sebab sikap abu-abu tak lagi dibutuhkan. Ini penting segera dilakukan untuk memutus mata rantai disparitas politik. Sikap abu abu PAN ini kontraproduktif bagi rezim Jokowi. Di dalam berkoalisi tapi bersikap oposan di luar mestinya segera dibersihkan, agar tak menganggu kinerja politik rezim berkuasa. Sebab PAN juga tak banyak membantu bahkan menganggu.

Dari 196,5 juta hak pilih, suara umat Islam yang tergabung pada partai-partai yang berbasis Islam (PKB, PKS, PPP, PAN, PBB) tak lebih dari 48,3 juta hak suara. Partai sekelas PBB saja tak pernah mencapai 2% suara Itupun kalau masih utuh. Jadi masih tersisa 150 juta hak suara dari pemilih netral. Dan Jokowi punya peluang besar disini. Tak perlu lagi mengandalkan pemilih muslim. Tapi bergeser pada pemilih abangan dan nasionalis yang terbukti setia dan loyal. Pemilih muslim terbukti mahal dan banyak memberi syarat. Jadi abaikan saja.

Bagi Jokowi , Meninggalkan pemilih Muslim menjadi sangat strategis dan urgent untuk merumuskan kebijakan politik pada periode selanjutnya. Yang selama ini terlihat sungkan dan setengah setengah bisa dilakukan utuh untuk memenangi periode dua. Tanpa umat Islam sebagai basis pendukung.

Sekaligus menarik garis demarkasi ideologi Islam garis keras. Dan Jokowi bisa berkoalisi dengan siapapun tanpa banyak dicela dan diribeti termasuk berkoalisi dan mendekat dengan negara-negara China dan Eropa Timur berhaluan kiri lainnya tanpa harus sungkan dengan Raja Abdullah penguasa kerajaan Saudi.

Pada akhirnya politik memang adalah pilihan. Menghitung cermat dan mengambil dengan cara efisien, kata Machiaveli sambil berkelakar. Dan para pangeran Italia muridnya banyak yang sukses menjadi raja dan bertahan lama tanpa dukungan pendeta dan gereja yang terkenal banyak syarat dan berongkos mahal. Jadi apa salahnya di coba ...

Tahun 2019 Semoga Allah berkenan memberi kita jalan yang baik. Untuk kebaikan dan maslahat bagi masa depan bangsa kita. Apapun bagi Allah tak ada yang tidak mungkin. Termasuk memberi atau mencabut kekuasaan. Memuliakan atau menghinakan. Semua adalah hak prerogratif Allah tabaraka wataala. Dan kita bertawakal setelah berihktiar.

Siapapun yang terpilih semoga yang terbaik bagi negara dan bangsa. Semoga pula tak ada lagi yang kecewa berat lantas membuat gaduh. Saatnya dewasa berpolitik menerima kekalahan dengan lapang dada dan menerima kemenangan tidak berkacak pinggang.

Bangsa kita sudah lelah berkonflik dengan ocehan dan akrobat politisi. Saatnya bekerja mwmbangun bangsa menjaga kedaulatan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Mengentas kemiskinan dan kebodohan menguatkan rasa nasionalisme yang mulai luruh.

Semoga kebaikan senantiasa. Berharap menjadi baldhatun thayibah. Aamiin


Penulis : @nurbaniyusuf PADMA-Community
×
Berita Terbaru Update