Notification

×

Iklan

Iklan

Politik Praktis dan Wacana Pemecah Belah Bangsa

Senin, 30 April 2018 | April 30, 2018 WIB Last Updated 2018-04-30T10:33:10Z
Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Semakin hari, negeri ini semakin melenceng dari tujuan awalnya didirikan. Kekuasaan yang seharusnya diambil dengan jalan musyawarah mufakat seperti yang telah di adobsi sejak dari nenek moyang kita ribuan tahun lalu. Hasil musyawarahpun mengenai pengutusan seseorang untuk menjadi pemimpin dilihat berdasarkan pengalaman dan kemampuan seseorang untuk memimpin. Dan sayangnya, kenyataanya sekarang musyawarah nasibnya sangat menyedihkan. Dia mulai dianak tirikan sejak datangnya demokrasi yang konon katanya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Saya juga memahami kenapa generasi sebelumnya mengubah kebijakan negara menjadi kebijkan yang bernama demokrasi (dalam hal memilih pemimpin). Semua itu disebabkan karena MPR yang saat itu memiliki wewenang penuh dalam memilih dan mengangkat presiden sudah dimasuki oleh jin dan setan berwujud manusia yang membawa misi individu dan kelompok. Saya sangat mengapresiasi generasi sebelumnya yang memilih demokrasi untuk menghindari politik kotor dalam internal MPR.
Dan memang yang namanya politik itu akan selalu berkembang mengikuti zaman, sama seperti barang elektronik dan aksesoris lainya.

Beberapa tahun sejak perubahan pemilihan pemimpin dengan jalan demokrasi lewat, semua lancer-lancar saja, dan itu tidak bertahan lama. Indonesia kembali dilanda oleh budaya baru untuk mencapai kekuasaan, yaitu lewat pencitraan. Sehingga beberapa orang yang menginginkan maju sebagai pemimpin mulai melakukan hal-hal baru yang dapat menarik perhatian masyarakat sebagai pemilih.

Didepan layar bersikap merakyat, turun ke sawah-sawah, datang ke daerah-daerah terpencil, betulkah itu betul-betul datang dari hati mereka, kalaupun betul, kenapa saat dekat pemulihan baru turun? Selama ini kemana? Sudah pasti itu semua untuk pencitraan. Dan hasilnya betul-betul berkhasiat. Jokowi dengan gaya pencitraannya yang bernama ‘blusukan’ menarik perhatian masyarakat, sehingga dia terpilih menjadi presiden di tahun 2014.

Sama seperti politik yang selalu berubah, masyarakat Indonesiapun juga semakin pintar, mungkin salah satu faktornya karena media-media seperti hp dan juga jaringan internet sudah mulai masuk di daerah-daerah terpencil, sehingga akses informasi terbuka luas untuk masyarakat mengetahui bagaimana roda perpolitikan di negeri ini.

Politik pencitraan tidak lagi berlaku, entah dari mana datang lagi ide baru tentang politik praktis yang membawa kelompok-kelompok seperti Agama, ras, budaya, dst. Politik ini betul-betul terbuka lebar dinegeri ini, dan sayangnya tidak ada yang peduli. Politik seperti ini akan membuka kran pengelompokan-pengelompokan, sehingga pada akhirnya nanti tidak mengherankan kita akan keluar dari semboyan ‘bhineka tunggal ika’ yang selama ini sudah mengeratkan masyarakat Indonesia. Saya khawatir jika hal ini terus dilanjutkan, jelas sudah suatu saat bangsa ini akan bubar seperti yang ramai dibicarakan.

Tidak mengherankan juga, selanjutnya akan ada jenis politik baru yang tentunya lebih kotor dari politik hari ini. dan itu akan semakin memperlebar gerbang pemecahan bangsa. Belum lagi Aceh dan Papua beberapa tahun belakangan ini terus-terus menggemakan pemisahan diri dengan Indonesia. Jika kesadaran berbangsa dan negaranya masih tetap tidak ada, maka kita perlu bersiap-siap mengemas surat-surat kita untuk negara baru kita, atau menjadi budak ketika penjajah gaya baru masuk menguasai negeri ini.

Mari kita kembali ke Pancasila dan UUD 1945 yang sebenarnya. Mari tumbuhkan kesadaran patriotisme dan nasionalisme negara. Itu satu-satunya harapan untuk mempertahankan negeri yang dimerdekakan diatas lautan darah dan keringat ini.

Penulis : Muh Fahrurozi
×
Berita Terbaru Update